Catatan Rukyah Awal Syawal 1436


Sebelum Syawal kemarin,  saya membuat catatan ringan tentang Uji Konsistensi atas beberapa macam model penetapan awal bulan hijriah dan juga kriteria penetapannya.
Kementerian Agama akhirnya memutuskan 1 Syawal 1436 H jatuh padi hari Jum’at,  17 Juli 2015. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya untuk itsbat tersebut;
1. Pada awalnya,  Menteri Agama menyampaikan bahwa kondisi hilal pada tgl 29 Ramadhan sudah memenuhi kriteria Imkanurrukyah MABIMS  dari semua faktor,  baik ketinggian,  elongasi,  maupun umur hilal. Untuk itu,  jika mengacu pada kriteria tersebut,  awal Syawal jatuh pada 17 Juli,  umur Ramadhan adalah 29 hari. Hanya saja,  Kemenag ternyata tidak mencukupkan keputusannya dengan hal ini. Kemenag menambahkan bahwa itsbat didukung oleh laporan terlihatnya hilal di 3 tempat yang berbeda.
Catatan saya; Jika saja Kemenag mencukupkan diri dengan terpenuhinya kriteria imkanurrukyah,  maka penetapan awal bulan Syawal kemarin menjadi bukti konsistensinya atas kriteria yang dipakai,  terlepas dari salah dan benarnya,  atau ilmiah dan tidaknya kriteria yang dipakai. Menjadikan laporan terlihatnya hilal yang sampai sekarang belum diketahui konfirmasi bukti ilmiahnya sebagai dasar penetapan menjadikan Kemenag seolah berstandar ganda. Akan lebih baik,  jika Kemenag konsisten dengan kriteria yang disepakati. Jika merasa,  kriteria tersebut sudah tidak layak,  maka ajukan saja kriteria baru. Dengan semakin majunya dunia telekomunikasi dan informasi,  sudah selayaknya Kemenag menerima laporan rukyah hanya jika disertai bukti terlihatnya hilal yang bisa dikonfirmasi oleh seluruh masyarakat tentang keabsahannya.
2. NU konsisten dengan kriterianya dalam penetapan awal bulan Ramadhan,  Syawal dan Zulhijjah yakni rukyah. Walaupun, sekali lagi,  perlu ditingkatkan lagi prinsip diterima dan tidaknya laporan rukyah. Jika dulu,  pernah ada laporan terlihatnya hilal yang ditolak,  maka sudah saatnya hal itu diberlakukan juga jika tidak ada bukti citra hilal yang teramati yang dapat dikonfirmasi secara ilmiah oleh semua kalangan
3. Persis nampak belum konsisten dengan kriteria barunya. Hilal dalam posisi di bawah kriteria LAPAN,  tetapi Persis tetap memulai Syawal pada 17 Juli. Apalagi,  Persis juga mengorbankan konsistensi atas kriterianya berdasarkan laporan terlihatnya hilal sebagaimana poin yang saya tulis di atas. Ini semakin membuat Persis tidak konsisten,  karena jika laporan hilal seperti awal Syawal tahun ini diterima,  tidak ada gunanya lagi Persis memakai kriteria Imkanurrukyah LAPAN. Catatan saya memang hanya soal konsistensi kriteria. Ini akan berbeda jika saja Persis memang mendasarkan penetapannya pada persatuan dan kesatuan ummat,  bukan karena adanya laporan terlihatnya hilal.
4. Kita memiliki para perukyah handal di Indonesia dari berbagai kalangan. Sudah saatnya kemampuan mereka dapat diakomodasi oleh dunia Internasional dengan melaporkan keberhasilan merukyah hilal yang disertai dokumentasi kenampakannya. Sentilan salah satu pakar rukyah RHI,  Mutoha Arkanuddin dengan postingan “The Real Hilal Syawal 1436” seharusnya menjadi cambuk agar kemampuan rukyah ini benar-benar bisa dinikmati hasilnya oleh seluruh elemen masyarakat.
5. Kebutuhan akan sebuah kalender yang minimal menyatukan umat Islam di Indonesia dalam memulai bulan hijriah semakin mendesak. Sudah saatnya,  masing-masing ormas membuka diri,  meruntuhkan egoisme diri,  siap menerima gagasan lain dari luar,  dan memberikan masukan positif untuk Kementerian Agama demi sebuah penyatuan yang dapat diterima semuanya, atau mayoritas umat Islam di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s