Kriteria Imkan Ar-ru’yah Badan Hisab Rukyat (BHR) dan Persatuan Islam (Persis)



oleh: Maulina Nuril Izzati

maulina.nuril@yahoo.com

Pembimbing: Muh. Nashirudin

Abstrak

Penentuan awal bulan Kamariah menjadi permasalahan yang dihadapi umat muslim setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan belum ditemukannya kesepakatan  Sebagai contoh, Badan Hisab Rukyat (BHR) dan Persatuan Islam (Persis. Keduanya menggunakan imkan ar-ru’yah sebagai dasar penentuan awal bulan Kamariah, namun kriteria yang dipakai Badan Hisab Rukyat (BHR) berbeda dengan yang diterapkan Persatuan Islam (Persis). BHR dengan kriteria MABIMS yaitu tinggi hilal minimal 2 °, dan jarak sudut matahari dan bulan 3°, atau umur bulan minimal 8 jam, namun kriteria MABIMS ini berdasar pada data sederhana yang belum memenuhi ketentuan astronomi.

Kemudian Persis, setelah beberapa kali mengganti kriterianya, yang terbaru adalah diterapkannya kriteria T. Djamaluddin yang merupakan penyempurnaan dari kriteria LAPAN sebelumnya yaitu, beda tinggi antara bulan dan matahari 4°, jarak sudut antara bulan dan matahari 6.4°. Kriteria ini penemuan terbaru T. Djamaluddin yang didasarkan pada data-data astronomi dan penelitian ilmuan di berbagai belahan dunia.

Analisis komparatif dari data ini menunjukkan bahwa perlu adanya perbaikan kriteria MABIMS yang dipakai BHR, karena belum memenuhi ketentuan astronomi. Jika dibandingkan dengan kriteria terbaru T. Djamaluddin yang dipakai Persis, maka kriteria ini lebih baik dengan adanya dukungan data-data yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

  1. PENDAHULUAN

Pada zamannya, Nabi saw dan para sahabat menentukan masuknya bulan baru kamariah,[1]  menggunakan rukyat seperti yang  tercantum pada hadis. Praktek dan perintah Nabi saw untuk melakukan rukyat pada masa itu disertai dengan ‘illat (kuasa hukum), dapat dipahami keadaan umat pada waktu itu yang masih ummi[2] yaitu keadaan yang belum menguasai baca tulis dan ilmu hisab (astronomis). Seiring perkembangan zaman masyarakat mengenal metode lain seperti metode hisab.[3]

Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini adalah Kementrian Agama melalui BHR, menggunakan hisab dan imkan ar-ru’yah  (perhitungan dan kemungkinan hilal itu bisa dilihat). Jadi hisab tetap dipakai, tetapi mempertimbangkan data-data kenampakan hilal yang dihimpun dan ditetapkan kriterianya. Hisab diperlukan karena untuk melaksanakan perintah rukyat, para ulama melakukan hisab terlebih dahulu, untuk mengetahui seberapa tinggi hilal pada saat ijtima’  (konjungsi).[4]

Hanya saja kriteria imkan ar-ru’yah belum ada kesepakatan. Kriteria imkan ar-ru’yah ini merupakan kriteria dalam penentuan awal bulan Kamariah, yang  posisinya menjembatani antara hisab dan rukyat. Kriteria ini dipakai oleh pemerintah dalam menentukan awal bulan Kamariah dan muncul dalam penanggalan Hijriah standar yang ditetapkan, berdasarkan Musyawarah Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).[5] Di sisi lain, Persatuan Islam (Persis) juga menggunakan imkan ar-ru’yah dalam penentuan awal bulan Kamariah, setelah sebelumnya Persis memakai kriteria wujudul hilal.

Pemerintah (BHR) lebih menganalisa data-data yang masih sederhana,[6] yang secara ilmiah masih dianggap sebagai analisis yang  relatif benar. Namun berdasarkan data rukyat Kementrian Agama RI selama 30 tahun lebih banyak terdapat laporan kenampakan hilal yang masih tidak memenuhi syarat visibilitas serta kajian ilmiah.

