FIKIH PERNIKAHAN DALAM TAFSIR ADHWA’ AL-BAYAN


Oleh: Muh. Nashirudin

Abstrak: Tulisan ini mendeskripsikan pemikiran hukum Muhammad al-Amin asy-Syinqithi dalam tafsir Adhwa’ al-Bayan, terutama dalam bidang hukum keluarga, khususnya dalam masalah nikah mut’ah, menikahi wanita yang berzina, dan menikahi wanita kitabiyah. Tafsir Adhwa’ al-Bayan tergolong sebagai tafsir yang dideklarasikan oleh asy-Syinqithi sebagai tafsir yang menggabungkan antara metode tekstual dengan kontekstual, antara tafsir bi al-ma’tsur dengan tafsir bi ar-ra’y, walaupun nampak memiliki kecenderungan lebih pada tafsir bi al-ma’tsur; memahami dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan menghubungkannya dengan ayat yang lain, dengan hadits, atsar sahabat, maupun dengan kupasan kebahasaan. Setelah mendeskripsikannya, pemikiran hukumnya kemudian dikomparasikan dengan pemikiran ulama lain untuk melihat posisi pemikirannya diantara pemikiran ulama lainnya. Pemikiran hukumnya akan diletakkan dalam kerangka metode tafsir yang dipakainya untuk melihat konsistensinya dalam menerapkan metode tafsirnya tersebut dalam pemikiran hukum. Dalam tiga masalah yang diteliti, asy-Syinqithi cenderung mengikuti pendapat mayoritas ulama, baik berkaitan dengan nikah mut’ah, menikahi wanita yang berzina, maupun menikahi wanita kitabiyah .

Kata Kunci: metode tafsir, nikah mut’ah, wanita kitabiyah, wanita yang berzina

 

Pendahuluan

Allah menciptakan manusia untuk memakmurkan dunia ini, “menundukkan” baginya seluruh isi bumi untuk terus menjaga eksistensinya sampai hari akhir kelak. Karena manusia adalah unsur utama bagi keberlangsungan alam dan semua isinya, dan eksistensi manusia ini akan tetap terjaga dengan adanya perkawinan di antara manusia, maka Allah telah meletakkan hukum-hukum yang mengatur bagi terjaganya eksistensi manusia secara baik, sesuai dengan fitrahnya, dengan dasar pelaksanaan tanggung jawab dan kewajiban serta cinta dan kasih sayang. Hukum-hukum ini, yang kemudian dinamakan Hukum Keluarga Islam/Hukum Perdata Islam (al-Ahwal asy-Syakhshiyah) secara garis besar dapat ditemukan dalam al-Qur’an sebagai sumber utama dan pertama dalam penetapan hukum Islam.

Al-Qur’an sebagai sumber utama dan petunjuk bagi kehidupan umat manusia mengandung berbagai hukum yang meliputi berbagai sisi dalam kehidupan manusia, baik sosial kemasyarakatan, politik, ekonomi, pemerintahan, dan juga dalam masalah pernikahan. Penggalian hukum yang berkaitan dengan Hukum Keluarga dan terutama pernikahan telah dilakukan oleh para ulama Islam dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang tafsir. Tulisan ini hendak menelusuri beberapa pemikiran hukum tentang pernikahan yang ada dalam sebuah karya tafsir, yakni Tafsir Adhwa’ al-Bayan karya Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah deskriptif komparatif. Pemikiran tentang hukum pernikahan dalam tafsir Adhwa’ al-Bayan dapat ditemukan dengan menelusuri tema-tema pernikahan yang ada di dalamnya, kemudian dideskripsikan dan dikomparasikan dengan pendapat tokoh lain dalam bidang fikih dan tafsir. Untuk membatasi pembahasan agar tidak terlalu panjang lebar, tulisan ini hanya akan membahas tiga permasalahan; nikah mut’ah, menikahi wanita yang berzina, dan menikahi wanita kitabiyah.

 

Biografi Singkat Muhammad al-Amin asy-Syinqithi

Muhammad al-Amin lahir di Tanbeh, propinsi Kifa, Syinqith pada tahun 1325 H (1907 M). Syinqith adalah Mauritania saat ini dan menjadi laqab para ulama Mauritania yang dikenal dengan Syanaqithah (ulama-ulama Syinqithi). Ia berasal dari sebuah keluarga pecinta ilmu dan terhitung kaya. Ayahnya meninggal ketika usianya masih belia. Ia telah berhasil menghafalkan al-Qur’an pada pamannya ketika umurnya 10 tahun. Setelah itu, ia belajar tentang rasm mushhaf ‘Utsmani, tajwid dan tilawah. Ia belajar dari istri pamannya pelajaran sastra Arab, baik nahwu, sharf, nasab dan silsilah Arab, sirah, sejarah. Sedangkan fikih madzhab Maliki, ia belajar ke putra pamannya. Dan semuanya dijalaninya hingga ia berumur 16 tahun.[1] Ia terus mendalami berbagai keilmuan seperti balaghah, tafsir dan hadis ke beberapa ulama yang ada di wilayahnya saat itu.

