Otoritas Tunggal


Otoritas tunggal,  pada umumnya dianggap bertentangan dengan demokrasi yang mengharuskan adanya pembagian kekuasaan. Oleh karena itu,  ada konsep Trias Politika yang berusaha membagi berbagai kekuasaan agar tidak terpusat pada satu pihak.
Dulu,  kita juga mengenal istilah single majority atau mayoritas tunggal ketika sebuah parpol menjadi penguasa di negeri ini yang menjadikan parpol lain seolah menjadi pelengkap adanya demokrasi semu. Tetapi,  Mayoritas tunggal,  terkadang diperlukan untuk menjamin adanya stabilitas,  terutama stabilitas politik.
Kesempatan ini,  saya tidak akan berpanjang lebar tentang otoritas tunggal dalam politik ataupun mayoritas tunggal karena saya bukan ahli di bidang itu.
Saya ingin memberikan sedikit catatan tentang pentingnya otoritas tunggal dalam penetapan awal bulan hijriah di Indonesia terutama dikaitkan dengan penetapan awal Syawal 1436 H beberapa hari yang lalu.
Setelah memberikan catatan tentang Uji Konsistensi dan Catatan Penetapan Awal Syawal, saya kembali tergerak untuk menuliskan catatan yang belum sempat saya tuliskan sebelumnya,  yakni tentang pentingnya otoritas tunggal tadi.
Dalam catatan saya kemarin,  terutama Kriteria Imkanurrukyah LAPAN yang dipakai Persis, saya mengatakan bahwa Persis tidak konsisten dengan kriteria barunya. Persis menerima begitu saja laporan rukyah walaupun hilal belum memenuhi kriteria imkan nya. Saya menduga ada campur tangan “politik” atau “penguasa” alias “pemilik otoritas” yang berada di luar Persis dalam keputusannya. Bahkan “mungkin” kekuatan itu juga yang berada di balik kebersamaan Syawal di tahun ini.
Inilah yang sebenarnya, salah satu hal,  dan bukan satu-satunya,  yang diperlukan untuk penyatuan kalender di Indonesia. Adanya kriteria yang disepakati,  MABIMSkah,  LAPAN kah,  WH kah,  atau RHI kah, asalkan sepakat untuk tunduk pada satu kekuatan dan otoritas dalam penentuan,  maka penyatuan itu bukan hal yang mustahil. Bahkan tahun ini,  kriteria yang tidak samapun bisa menyatukan perbedaan itu dengan adanya otoritas yang kuat yang ditaati. Hanya saja, kita belum tentu bisa mengharapkan hal ini terjadi lagi di masa datang. Selama belum ada penyelesaian komprehensif, potensi perbedaan masih sangat terbuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s