Jika dikaji lebih lanjut teks Al Quran maupun Hadis Rasulullah yang dijadikan dasar penentuan awal bulan Kamariah, terlihat bahwa antara rukyat dan hisab tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan sinergi yang positif untuk keberhasilan dalam menentukan  awal bulan.  Seperti yang terjadi pada tahun 2006, karena perbedaan metode yang dipakai ini menyebabkan adanya perbedaan hasil dalam penentuan kapan awal dan berakhirnya Ramadan. Pemerintah dan NU yang mempunyai pengikut terbesar di Indonesia pada waktu itu belum menentukan kapan jatuhnya tanggal 1 Syawal 1427 H. Sementara Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) menetapkan Idul Fitri 1427 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober. Hal itu didasarkan pada pehitungan Dewan Hisab dan Rukyat yang menyatakan kondisi hilal (tanda pergantian bulan) bisa dilihat bila tinggi hilal mencapai 2 derajat.

Berdasar pada perhitungan Dewan Hisab dan Rukyat, Persis menetapkan Idul Fitri jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober 2006. Alasannya, ijtima’ akhir Ramadan terjadi pada hari Ahad pukul 12.14 WIB, tinggi hilal waktu magrib di Pelabuhan Ratu 0 derajat 45 menit 25 detik. Kondisi ini termasuk “adamu imkan al-ru’yah”. Hilal sudah wujud di sebagian wilayah Indonesia dengan kondisi tidak mungkin di rukyat. Kondisi ini dinilai gumma (terhalang) oleh Drs. H. Dody S Truna M.A, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Persis.[7] Penyebab terhalangnya hilal, kata Dody, bisa karena awan, hujan, atau karena tinggi hilal belum mencapai 2 derajat. Atas keputusan itu Pimpinan Pusat Persis mengintruksikan kepada seluruh pimpinan wilayah, pimpinan daerah, pimpinan cabang Persis untuk melaksanakan Idul Fitri 1427 H pada hari selasa, 24 Oktober 2006.

Yang terbaru dalam Almanak Islam Persatuan Islam, melalui hisab telah ditetapkan ijtima’ akhir Syaban 1434 H pada hari senin 8 Juli 2013, pukul 14.14. Di pelabuhan Ratu tinggi hilal waktu maghrib 0°45’58’’ dan jarak sudut bulan 4°34’24’’.  Senin, saat maghrib di wilayah Indonesia hilal belum imkan ar-ru’yah maka bulan Syaban digenapkan 30 hari, maka 1 Ramadan ditetapkan 10 Juli 2013. Namun Pemerintah belum mengumumkan jatuhnya Ramadan, dan menunggu sidang isbat.

Berdasarkan persoalan diatas, disamping implikasi perbedaan penentuan terhadap masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya, maka penulis merasa tertarik untuk mengkaji kriteria imkan ar-ru’yah  menurut Badan Hisab Rukyat (BHR) dan  Persatuan Islam (Persis) dalam penentuan awal bulan Kamariah, serta alasan pemilihan kriteria keduanya.

 

  1. DATA

Kriteria MABIMS yaitu yaitu tinggi hilal minimal 2 °, dan jarak sudut matahari dan bulan 3°, atau umur bulan minimal 8 jam tersebut berdasarkan pada analisis data sederhana yaitu data 16 September 1974, dari 3 lokasi, dengan jumlah saksi 10 orang, tanpa gangguan planet  Venus, tingginya 2,19°, jarak sudut bulan-matahari 6,8° dan umur hilal 8,08 jam.[8] Sejak tahun 1964 yang tercatat Kementrian Agama, sudah puluhan kali hilal di bawah 5° dapat dilihat di berbagai tempat. Sebagai contoh, hilal awal Syawal 1404 H yang ketinggiannya sekitar 2° dengan saat ijtima’ jam 10.18 WIB, 29 Juni 1984,[9] dapat dilihat oleh:

  1. Muhammad Arief, 33 tahun (Panitera Pengadilan Agama Pare-Pare).
  2. Muhadir, 30 tahun, (Bendahara Pengadilan Agama Pare-Pare).
  3. Abdullah Hamid, 56 tahun (Guru Agama Jakarta).
  4. Abdullah, 61 tahun (Guru Agama Jakarta).
  5. Ma’mur, 55 tahun (Guru Agama Sukabumi).
  6. Endang Effensi, 45 tahun (Hakim Agama Sukabumi)[10].

Didukung pengamatan hilal pada awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Bisa jadi menurut hisab imkan ar-ru’yah hilal tidak mungkin terlihat, namun ada kesaksian telah melihat hilal dan mereka telah disumpah, maka penetapan puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha berdasar kesaksian tersebut.