Pada sekitar tahun 1367 H/1947 M ia melakukan perjalanan darat menuju Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji dengan niat untuk dapat kembali lagi ke negaranya. Akan tetapi, sesampainya di Arab Saudi ia memutuskan untuk menetap di sana. Di antara sebabnya adalah pertemuannya dengan dua orang ulama di Arab Saudi, Abdullah az-Zahim dan Abdul Aziz bin Shalih yang memperkenalkannya pada madzhab Hambali dan manhaj salaf. Ia kemudian melakukan diskusi tentang berbagai persoalan fikih dan akidah yang semakin memantabkannya untuk menetap di Arab Saudi. Dan inilah awal mula ia dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai bidang keilmuan; fikih, tafsir, hadis, bahasa dan sebagainya yang memberinya kesempatan untuk dipercaya sebagai salah seorang pengajar tafsir di Masjid Nabawi.[2]

Aktifitas ilmiah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi sudah dimulai sejak ia berada di negaranya. Ia adalah salah seorang anggota Lajnah ad-Dima’ di Syinqith, sebuah lembaga yang memberikan keputusan akhir untuk dilaksanakan atau tidaknya eksekusi hukuman mati atau qishash. Ketika ia melakukan perjalanan darat untuk haji, ia singgah di berbagai wilayah untuk memberikan ceramah dan pengajaran. Ada sekitar 16 daerah mulai dari Mauritania hingga Sudan yang ia singgahi untuk memberikan pengajaran.[3]

Saat menjadi pengajar tafsir al-Qur’an di Masjid Nabawi, asy-Syinqithi menyelesaikan penafsiran seluruh al-Qur’an sebanyak dua kali dan meninggal dunia sebelum menyelesaikan yang ketiga kalinya. Aktifitas ini pada awalnya dijalaninya setiap hari selama satu tahun. Akan tetapi, ketika ia mulai menjadi pengajar di Fakultas Syari’ah dan Bahasa di Riyadh, ia hanya menjalani pengajaran tafsir al-Qur’an di Masjid Nabawi pada liburan musim panas. Ini dijalaninya mulai tahun 1371 H /1951 M dan berlanjut hingga tahun 1381 H/1961 M saat ia menjadi pengajar di Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) di Madinah. Dan sejak tahun 1385 H/1965 M ia hanya mengajarkan tafsir al-Qur’an di Masjid Nabawi di bulan Ramadhan. Selain itu, ia juga mengajar tafsir al-Qur’an di Dar al-‘Ulum di Madinah pada tahun 1369-1370 H/1949-1950 M.[4]

Sebagai pengajar di Universitas Islam di Madinah, asy-Syinqithi mengajar mata kuliah tafsir, ushul fikih, dan juga adab al-bahts wa al-munadzarah selama 12 tahun hingga ia meninggal di tahun 1393 H/1973 M.[5] Keterlibatan asy-Syinqithi dalam pengajaran di Universitas Islam Madinah menjadikannya berperan lebih besar dalam penyebaran keilmuan dengan jaringan yang lebih besar. Hal ini karena mahasiswa di Universitas Islam Madinah tidak hanya terdiri dari mahasiswa Arab Saudi, akan tetapi dari seluruh penjuru dunia. Perluasan jaringan keilmuannya di dunia Islam ini juga semakin terasa saat tahun 1375 H/1955 M ia menjadi utusan Universitas Islam Madinah ke 10 negara Islam mulai dari Sudan hingga tanah kelahirannya, Mauritania selama hampir dua bulan.[6]

Selama masa hidupnya, asy-Syinqithi telah menghasilkan berbagai karya ilmiah, baik saat ia masih berada di tanah kelahirannya maupun saat ia sudah menetap di Arab Saudi. Di antara karyanya adalah:

  1. Khalish al-Juman yang berisi tentang silsilah atau nasab Arab. Karya ini dihasilkannya saat ia masih remaja.
  2. Rajaz dalam fikih Maliki yang berkaitan dengan bab jual beli, terdiri dari ribuan bait.
  3. Alfiah dalam Ilmu Manthiq.
  4. Nadzm Fara’idh.
  5. Man’ Jawaz al-Majaz fi al-Munazzal li at-Ta’abbud wa al-I’jaz yang berisi tentang pandangannya bahwa majaz tidak boleh diberlakukan dalam ayat-ayat tentang Asma’ wa ash-Shifat.
  6. Adab al-Bahts wa al-Munadzarah. Karya ini dijadikan sebagai buku pegangan perkuliahan dalam mata kuliah yang sama yang diajarkannya di Universitas Islam Madinah.
  7. Daf’ Iham al-Idhthirab ‘an Ayi al-Qur’an yang berisi tentang penyelesaian ayat-ayat al-Qur’an yang nampak saling bertentangan.
  8. Mudzakkirah al-Ushul ‘ala Raudhah an-Nadzir yang berisi penjelasan (syarh) kitab Raudhan an-Nadzir dalam bidang Ushul Fikih. Ia berusaha memadukan Ushul Fikih dalam madzhab Hambali, Maliki dan Syafi’i dalam karya ini. Kitab ini juga menjadi pegangan dalam mata kuliah Ushul Fikih di Fakultas Syari’ah dan Dakwah Universitas Islam Madinah.
  9. Rihlah al-Hajj ila Baitillah al-Haram. Karya ini adalah kumpulan jawaban asy-Syinqithi terhadap berbagai persoalan yang disampaikan padanya selama masa perjalanannya dari Mauritania ke Arab Saudi untuk haji. Persoalan yang disampaikan meliputi tafsir, hadis, fikih, sastra, bahasa, akidah, manthiq, sejarah dan bahkan ilmu alam.
  10. Adhwa’ al-Bayan yang merupakan karya terbesarnya dalam bidang tafsir yang terdiri dari 7 juz. Hanya saja ia baru menyelesaikannya hingga akhir surat Al-Mujadilah. Dan muridnya, Athiyyah Muhammad Salim, menyelesaikan tafsir ini hingga akhir surat an-Nas.

Selain karya-karya tersebut, asy-Syinqithi juga menghasilkan beberapa makalah dalam berbagai bidang, yaitu fikih, tafsir, hadis, akidah, ushul fikih dan juga bahasa. Ceramah-ceramahnya juga tersimpan dengan baik, baik berupa kaset, maupun CD. Selain itu, ia juga telah berperan besar dalam menghasilkan para tokoh dan ulama besar di dunia Islam yang perannya masih terasa hingga saat ini.[7]

 

Metode Tafsir dan Fiqh asy-Syinqithi dalam Adhwa’ al-Bayan

Melalui penafsirannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan terutama ayat-ayat hukum yang menjadi fokus dalam tulisan ini, dan juga penjelasan singkatnya atas metode yang dipakainya dalam penafsiran al-Qur’an, dapat diketahui bahwa dalam menafsirkan al-Qur’an, asy-Syinqithi menggunakan dua metode pokok, yakni metode literer/naqli (al-manhaj an-naqli) dan metode rasional/‘aqli (al-manhaj al-‘aqli). Metoder naqli yang dimaksud dalam hal ini adalah metode penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan al-Qur’an, al-Hadits dan Ijma’. Sedangkan metode ‘aqli yang dimaksud dalam hal ini adalah penggunaan metode-metode rasional dalam penafsiran al-Qur’an seperti qiyas, analisis kebahasaan dan ushul fikih.

Mengenai metode penafsiran naqlinya, ia mengatakan dalam pendahuluan tafsirnya:

“…. واعلم أن من أهم المقصود بتأليفه أمران: أحدهما بيان القرأن بالقرأن لإجماع العلماء على أن أشرف أنواع التفسير وأجلها تفسير كتاب الله بكتاب الله, إذ لا أحد أعلم بمعنى كلام الله من الله جل وعلا…”[8]

 

Hal ini menunjukkan bahwa asy-Syinqithi berusaha untuk menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. Dan ini adalah metode yang juga dijalankan oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para ulama setelahnya yang dikenal dengan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an. Hal ini karena terkadang suatu ayat turun di satu tempat secara mujmal, atau muthlaq atau ‘amm, dan ditemukan penjelasannya secara mubayyan, muqayyad dan mukhashshash di tempat yang lain.[9]

Misal dalam hal ini adalah saat asy-Syinqithi membahas pernikahan antara muslim dengan non muslim. Ia menegaskan tentang makna musyrik dan ahl al-kitab dalam surat al-Baqarah: 22 dengan menghadirkan surat al-Ma’idah:5, al-Bayyinah: 1 dan 6, al-Baqarah: 105, dan at-Taubah: 30-31.[10]

Selain itu, asy-Syinqithi juga menafsirkan al-Qur’an dengan Hadis. Ia mengatakan;

“…واعلم أن مما التزمنا في هذا الكتاب المبارك أنه إن كانت للأية الكريمة مبين من القرأن غير واف بالمقصود من تمام البيان فإنا نتمم البيان من السنة من حيث إنها تفسير للمبين…”[11]

 

Asy-Syinqithi terhitung sangat banyak mengutip hadis untuk menguatkan penjelasan atas sebuah ayat, menafsirkannya ataupun menjadikannya sebagai dalil dalam menentukan sebuah hukum. Bahkan sebagian besar dalil yang disampaikan oleh asy-Syinqithi dalam tafsir ayat-ayat hukum adalah hadis. Saat menafsirkan surat al-Baqarah: 229, ia berbicara tentang talak tiga dengan satu lafadz dan mengemukakan pendapat para ulama yang menyatakan keabsahan dan tidaknya, dan perdebatan antara ulama’ tentang masalah tersebut. Dengan panjang lebar, ia membahas masalah ini dengan menyebutkan banyak hadis yang menguatkan kedua pendapat, kemudian mentarjih antar pendapat tersebut dengan menyebutkan kelemahan dan kekuatan masing-masing pendapat.[12]

Selain itu, asy-Syinqithi juga sering mengutip ijma’ dan kesepakatan para ulama atas sebuah permasalahan hukum untuk menguatkan penjelasannya setelah mengutip ayat al-Qur’an atau hadis. Misalnya adalah saat ia membahas masalah kafarah dzihar.[13]

Mengenai metode ‘aqli atau rasional yang dipakai, asy-Syinqithi pada dasarnya bertumpu pada beberapa sumber, antara lain ushul fiqh dan kaidah fiqhiyyah, bahasa, dan penalaran murni. Hanya saja, sumber-sumber ini digunakan untuk menguatkan metode naqli, memperjelas makna yang ada atau digunakan saat tidak ada nash yang jelas dalam masalah yang dibahas.

Tentang metodenya dalam masalah fiqh, ia mengatakan dalam pendahuluan tafsirnya tentang tujuannya dalam mengarang tafsir:

“…بيان الأحكام الفقهية في جميع الأيات المبينة –بالفتح- في هذا الكتاب, فإننا نبين ما فيها من الأحكام وأدلتها من السنة, وأقوال العلماء في ذلك, ونرجح ما ظهر لنا أنه الراجح بالدليل من غير تعصب لمذهب معين ولا لقول قائل معين, لأننا ننظر إلى ذات القول لا إلى قائله, لأن كل كلام فيه مقبول ومردود إلا كلامه صلى الله عليه وسلم, ومعلوم أن الحق حق ولو كان قائله حقيرا.”[14]

 

Karena Adhwa’ al-Bayan adalah kitab dalam bidang tafsir, dan bukan dalam bidang fikih, maka tentu saja tidak disusun dengan urutan bab-bab dalam fikih. Asy-Syinqithi berbicara tentang masalah hukum apabila ia melewati ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum (ayat al-ahkam). Hanya saja, saat ia melewati ayat-ayat hukum dan berbicara tentang masalah fikih, ia membuat urutan-urutan pembahasan secara baik dan detil. Saat berbicara tentang masalah dzihar misalnya, ia membuat bab tersendiri tentang dzihar, membagi pembahasannya dalam 17 masalah, dan membagi beberapa masalah yang ada dalam beberapa cabang masalah (far’). Dan itu dilakukannya dalam masalah-masalah yang lain.

Ketika berbicara dalam sebuah masalah yang menimbulkan banyak perbedaan pendapat, asy-Syinqithi selalu menuturkan berbagai pendapat yang ada, menyebutkan dalil-dalil yang dipakai oleh setiap kelompok, dan kemudian melakukan perbandingan antar dalil (munaqasyah al-adillah). Jika perbedaan tidak begitu kuat, ia hanya menyebutkan perbedaan antar ulama dan dalil masing-masing tanpa melakukan perbandingan antar dalil. Dalam menjelaskan perbedaan pendapat, sering sekali ia mengutip pendapat para ulama dan member sedikit komentar atas perbedaan tersebut sekedar menjelaskan kelemahan atau keunggulan satu pendapat atau mentarjih pendapat yang dianggapnya kuat.