Metode penentuan awal bulan Hijriah yang dilakukan oleh Persatuan Islam telah mengalami perkembangan. Semula Persis hanya menggunakan hisab haqiqi dan tidak menggunakan rukyat  karena hisab haqiqi sudah bisa menggantikan rukyat. Pada awalnya hisab haqiqi yang digunakan Persis berdasarkan ijtima’ qablal-gurub yaitu awal bulan ditetapkan jika ijtima’ terjadi sebelum maghrib. Tapi bila ijtima’ terjadi setelah maghrib maka dilakukan istikmal.

Selanjutnya hisab yang digunakan Persis adalah hisab wujudul hilal [11](seperti yang dipakai Muhammadiyah). Karena berbagai alasan, Persis kemudian menggunakan hisab haqiqi dengan kriteria imka<n ar-ru’yah.  menggunakan kriteria kesepakatan MABIMS. Kemudian dirubah dengan kriteria yang dirumuskan oleh Prof. Dr. T. Djamaluddin pada 31 Maret 2012,[12] dengan ketentuan beda tinggi antara bulan dan matahari 4 °, jarak sudut antara bulan dan matahari 6.4°

 

 

 

  1. PEMBAHASAN
  2. Analisis Kriteria Imka<n Ar-ru’yah Badan Hisab Rukyat (BHR) dan Persatuan Islam (Persis)
  3. Badan Hisab Rukyat (BHR)

Seperti yang telah disampaikan diawal, banyak ragam kriteria penentuan awal bulan Kamariah baik di Indonesia maupun internasional, yang masing-masing memiliki dasar dan penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan. Kriteria imkan ar-ru’yah ketentuan MABIMS, untuk Badan Hisab Rukyat (BHR) adalah ketinggian hilal minimal 2°, dan jarak sudut matahari dan bulan minimal 3°, atau umur bulan minimal 8 jam. Sejak ditetapkan pada tahun 1998 dan yang terbaru pada 2011, kriteria ini belum ada perubahan yang siknifikan.

  1. Ketinggian Hilal Minimal 2°

Sejak tahun 1962 banyak kesaksian pengamatan hilal pada ketinggian sekitar 2°. Dalam hal ketinggian hilal, kriteria MABIMS 2°, dibandingkan dengan ketentuan IICP dan ketentuan T. Djamaluddin 4°, selisihnya 2°. Berdasarkan statistik kesaksian hilal di berbagai negara, IICP telah mempublikasikan temuannya di jurnal astronomi bahwa ketinggian minimal hilal dapat dirukyat adalah 4°, itupun bila jarak bulan-matahari cukup jauh jika jaraknya dekat perlu ketinggian 10,5°. Apalagi dalam kaitannya dengan penentuan awal puasa dan Idul Fitri. dilakukan rukyat di beberapa lokasi. Ketentuan 2° sangat sukar untuk terlihatnya hilal yang sebenarnya bisa terpengaruhi oleh kenampakan Venus dan Merkurius.

Cahaya hilal sangatlah lemah bila dibandingkan dengan cahaya matahari maupun cahaya senja, sehingga teramat sulit untuk bisa mengamati hilal yang masih sangat muda. Pada hilal yang sangat muda beda azimut bulan-matahari amat kecil (akibatnya jarak sudut keduanya juga kecil). Demikian pula luas hilal yang memantulkan sinar matahari. Karena dekatnya jarak sudut bulan-matahari, hilal akan terbenam beberapa saat setelah matahari terbenam.

Dan dengan tipisnya sabit hilal yang memantulkan sinar matahari perlu latar yang gelap untuk bisa mengamati hilal. Jadi mengamati hilal bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi ketentuan 2° MABIMS ini secara fisik sulit terlihat hilal termuda dan bisa jadi yang dilihat hanya ilusi ataupun sinar dari planet lain, walaupun secara metode hisab hilal sudah di atas cakrawala. Jika ternyata hilal berhasil dirukyat, maka malam itu telah masuk bulan baru. Namun besar kemungkinan besar belum dapat terlihat, dan hanya ilusi. Maka banyak peneliti yang mengoreksi kriteria tersebut.