Hanya saja, dalam menjelaskan pendapat dalam beberapa madzhab, ia seringkali mendahulukan pendapat Imam Malik. Hal ini menunjukkan bahwa ia memang lebih cenderung pada madzhab Maliki, madzhab yang pernah dianutnya saat ia belum berpindah ke Arab Saudi. Akan tetapi, ia tidak fanatik (ta’ashshub) pada madzhab Maliki. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah saat ia menjelaskan perbedaan ulama tentang makna al-qur’dan masalah khulu’.[15]

 

Fikih Pernikahan asy-Syinqithi

  1. Nikah Mut’ah

Nikah Mut’ah adalah akad antara seorang laki-laki dengan perempuan untuk menikah dalam waktu tertentu –biasanya dibatasi sesuai kesepakatan, baik lama maupun sebentar seperti sehari, satu minggu, satu bulan dsb- dengan mahar yang ditentukan.[16] Madzhab Syi’ah menamakan nikah mut’ah dengan “az-ziwaj al-munqathi’”, sedangkan nikah yang biasa dilakukan tanpa dibatasi waktu dinamakan “az-ziwaj ad-daim”.[17]

Perbedaan pendapat tentang hukum nikah mut’ah memang sudah ada sejak masa lampau. Sebagian besar sahabat Nabi dan para ulama mengharamkan nikah mut’ah. ‘Umar ibn al-Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib, Ibn ‘Umar, Ibn Mas’ud, Ibnu Zubair adalah diantara sahabat yang mengharamkannya.[18] Imam-imam madzhab empat juga mengaramkannya. Termasuk yang mengharamkannya adalah al-Auza’i dan al-Laits.[19]

Diantara dalil yang dipakai dalam hal ini adalah; Pertama, al-Qur’an surat al-Mu’minun 5-7:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)

 

Wanita yang dimut’ah tidak tergolong sebagai istri dan juga bukan budak sehingga orang yang melakukan nikah mut’ah termasuk kategori orang-orang yang tercela (malumum) dan melampaui batas (‘adun) karena menjaga kemaluan tidak dengan istri atau budak sebagaimana yang ada dalam ayat di atas.[20] Dalil kedua, hadis Rasulullah:

-عن علي أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن نكاح المتعة يوم خيبر وعن لحوم الحمر الأهلية   [21]

-عن الربيع بن سبرة عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى يوم الفتح عن متعة النساء

-عن الربيع بن سبرة الجهني أن أباه حدثه أنه كان مع رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال:يا أيها الناس إني قد كنت أذنت لكم في الاستمتاع من النساء وإن الله قد حرم ذلك إلى يوم القيامة فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيله ولا تأخذوا مما آتيتموهن شيئا[22]

 

An-Nawawi mengatakan bahwa hadis di atas menunjukkan bahwa keharaman dan kebolehan nikah mut’ah terjadi dua kali. Nikah mut’ah diperbolehkan sebelum perang Khaibar, kemudian diharamkan saat perang Khaibar, kembali dihalalkan saat fath Makkah, dan kemudian diharamkan untuk selamanya.[23]

Selain itu, nikah mut’ah juga bertentangan dengan tujuan utama disyari’atkannya pernikahan, yakni menghasilkan keturunan dan rumah tangga yang baik. Nikah mut’ah lebih mirip dengan zina karena hanya bertujuan untuk memenuhi syahwat atau istimta’ dan sangat merugikan wanita dan anak-anak karena menjadikan wanita bagaikan barang dagangan yang dapat berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain dan menjadikan anak-anak tidak mendapatkan rumah tempat mereka menetap dan mendapatkan pendidikan yang selayaknya.[24]

Pendapat yang kedua adalah pendapat yang membolehkan nikah mut’ah. Pendapat ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya adalah Ibn ‘Abbas, Abu Sa’id al-Khudri, Jabir, Asma’ bint Abi Bakr, Ibnu Mas’ud dan beberapa sahabat yang lain. Ahmad bin Hambal dalam satu riwayat juga termasuk yang membolehkannya.[25] Madzhab Syi’ah terkenal sampai saat sekarang sebagai salah satu madzhab yang membolehkan dan mempraktekkan nikah mut’ah.[26] Diantara dalil yang dipakai dalam hal ini adalah: Pertama, al-Qur’an;

{ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً } (النساء: 24)

Kata “istimta’” dalam ayat tersebut bermakna nikah mut’ah karena walaupun makna asalnya adalah intifa’ wa iltidzadz (mengambil manfaat dan menikmati), hanya saja dalam kebiasaan syar’i (‘urf asy-syar’i) sudah bermakna akad nikah mut’ah berdasarkan pada tema yang dibahas saat turunnya ayat ini.[27] Kedua, riwayat dalam qira’ah Ibn Mas’ud dan Ubay bin Ka’b:

(فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى)[28]

Qira’ah ini, jika tidak dianggap sebagai al-Qur’an, maka termasuk dalam kategori tafsir sahabat, menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan istimta’ dalam ayat adalah nikah mut’ah. Ketiga, hadis Rasulullah menunjukkan bahwa beliau membolehkannya dan bahwasannya kebolehan itu tidak dihapus.[29] Tidak dihapus (naskh) nya hokum kebolehan nikah mut’ah ini dikuatkan dengan riwayat dari ‘Umar ibn al-Khaththab;

عَنْ جَابِرٍ ، قَالَ : مُتْعَتَانِ كَانَتَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَنَهَانَا عَنْهُمَا عُمَرُ ، فَانْتَهَيْنَا[30]

قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : متعتان كانتا على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم أنا أنهي عنهما وأعاقب عليهما متعة النساء ومتعة الحج.[31]

Riwayat ini menunjukkan bahwa larangan nikah mut’ah adalah dari ‘Umar bin al-Khaththab, dan bukan dari Rasulullah.[32]

Mengenai hukum nikah mut’ah ini, asy-Syinqithi membahasnya di tiga tempat, yaitu ketika menafsirkan surat an-Nisa’: 24, al-Mu’minun: 5-7, dan al-Ma’arij: 29-31.