Contohnya pada kasus 1992,  diterangkan orang pertama melapor ia melihat hilal sekejap dengan ketinggian setengah pandangan di dekat Branjanjang (bangunan perangkap udang dan ikan, di tengahnya ada lampu), warnanya merah sebesar satu jari. Yang kedua melaporkan bahwa ia melihat hilal dengan ketinggian 1.5° warna merah kekuning-kuningan selama dua menit di sebelah utara matahari sebesar satu jari. Sementara orang ketiga menyatakan melihat hilal selama lima menit dengan ketinggian 2° di sebelah utara matahari dan warna putih kebiru-biruan sebesar seperempat jari.[13] Bisa jadi yang dilihat bukan hilal, namun planet lain karena hilal tidak berwarna merah, kuning, atau biru.

Memang sukar mendeteksi apakah itu hilal sebenarnya atau efek cahaya planet lain, jika ketentuannya terlalu rendah. Selain itu, faktor perukyat juga menjadi permasalahan tersendiri. Yang menentukan terlihatnya hilal bukan hanya keberadaan dan ketinggian di atas ufuk, namun juga posisinya yang cukup jauh dari matahari.[14] Faktor ini memungkinkan praktek pelaksanaan rukyat diperhitungkan dan diantisipasi. Pengamat hilal/perukyat harus memenuhi persyaratan: Muslim dewasa yang adil (bisa dipercaya, tidak memiliki kebiasaan berbohong), disumpah, dan memiliki pengetahuan tentang hilal dan rukyat. Adapula yang berpendapat bahwa jika dengan rukyat teknologi saja hilal belum terlihat, apalagi dengan mata telanjang.

  1. Jarak Sudut Minimal 3°

Kriteria ini jika dibandingkan dengan kriteria imkan ar-ru’yah internasional sangat berbeda jauh. Dalam ketentuan jarak sudut bulan-matahari dengan limit Danjon, ketentuan jarak sudut bulan-matahari minimal 7° sedangkan milik MABIMS 3°, terdapat “jarak hampa” 4°. Dengan ketentuan Muammer Dizer yang 8°, tersisa selisih 5°. Lain lagi dengan kesepakatan para astronom modern dengan jarak sudut bulan-matahari 11,5°, semakin panjang “jarak hampa” dengan MABIMS, dengan selisih 8,5°. Dan berjarak 3,4° dengan ketentuan imkan ar-ru’yah milik T. Djamaluddin. Dari beberapa perbandingan mengenai jarak sudut bulan-matahari, terlihat bahwa ketentuan MABIMS yang terendah.

Di samping itu, penelitian teoritik menunjukkan bahwa kemampuan mata manusia untuk melihat benda langit terbatas hanya sampai keredupan 8 magnitudo dalam skala astronomi.[15] Kalaupun melihatnya dari antariksa, batas kemampuan mata manusia tidak berubah. Dengan kemampuan deteksi mata yang terbatas itu, pada jarak sudut bulan-matahari kurang dari 7°, cahaya hilal tidak akan tampak sama sekali. Bila mempertimbangkan faktor pengganggu di atmosfer bumi, syaratnya bertambah besar.[16]

  1. Umur Bulan Minimal 8°

Banyak kriteria Internasional yang mengoreksi mengenai ketentuan umur bulan. Diantaranya IICP yang diketuai Muhammadi Ilyas menetapkan hilal harus berumur lebih dari 16 jam bagi pengamat di daerah tropis, dan lebih dari 20 jam bagi pengamat di lintang tinggi. Menurut data, rekor pengamatan hilal termuda sesuai prinsip astronomi tercatat pada umur hilal 13 jam 40 menit yang teramati pada tanggal 5 Mei 1989 di Houston,[17] Amerika Serikat, hasil itu jauh di bawah kriteria umur bulan. Menurut kriteria umur bulan pada bulan Meiumur minimal kenampakan hilal dari daerah lintang tinggi 26 jam (daerah lintang lebih dari 50°), dan 16 jam (daerah lintang 30°). Di Indonesia sendiri, rekor pengamatan hilal dengan umur bulan 8,08 jam pada 16 September 1974.

Rekor lainnya yang ditulis oleh Bradley.E.Schaefer, dari observatori Cerro Tololo, Mauna Kea, dan La Palma. Dari Mauna Kea, pada 10 Desember 1996 pada umur 11,1 jam hilal bisa dilihat dengan mata telanjang. Kemudian pada 7 Februari 1997 hilal bisa terlihat pada umur 13,3 jam.[18]  Bisa disimpulkan dari beragam variasi kriteria umur bulan MABIMS jauh di bawah batas ketentuan astronomi dan secara umum belum bisa ditetapkan konsisten.