Ketika menafsirkan surat an-Nisa’: 24, asy-Syinqithi mengatakan bahwa ayat diturunkan berkaitan dengan nikah muabbad, bukan nikah mut’ah, karena yang dimaksudkan dengan mut’ah dalam ayat ini adalah mahar. Penafsiran ini dikuatkan oleh beberapa ayat yang lain, yakni an-Nisa’: 21, an-Nisa’: 4, dan al-Baqarah: 229.[33] Kata ujur yang ada dalam ayat 24 an-Nisa’ juga tidak dapat dimaknai upah dalam nikah mut’ah, akan tetapi bermakna mahar sebagaimana yang ada dalam ayat 25 surat an-Nisa’:[34]

{فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ }

Mengenai qira’ah Ibn Mas’ud dan Ubay bin Ka’b, asy-Syinqithi mengemukakan tiga jawaban sebagai bantahan berdalil dengan itu, yaitu; Pertama, qira’ah tersebut jelas bukan merupakan al-Qur’an. Ulama’ ushul fikih menyatakan bahwa apa yang dibaca seorang sahabat sebagai al-Qur’an dan ternyata bukan termasuk al-Qur­’an, maka bacaan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai dalil karena sudah gugur dari asalnya. Kedua, jika qira’ah tersebut dianggap sebagai hadits ahad atau penafsiran sahabat sehingga layak dijadikan sebagai dalil, maka itupun tertolak oleh dalil yang lebih kuat dari qira’ah tersebut yaitu hadits-hadits lain yang shahih dan secara jelas menyatakan bahwa Nabi sudah melarangnya hingga hari kiamat. Ketiga, jikapun ayat 24 an-Nisa’ menunjukkan tentang kebolehan nikah mut’ah, maka kebolehan tersebut telah dihapus (naskh) sebagaimana tersebut dalam berbagai hadis Rasulullah.[35]

Pendapat asy-Syinqithi yang merupakan pendapat Jumhur Ulama lebih kuat dari sisi dalil dan lebih sesuai dengan maqashid asy-syari’ah. Ayat 24 an-Nisa’, jika dihubungkan dengan runtutan ayat sebelumnya, sama sekali tidak berhubungan dengan nikah mut’ah, akan tetapi lebih berkaitan dengan kewajiban suami untuk memberikan mahar secara penuh jika sudah sudah dukhul. Selain itu, nikah mut’ah juga bertentangan dengan maksud utama dari pernikahan, yaitu terciptanya sebuah keluarga yang penuh dengan kasih sayang (mawaddah wa rahmah), dan menjadikan masing-masing pasangan tenteram dengan pasangannya (sakinah) sebagaimana yang ada dalam surat ar-Rum: 21.

  1. Menikahi wanita pezina

Diantara persoalan yang menjadi kontroversi dalam persoalan pernikahan adalah hukum menikahi wanita yang berzina (az-zaniyah). Ada dua pendapat yang berkaitan dengan hal ini. Pendapat Pertama, tidak dibolehkan menikahi wanita yang berzina hingga ia bertaubat. Pendapat ini diriwayatkan dari Qatadah, Ishaq bin Rahawaih dan Ibn ‘Ubaid, merupakan pendapat dalam Madzhab Hambali, dan Dhahiri.[36] Ibnu Taimiyah dan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah juga menganut pendapat ini.[37] Ayat al-Qur’an yang dijadikan dalil dalam hal ini adalah surat an-Nur: 3, al-Baqarah: 5:

{الزَّانِي لا يَنْكِحُ إلا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ}

}وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ{

 

Kata nikah dalam ayat pertama bermakna akad ataupun pernikahan sehingga ayat tersebut dipahami bahwa seorang laki-laki yang menikahi wanita pezina, apabila dia seorang muslim, maka ia juga pezina, dan jika dia bukan seorang muslim, maka dia adalah kafir. Wanita yang menikahi laki-laki pezina, jika ia seorang muslimah, maka ia juga pezina, dan jika bukan seorang muslimah, berarti ia seorang kafir. Sedangkan ayat kedua menjadi dalil bahwa Allah menjadikan ‘iffah sebagai syarat yang harus ada bagi calon pengantin laki-laki dan perempuan. Hal ini juga dikuatkan dengan surat an-Nisa’: 25. Karena seorang pezina bukan orang yang memiliki sifat ‘iffah, maka diharamkan untuk menikahinya.[38]

Hadis-hadis yang menerangkan sebab diturunkannya surat an-Nur: 3 juga menguatkan pendapat bahwa menikahi wanita pezina haram hukumnya.[39]

Pendapat kedua, boleh menikahi wanita pezina. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas sahabat dan ahli fikih. Diantaranya adalah Abu Bakr, ‘Umar, Ibn ‘Abbas, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Umar, Mujahid, Sulaiman bin Yasar dan Sa’id bin Jubair.[40]

Diantara dasar yang dipakai dalam hal ini adalah keumuman ayat 23 surat an-Nisa’ yang berbicara tentang wanita-wanita yang haram untuk dinikahi, dan wanita yang berzina tidak termasuk dalam kategori yang diharamkan. Kata “nikah” yang ada dalam surat an-Nur, yang dijadikan dasar untuk keharaman menikahi wanita yang berzina, harus dimaknai dengan “al-wath’u” atau zina itu sendiri, karena seorang laki-laki yang berzina hanya bisa melakukan perbuatannya dengan wanita yang berzina atau orang musyrik yang tidak mengharamkan perbuatan zina. Pemahaman seperti, misalnya, diriwyatkan oleh Ibnu Abbas.[41] Selain itu, wanita muslim yang berzina jelas diharamkan untuk laki-laki musyrik, dan laki-laki muslim yang berzina juga haram untuk wanita musyrik. Ini menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud dengan kata “nikah” dalam surat an-Nur adalah “al-wath’u” dan bukan akad nikah, karena tidak mungkin seorang laki-laki mukmin yang berzina dilarang akad nikah dengan wanita mukmin yang menjaga diri (‘afifah).[42]

Dalam menanggapi persoalan ini, asy-Syinqithi mengatakan bahwa ayat an-Nur ini adalah salah satu ayat yang paling sulit penafsirannya. Jika kata nikah dalam ayat dimaknai akad nikah, maka tidak sesuai dengan penyebutan kata musyrikah dan musyrik. Sedangkan bila kata nikah dimaknai dengan al-wath’u, maka tidak sesuai dengan berbagai hadis yang berkaitan dengan ayat ini. Oleh karena itulah, asy-Syinqithi mengatakan bahwa ia tidak menemukan jalan keluar atas hal ini kecuali dengan agak sedikit “memaksakan”, yakni dengan menggunakan lafal yang musytarak pada dua makna yang dimilikinya atau salah satu dari beberapa makna yang ada.[43] Kata nikah, menurut asy-Syinqithi, termasuk kata yang musytarak yang bisa bermakna al-wath’u dan al-at-tazwij. Jika lafal musytarak dibawa pada dua makna yang dimilikinya, maka kata nikah dimaknai dengan al-wath’u ketika disebutkan lafal musyrik dan musyrikah, dan dimaknai dengan at-tazwij atau al-‘aqdu saat bertemu dengan lafal yang lain.[44] Hal inilah yang dikatakan asy-Syinqithi sebagai “memaksakan” karena ia berusaha memadukan antara dua pendapat yang ada dengan memberlakukan dua makna nikah dalam satu ayat.

  1. Menikahi Wanita Kitabiyah

Persoalan pernikahan antara muslim dengan non muslim merupakan persoalan yang sudah ada sejak masa awal Islam dan menjadi persoalan yang tetap layak dibicarakan sampai saat ini. Hal ini karena adanya interaksi antara muslim dan non muslim dalam berbagai bidang kehidupan; ekonomi, politik, sosial, termasuk dalam masalah pernikahan.

Persoalan penikahan antara muslim dengan non muslim ini terbagi dalam dua persoalan, pertama, pernikahan antara muslim laki-laki atau perempuan dengan musyrik laki-laki atau perempuan dan pernikahan antara perempuan muslim dengan laki-laki ahl al-kitab yang disepakati oleh sebagian besar ulama akan keharamannya dan kedua pernikahan antara laki-laki muslim dengan wanita ahl kitab (kitabiyah) yang diperselisihkan para tokoh akan hukumnya dan dibahas dalam tulisan ini. Ada dua pendapat yang berkaitan dengan hukum menikahi wanita kitabiyah.

Pertama, kebolehan menikahi wanita kitabiyah. Ini adalah pendapat mayoritas sahabat dan ulama’ salaf. Bahkan sebagian ulama’ mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama’ masa lampau tentang kebolehannya, kecuali riwayat dari Ibnu ‘Umar yang memakruhkannya.[45] Diantara dalil yang dipakai dalam hal ini adalah ayat al-Qur’an surat al-Ma’idah: 5 yang secara jelas membolehkan seorang muslim menikahi wanita kitabiyah yang muhshanah sebagaimana kebolehan menikahi wanita mukmin yang muhshanah.[46]

Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Auf pernah mendengar Rasulullah bersabda tentang persoalan orang Majusi;

سنوا بهم سنة أهل الكتاب غير ناكحي نسائهم ولا أكلي ذبائحهم[47]

Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk menyamakan persoalan orang Majusi dengan ahl al-Kitab, kecuali dalam kebolehan menikahi wanita-wanita mereka dan kehalalan makanan mereka. Ini menegaskan bahwa wanita ahl al-Kitab halal dinikahi oleh laki-laki muslim dan makanan mereka halal untuk dimakan orang muslim.

Selain itu, beberapa sahabat juga diriwayatkan menikahi wanita ahl al-Kitab dan tidak ada seorangpun diantara mereka yang melarang dan mengingkarinya, diantaranya adalah ‘Utsman bin ‘Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Hudzaifah ibn al-Yaman.

Kedua, keharaman menikahi wanita kitabiyah. Pendapat ini diriwayatkan dari Syi’ah Imamiyah dan Zaidiyyah, dan juga dari sahabat Ibn ‘Umar.[48] Dasar yang dipakai dalam hal ini adalah ayat 221 surat al-Baqarah yang mengharamkan seorang mukmin laki-laki atau perempuan menikah dengan laki-laki atau perempuan musyrik. Dan ahl al-Kitab termasuk dalam kategori musyrik karena menjadikan Isa al-Masih sebagai Tuhan atau anak Tuhan dan juga menjadikan ‘Uzair sebagai anak Tuhan.