 

 

 

 

  1. Persatuan Islam (Persis)

Kriteria yang dipakai Persatuan Islam sekarang merupakan kriteria terbaru yang dirumuskan oleh T. Djamaluddin. Dengan ketentuan jarak sudut bulan-matahari 6,4° dan beda tinggi bulan-matahari 4°.

  1. Jarak Sudut Minimal 6,4°

Seiring berkembangnya ilmu astronomi, muncullah kriteria LAPAN (yang diusulkan T. Djamaluddin) untuk memperbaiki kriteria MABIMS. Kriteria LAPAN, sebagai kriteria empiris hasil analisis data laporan rukyat hilal Kementrian Agama periode 1962-1997 tanpa membedakan apakah visibilitas berdasarkan alat bantu optik (teleskop atau binokuler) maupun tidak. Hasilnya tinggi bulan mar’i bervariasi antara 2,1° hingga 8,1° saat visibilitas hilal.

Kriteria LAPAN (ketentuan umur bulan harus 8 jam, jarak sudut bulan-matahari harus 5,6°, tapi jika azimutnya <6° perlu beda tinggi yang lebih besar lagi, untuk beda azimut 0° beda tinggi harus 9°) ini didasarkan pada data yang terbatas jumlahnya (11 data, sebagai hasil reduksi 38 data) namun 3 data diantaranya diragukan karena memiliki nilai elongasi bulan matahari kurang dari batas Danjon.

  1. Djamaluddin berpendapat batas Danjon disebabkan oleh sensitivitas mata manusia sehingga memungkinkan visibilitas. Adapula yang menambahkan bahwa limit Danjon seyogyanya lebih rendah yakni 5°, sehingga ketiga data yang diragukan tadi (3°, 5°, 8°) masih memenuhi syarat. Dalam kondisi tersebut hilal dianggap bisa terlihat sebagai titik cahaya mirip bintang (bukan lengkungan cahaya).

Namun hal tersebut dipatahkan observasi Jimm Stamm (13 Oktober 2004) yang hanya bisa mengidentifikasi hilal pada 6,4°[19] dengan teleskop pada lokasi berelevasi tinggi (+2.210 m dpl), sementara observasi di lokasi yang sama namun dengan mata telanjang dan binokuler gagal mengidentifikasinya. Dengan demikian batas termutakhir saat ini 6,4°. Observasi Stamm sekaligus menunjukkan kebutuhan akan alat bantu optik (teleskop) dan lokasi berelevasi tinggi. Sehingga ditetapkanlah ketentuan jarak sudut 6,4° untuk kriteria baru memperbaiki kriteria LAPAN.

  1. Beda Tinggi Bulan Matahari Minimal 4°

Berdasarkan hasil penelitian T. Djamaluddin dalam menentukan kriteria LAPAN sebelumnya serta didukung dengan data-data dari para astronom mengenai ketinggian hilal seperti Muhammad Ilyas dan IICP, maka ditetapkanlah ketentuan ketinggian hilal 4° yang dianggap minimal dapat dilihat mata telanjang.

Ketentuan beda tinggi minimal 4°, sama dengan ketentuan IICP. Hal ini dapat diartikan bahwa ketentuan ini untuk mendekatkan semua kriteria itu dengan fisis hisab dan rukyat hilal menurut kajian astronomis. Dengan demikian aspek hisab maupun rukyat memiliki pijakan kuat bukan sekedar rujukan dalil tapi juga interpetrasi operasionalnya berdasarkan sains astronomi yang dapat diterima.

Dengan adanya penyempurnaan kriteria LAPAN oleh T. Djamaluddin menjadi Kriteria Hisab Rukyat Indonesia, organisasi Persatuan Islam pada sidang Dewan Hisbah pada 31 Maret 2012, merubahnya. Secara astronomis, kriteria yang diusulkan T. Djamaluddin ini dipandang lebih memiliki landasan ilmiah yang teruji.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kriteria T. Djamaluddin juga didukung data hasil pengamatan rukyat bertahun-tahun. Jadi, kalaupun dilaksanakan rukyat dengan kriteria ini, dasarnya adalah perhitungan. Tidak hanya sekedar memperlihatkan wajah ke arah barat ketika matahari terbenam. Namun sudah memiliki patokan mengenai ketinggian hilal dan posisinya di atas ufuk yang valid dan meyakinkan.

Sementara itu, untuk alasan pemilihan kriteria hisab imkan ar-ru’yah  Badan Hisab Rukyat (BHR) berbeda dengan Persatuan Islam yang masing-masing didukung data dan alasan yang kuat.

 

  1. Alasan Pemilihan Kriteria Badan Hisab Rukyat (BHR) Dan Persatuan Islam (Persis)
  2. Badan Hisab Rukyat (BHR)

Badan Hisab Rukyat memiliki peran penting untuk menghindarkan perpecahan rakyat muslim Indonesia akibat perbedaan dalam penentuan awal bulan Kamariah, karena ulil amri/pemerintah (BHR) berwenang memberi keputusan ataupun ketetapan. Negara-negara serumpun Indonesia, yakni Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura (MABIMS) pada 1990 bersepakat untuk menyatukan kriteria kenampakan hilal berdasarkan imkan al-ru’yah.

Kriteria ini didasarkan pada analisis data sederhana yaitu data 16 September 1974, dari 3 lokasi, dengan jumlah saksi 10 orang, tanpa gangguan planet  Venus,[20] tingginya 2,19°,  jarak sudut bulan-matahari 6,8° (dekat dengan limit Danjon yang menyatakan jarak minimal 7° untuk mata manusia rata-rata) dan umur hilal 8,08 jam. Dari tahun 1962 pun sudah banyak kesaksian hilal sekitar  ketinggian 2°. Selain kesaksian di tahun 1974, pada 29 Juni 1984 hilal dilaporkan terlihat di Jakarta, Pelabuhan Ratu (Jabar), Pare-Pare (Sulsel) dengan tinggi bulan 2° dan di langit barat terdapat Venus dan Merkurius yang posisinya berdekatan dengan bulan.[21]

Bukti-bukti kesaksian tersebut yang kemudian dijadikan landasan dari Badan Hisab Rukyat menetapkan kriteria untuk penentuan awal bulan Kamariah. Selain itu untuk dapat menyatukan paham hisab dan rukyat yang nantinya diharapkan dapat menyatukan umat muslim di Indonesia dalam berpuasa dan berhari raya, dan terwujud kalender Islam yang pakem.

Baru pada bulan Maret 1998, di hotel USSU, Cisarua, Bogor, kriteria tersebut oleh para ahli hisab-rukyat disetujui diterapkan di Indonesia, kemudian dimantapkan dalam “Lokakarya Mencari Kriteria Format Awal Bulan Di Indonesia” pada September 2011 lalu, Kriteria tersebut yang hingga sekarang dipakai untuk penentuan kalender bulan Kamariah di Indonesia (Takwim Standar Indonesia), sedangkan untuk bulan Ramadan, Syawal, Zulhijah, selain menggunakan data hisab, juga dilakukan rukyat.

 

  1. Persatuan Islam (Persis)

Dalam penentuan awal bulan Kamariah, organisasi ini menerapkan metode ijtihad dalam penentuan awal bulan Kamariah, dengan ketentuan ijtihad seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di awal, diantaranya: (1) Mendahulukan zahir ayat Al Quran daripada ta’wil, (2) Menerima dan meyakini isi kandungan Al Quran sekalipun tampaknya bertentangan dengan aqli dan ‘addi, (3) Apabila ayat Al Quran bertentangan dengan Hadis, didahulukan ayat Al Quran sekalipun Hadis tersebut diriwayatkan oleh Muttafaq’alaih.

Organisasi Persatuan Islam (Persis) dalam metode ijtihad menyebutkan untuk mendahulukan ayat Al Quran dibandingkan Hadis.[22] Dalam QS:Yaasin ayat 39 bila dihubungkan dengan QS Yunus ayat 5 menjelaskan bahwa Allah telah menetapkan manzilah-manzilah bagi perjalanan bulan mengelilingi bumi. Ketetapan Allah itu bersifat pasti, sehingga bila dihubungkan dengan ayat 5 QS:Arrahman perjalanan bulan dan posisi-posisinya dapat dihitung.[23] Maka dipilih metode hisab imkan ar-ru’yah . Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, ditemukanlah kriteria terbaru ini.