Ketika ditanyakan kepada Ibn ‘Umar tentang hukum menikahi wanita Nasraniah dan Yahudian, ia berkata;

إن الله حرم المشركات على المسلمين, ولا أعلم من الشرك شيئا أكبر من أن تقول ربها عيسى أو عبد من عباد الله. [49]

Selain itu, ‘Umar ibn al-Khaththab juga diriwayatkan memerintahkan Hudzaifah ibn al-Yaman untuk menceraikan isterinya yang Yahudiah. Jika saja pernikahan ini dibolehkan, tentunya ‘Umar tidak akan melarangnya.[50]

Muhammad al-Amin asy-Syinqithi membahas permasalahan ini ketika menafsirkan ayat 221 surat al-Baqarah dan ayat 32 surat an-Nur. Ketika menafsirkan ayat 32 an-Nur: وأنكحوا الأيامى منكم  ia mengatakan bahwa kata “minkum” dalam ayat tersebut menjadi dalil bahwa tidak dihalalkan menikahi wanita non muslim, yakni wanita-wanita kafir. Pemahaman seperti ini dikuatkan dengan pemahaman atas ayat 221 al-Baqarah dan ayat 10 surat al-Mumtahanah:

{وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ}

{فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ}

Ayat-ayat tersebut merupakan ayat yang bersifat umum tentang keharaman pernikahan antara laki-laki atau perempuan muslim dengan non muslim yang kemudian ditakhshihsh oleh ayat 5 surat al-Ma’idah tentang kebolehan menikahi wanita kitabiyah.[51] Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa walaupun ahl al-Kitab masuk dalam golongan musyrik, akan tetapi keharaman menikahi wanita ahl al-Kitab ditakhsish oleh ayat 5 surat al-Ma’idah sebagaimana penjelasan sebelumnya. Dasar yang dipakai oleh asy-Syinqithi untuk menggolongkan ahl al-Kitab dalam kategori musyrik adalah ayat 30-31 surat at-Taubah.[52]

Penutup

Tafsir Adhwa’ al-Bayan merupakan salah satu karya terbesar Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. Walaupun asy-Syinqithi tidak menafsirkan seluruh ayat al-Qur’an dalam tafsir ini, akan tetapi tafsir ini sudah menggambarkan metodologi yang dipakai oleh penulisnya. Tafsir ini nampak berusaha untuk menggabungkan antara metode tekstual dengan kontekstual, antara tafsir bi al-ma’tsur dengan tafsir bi ar-ra’y, walaupun nampak memiliki kecenderungan lebih pada tafsir bi al-ma’tsur; memahami dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan menghubungkannya dengan ayat yang lain, dengan hadits, atsar sahabat, maupun dengan kupasan kebahasaan.

Beberapa penafsiran yang berkaitan dengan persoalan fikih pernikahan, asy-Syinqithi, dalam Adhwa’ al-Bayan, cenderung mengikuti pendapat mayoritas ulama, baik berkaitan dengan nikah mut’ah, menikahi wanita yang berzina, maupun menikahi wanita kitabiyah. Akan tetapi, ia tetap konsisten pada metode penafsirannya dan tidak sekedar membela atau mempertahankan pendapat mayoritas ulama.

diterbitkan di http://jurnaliainpontianak.or.id/index.php/Almaslahah/article/view/124h

lihat juga di https://www.academia.edu/19991815/Fikih_Pernikahan_dalam_Tafsir_Adhwa_al-Bayan

 

DAFTAR PUSTAKA

Bukhari, al-, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987)

 

Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, (Beirut: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1958)

 

Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma’ad, (Bairut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.t.)

 

Ibn Hambal, Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hambal, (Kairo: Muassasah Qurthubah, t.t)

 

Ibn Hazm, al-Muhalla bi al-Atsar, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.)

 

Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, (Beirut: Dar al-Andalus, t.t.)

 

Ibn Qudamah, al-Mughni, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1994)

 

Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, (Riyadh: dar al-Hammami, t.t)

 

Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, (Maroko: Maktabah al-Ma’arif, t.t.)

 

Jashshash, al-, Ahkam al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.)

 

Kurki, ‘Ali bin al-Husain al-, Jami’ al-Maqashid fi Syarh al-Qawa’id, (Beirut: Muassasah Ali Bait li Ihya’ at-Turats, 1991)

 

Mardawi, al-, al-Inshaf, cet. 2, (Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, 1986)

 

Mawardi, al-, al-Hawi al-Kabir, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994)

 

Muslim, Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, t.t.)

 

Nawawi, an-, al-Majmu’, (Kairo: Dar al-Fikr, t.t.)

 

—————-, Syarh Shahih Muslim, cet. 1, (Kairo: Dar al-Hadits, 1994)

 

Qaththan, Manna’ al-, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (t.t.t: Mansyurat al-‘Ashr al-Hadits, t.t)

 

Qurthubi, al-, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (t.t.t: t.n.p., 1952)

 

Sabiq, As-Sayyid, Fiqh as-Sunnah, (Bairut: Dar al-Fikr, 1998)

 

Salim, ‘Athiyyah Muhammad, Tarjamah asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi dalam Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’ al-Bayan, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996)

 

Sarakhsi, As-, al-Mabsuth, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.t.)

 

Sudais, Abdurrahman as-, Tarjamah asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, (Riyadh: Dar al-Hijrah, 1411 H)

 

Suyuthi, as-, ad-Dur al-Mantsur, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983)

 

Syinqithi, Muhammad al-Amin asy-, Rihlah al-Hajj ila Baitillah al-Haram, (Jeddah: Dar asy-Syuruq, 1983)

 

Thabari, ath-, Jami’ al-Bayan, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1983)

 

Thabathba’i, Muhammad al-Husain ath-, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-A’lami, 1991)

 

Thahawi, ath-, Syarh Ma’ani al-Atsar, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1978)

 

Thauyan, Abdul Aziz ath-, Juhud asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi fi Taqrir ‘Aqidah as-Salaf, (Riyadh: Maktabah al-‘Abikan, 1998)

 

Thayyar, Abdullah ath-, Mansak al-Imam asy-Syinqithi, (Riyadh: Dar al-Wathan, 1996 H)

 

Usman, Muhlish, Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996)

 

Zidan, ‘Abd al-Karim, al-Mufashshal fi Ahkam al-Mar’ah wa al-Bait al-Muslim, cet. 3, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2003)

[1] ‘Athiyyah Muhammad Salim, Tarjamah asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi dalam Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’ al-Bayan, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), juz X/274, juga dalam Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Rihlah al-Hajj ila Baitillah al-Haram, (Jeddah: Dar asy-Syuruq, 1983), hlm. 14-15.