Dalam QS Yaasin dijelaskan pula mengenai kriteria hisab untuk penentuan awal bulan baru. Secara astronomis, kelahiran bulan baru adalah saat ijtima’, yaitu saat bulan berada pada titik terdekat pada garis lurus antara pusat bumi dan matahari. Jadi ayat ini memberi isyarat bahwa terjadinya konjungsi adalah salah satu kriteria menentukan awal bulan baru. Hanya saja kriteria ini belum memadai karena ijtima’ bisa terjadi kapan saja (pagi, siang, tengah malam, dini hari, dan seterusnya), sementara bulan harus utuh bilangannya, tidak bisa 29 3/8 hari misalnya.[24]

Kemudian diperlukan kriteria lain sebagai tambahan, yaitu saat pergantian hari seperti yang diisyaratkan ayat 40, yaitu saat matahari terbenam. Kemudian ayat 40 juga mengisyaratkan yaitu pada waktu terbenam matahari bulan harus sudah mengejar matahari (bulan di atas ufuk).[25] Peristiwa terbenamnya matahari, dalam ilmu hisab dapat ditentukan dengan tepat pada jam, menit, dan detik tertentu. Kriteria ini dipandang sudah mencangkup keseluruhan persyaratan yang ditetapkan Al Quran mengenai ketentuan awal bulan.

Muktamar Persatuan Islam 1995 dengan dibentuknya Dewan Hisab Rukyat mencerminkan keyakinan Persatuan Islam bahwa hisab dan rukyat memiliki kedudukan yang sama dalam penentuan awal bulan Kamariah. Karena selain hisab memiliki dasar dalil yang kuat dalam Al Quran (Hisab 37 kali muncul di Al Qur’an, dengan pengertian perhitungan), rukyat juga merupakan sunnah Rasulullah yang tidak bisa dihilangkan, tidak ada dalil dan alasan kuat untuk menghapuskan rukyat.[26]  Seperti yang telah dijelaskan di awal, rukyat diperlukan pula untuk menguji akurasi dan kesahihan hasil hisab, sehingga berdasarkan pengujian rukyat tersebut hisab bisa disempurnakan. Hisab selain digunakan untuk menentukan awal bulan, hisab juga digunakan untuk memandu rukyat, untuk memprediksi posisi, arah, dan waktu untuk merukyat hilal.

 

 

 

 

  1. KESIMPULAN

Dari beberapa uraian yang telah penulis kemukakan, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Metode penentuan awal bulan Kamariah yang digunakan BHR dan Persis sama, yaitu imkan ar-ru’yah. Namun berbeda dalam hal kriteria imkan ar-ru’yah
  2. Kriteria imkan ar-ru’yah BHR, menurut hisab hakiki tahqiqi menggunakan kaidah Dua-Tiga-Delapan, yaitu ketinggian hilal minimal 2°, dan jarak sudut matahari dan bulan minimal 3°, atau umur bulan minimal 8 jam.
  3. Kriteria imkan ar-ru’yah Persis,memakai kriteria berdasarkan rumusan dari Prof. Dr. T. Djamaluddin, yaitu beda tinggi antara bulan dan matahari minimal 4°, jarak busur antara bulan dan matahari minimal 6.4°.
  4. Alasan yang melatar belakangi penetapan kriteria dengan metode imkan    ar-ru’yah tersebut adalah:
  5. Kriteria imkan ar-ru’yah BHR ditetapkan berdasar kesepakatan para ahli hisab rukyat Indonesia di hotel USSU, Cisarua, Bogor, pada tanggal 24-26 Maret 1998. Hal itu sebagai bentuk persetujuan dan pelaksanaan kesepakatan MABIMS yang berlandaskan pada analisis data sederhana yaitu data 16 September 1974, dari 3 lokasi, dengan jumlah saksi 10 orang, tanpa gangguan planet Venus, tingginya 2,19°, jarak sudut bulan-matahari 6,8° dan umur hilal 8,08 jam. Kelebihan kriteria BHR ini dalam kaidah yang telah populer,
  6. Kriteria imkan ar ru’yah Persis ditetapkan pada sidang terbatas Persis 31 Maret 2012. Berdasarkan metode ijtihad organisasi Persatuan Islam, maka digunakanlah imkan ar-ru’yah yang didasarkan pada Al Quran tentang ketentuan hisab dan Hadis Rasul mengenai rukyat. Kriteria ini merupakan hasil kajian dan penelitian yang dilakukan sejak lama, dan merupakan penyempurnaan dari kriteria LAPAN untuk memperbaiki kriteria MABIMS. Mempertimbangkan dua aspek pokok (aspek fisik hilal dan aspek kontras latar depan di ufuk barat) dengan mengambil batas bawah. Artinya kriteria itu merupakan batas minimal hilal dapat dilihat.