[2] Ibid. Juz X/284

[3] Abdurrahman as-Sudais, Tarjamah asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, (Riyadh: Dar al-Hijrah, 1411 H), hlm. 178.

[4] Athiyah Muhammad Salim, Tarjamah, X/286, Abdurrahman as-Sudais, Tarjamah, hlm. 69.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Lihat dalam Abdurrahman as-Sudais, Tarjamah asy-Syaikh, hlm. 213-216, Abdul Aziz ath-Thauyan, Juhud asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi fi Taqrir ‘Aqidah as-Salaf, (Riyadh: Maktabah al-‘Abikan, 1998), hlm. I/72-76, Abdullah ath-Thayyar, Mansak al-Imam asy-Syinqithi, (Riyadh: Dar al-Wathan, 1996 H), hlm. 29-30

[8] Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’, juz I/7.

[9] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (t.t.t: Mansyurat al-‘Ashr al-Hadits, t.t), hlm. 335.

[10] Lihat Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’, juz I/116

[11] Ibid., juz I/23.

[12] Ibid., juz I/129-139.

[13] Lihat ibid., juz 6/362-363.

[14] Lihat ibid., juz 1/7

[15] Lihat ibid., juz I/121, 164.

[16] Lihat dalam ‘Abd al-Karim Zidan, al-Mufashshal fi Ahkam al-Mar’ah wa al-Bait al-Muslim, cet. 3, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2003), VI/162.

[17] Lihat dalam ‘Ali bin al-Husain al-Kurki, Jami’ al-Maqashid fi Syarh al-Qawa’id, (Beirut: Muassasah Ali Bait li Ihya’ at-Turats, 1991), XIII/7-8.

[18] Ibn Qudamah, al-Mughni, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1994), VII/571-572.

[19] Lihat dalam Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, (Riyadh: dar al-Hammami, t.t), II/61, as-Sarakhsi, al-Mabsuth, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.t.), V/152, an-Nawawi, al-Majmu’, (Kairo: Dar al-Fikr, t.t.), XVI/449, Ibn Qudamah, al-Mughni, ibid., al-Mardawi, al-Inshaf, cet. 2, (Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, 1986), VIII/163.

[20] Lihat dalam al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), XI/450.

[21] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Maghazi Bab Ghazwah Khaibar dan an-Nikah Bab an-Nikah Bab Naha Rasulullah ‘an Nikah al-Mut’ah, Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987), V/1996, juga Muslim dalam Bab Nikah al-Mut’ah, Muslim, Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, t.t.), II/1027.

[22] Diriwayatkan Muslim dalam Bab Nikah al-Mut’ah, Muslim, Shahih Muslim, II/1023

[23] An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, cet. 1, (Kairo: Dar al-Hadits, 1994), V/199.

[24] As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, (Bairut: Dar al-Fikr, 1998), II/ 29.

[25] Ibnu Qudamah, al-Mughni, VII/571, Ibn Hazm, al-Muhalla bi al-‘Atsar, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.), IX/519.

[26] Mengenai kebolehannya lihat dalam al-Kurki, Jami’ al-Maqashid, XIII/7, Muhammad al-Husain ath-Thabathba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Muassasah al-A’lami, 1991), IV/279.

[27] Ibid.

[28] Lihat dalam as-Suyuthi, ad-Dur al-Mantsur, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), II/141-142, ath-Thabari, Jami’ al-Bayan, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1983), V/9.

[29] Al-Kurki, Jami’ al-Maqashid, XIII/7. Mengenai kebolehan dari Rasulullah lihat dalam Shahih Muslim bab Nikah Mut’ah dalam hadis nomor 11-14.

[30] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, (Kairo: Muassasah Qurthubah, t.t), III/325.

[31] Lihat dalam ath-Thahawi, Syarh Ma’ani al-Atsar, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1978), II/146.

[32] Al-Kurki, Jami’ al-Maqashid, XIII/8.

[33] Asy-Syinqithi, Adhwa’ al-Bayan, I/253.

[34] Ibid.

[35] Ibid. I/253-254

[36] Ibn Qudamah, al-Mughni, IX/516, al-Mardawi, al-Inshaf, I/132, Ibn Hazm, al-Muhalla, IX/63.

[37] Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, (Maroko: Maktabah al-Ma’arif, t.t.), XXXII/113, Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma’ad, (Bairut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.t.), IV/7.

[38] Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, ibid.

[39] Diantaranya diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud kitab an-Nikah bab fi Qaulihi Ta’ala; az-Zani La Yankihu illa Zaniyah, an-Nasa’i dalam Sunan An-Nasa’i kitab an-Nikah bab Tazwij az-Zaniyah, dsb

[40] Lihat dalam al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), XI/256, al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (t.t.t: t.n.p., 1952), XII/169, al-Jashshash, Ahkam al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), III/265.

[41] Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, (Beirut: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1958), III/1317. Al-Qurthubi, al-Jami’.., XII/167, Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, (Beirut: Dar al-Andalus, t.t.), V/52.

[42] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan, XVIII/59.

[43] Lihat kaidah استعمال المشترك في معنيه أو معانيه يجوز dalam Muhlish Usman, Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 65-66.

[44] Asy-Syinqithi, Adhwa’, VI/55-56

[45] Al-Qurthubi, al-Jami’, III/68, al-Jashshash, Ahkam al-Qur’an, II/324, Ibn Qudamah, al-Mughni, VII/500.

[46] ibid

[47] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), I/172, Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1993), I/289.

[48] ‘Abd al-Karim Zidan, al-Mufashshal, VII/13.

[49] Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Kitab Ath-Thalaq bab Qaulillahi Ta’ala Wala Tankihu al-Musyrikati Hatta Yu’minn, Shahih al-Bukhari, IX/416.

[50] Mengenai riwayat ini lihat dalam as-Suyuthi. Ad-Dur al-Mantsur, I/256.

[51] Asy-Syinqithi, Adhwa’, VI/146-147.

[52] Ibid., I/116.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s