 

[1] Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2009, Pedoman Hisab Muhammadiyah (Yogyakarta:Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah), hlm. 77.

[2]ibid

[3] Dalam bahasa inggris kata hisab disebut Arithmatic yaitu ilmu pengetahuan yang membahas seluk beluk perhitungan. Dikutip dari skripsi Anifatul Kiftiyah, prodi Ilmu Falak, Fakultas Syariah, IAIN Walisongo Semarang. Lihat Badan Peradilan Agama Islam, 2007,  Almanak Hisab Rukyat, (Jakarta:Proyek Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam), hlm. 14.

[4] Ahmad Rofiq, 2004, Fiqh Kontekstual (dari  Normatif  ke Pemaknaan Sosial), cet.1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm. 224.

[5] Hendro Setyanto, 2008, Membaca Langit,  (Jakarta:Al Ghuroba), hlm. 29.

[6]Cecep Nurwendaya, 2010,  Kaidah Kaidah Falakiyah dan Simulasi Hisab Rukyat, (Manado:BHR Kementrian Agama RI), hlm. 9.

[7] www.indomedia.com/tribunjabar diakses tanggal 22 april 2013

[8] http://ibnu-bahari.blog.friendster.com. Diakses tanggal 4 Juni 2013.

[9] Wahyu Widiana, 1992, “Pelaksanaan Rukyatul Hilal di Indonesia”, Jurnal Mimbar Hukum, (Jakarta), No 6 Tahun.III, 1992, hlm.26.

[10] Ibid.

[11] Dewan Hisbah PP Persis, 2008, Kumpulan Keputusan Sidang Dewan Hisbah Persatuan Islam (Persis) Tentang Akidah Dan Ibadah, (Bandung: Persis Pers), hlm.413.

[12] www.google.com/keputusan dewan hisbah tentang kriteria penentuan awal bulan kamariah. Diakses tanggal 22 Mei 2013.

[13] Ibid, hlm. 14.

[14] Taufik, 1994, “Perkembangan Ilmu Hisab Di Indonesia”, Jurnal Mimbar Hukum, (Jakarta), No 6 Tahun.III, 1992, hlm. 39.

[15] http://media-isnet.org/imkanurrukyah. Diakses 14 Juni 2013

[16] Ahmad Mulyadi, Kajian Hisab Rukyat, Jurnal al-Ahkam vol.V. No. 2 Desember 2010.hlm 200

[17] Hasbullah Mursyid, 1992, “Mekanisme Penetapan Awal Bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah Di Indonesia”, Jurnal Mimbar Hukum, (Jakarta), No.6 Tahun III, 1994, hlm. 15. Lihat juga media.isnet.org, diakses 7 Juni 2013.

[18] Bradley E. Schaefer, 1996, Lunar Cresent Visibility, Royal Astronomical Society (Provided by the NASA Astrophysics Data System,hlm. 760-761.

[19] M. S. Odeh, “New Criterian For Lunar Cresent Visibility”, Exp. Astr, vol 18, hlm. 39-64, 2004.

[20] T. Djamaluddin, Menggagas Fiqih Astronomi…, hlm. 61.

[21] Lihat Ma’rufin, 2007, Milis RHI, http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal. Diakses 27 Februari 2012.

[22] Dewan Hisbah Persis, Thuruq Al Istinbath Dewan Hisbah Persatuan Islam (Persis).., hlm. 24.

[23] Rupi’i Amri, “Upaya Penyatuan Kalender Islam di Indonesia”…, hlm. 7.

[24] Syamsul anwar, 2009, Hisab Bulan Kamariah, (Yogyakarta:Suara Muhammadiyah), hlm.7.

[25] Sa’adoeddin Djambek, 1976,  Hisab Awal Bulan, (Jakarta:Tintamas Indonesia), hlm. 15.

[26] http://bidgardakwah.blogspot.com/2012/04/hisab-imkanur-rukyat-kriteria-awal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s