MENAHAN DIRI SAAT RAMADHAN TIBA


Ramadhan sebentar lagi tiba. Dan umat islam akan memasuki bulan yang dipenuhi dengan keberkahan untuk berlomba dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya agar menjadi manusia-manusia yang bertaqwa. Puasa secara bahasa adalah menahan diri. Selama ini, banyak yang sekedar menjalankan puasa dalam pengertian fikihnya, yakni menahan diri dari segala yang membatalkannya (makan, minum, seks) dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Bukan berarti bahwa hal tersebut salah, hanya saja, menjalankan puasa dengan berhenti pada pengertian fikihnya saja, menjadikan muatan dan makna puasa tidak maksimal atau tidak sempurna. Bahkan Rasulullah mengatakan bahwa orang yang seperti itu hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga dalam puasanya. Puasa seharusnya memiliki muatan spiritual yang lebih dalam lagi, diantaranya adalah menahan nafsu dan diri dari segala yang membatalkan pahala puasa dan mengurangi kesempurnaannya. Di tahun ini ada dua persoalan yang mungkin perlu disikapi dengan lebih baik dengan menjadikan bulan Ramadhan sebagai titik tolaknya. Pertama adalah adanya kemungkinan perbedaan dalam mengawali puasa. Umat Islam di Indonesia memang telah beberapa kali mengalami perbedaan dalam mengawali bulan hijriah, terutama Ramadhan, Syawal maupun Dzulhijjah. Untuk tahun ini, perbedaan kemungkinan akan terjadi dalam mengawali puasa. Ormas Islam yang menggunakan wujudul hilal sebagai kriteria masuknya bulan baru hijriah, seperti Muhammadiyah telah menetapkan awal bulan Ramadhan pada hari sabtu, 28 Juni 2014 karena konjungsi terjadi pada jam 15.09 WIB tanggal 27 Juni 2014, dan posisi hilal saat terbenam matahari berada pada kisaran 0.30 derajat di atas ufuk. Artinya, secara teoritis, hilal sudah wujud sehingga hari setelahnya sudah memasuki bulan baru hijriah. Sedangkan ormas Islam yang menggunakan rukyah (termatinya hilal) atau imkanurrukyah (kemungkinan teramatinya hilal) sebagai kriteria masuknya awal bulan hijriah, termasuk pemerintah, memulai Ramadhan pada hari Ahad tanggal 29 Juni 2014 karena hilal tidak mungkin teramati atau dibawah kriteria minimum kemungkinan teramatinya hilal di tanggal 27 Juni 2014. Para pakar astronomi dan ilmu falak Indonesia sudah beberapa kali bahkan sering melakukan kajian, penelitian, dan pertemuan tentang upaya menghilangkan atau meminimalisir kemungkinan perbedaan umat Islam dalam memulai bulan baru hijriah terutama bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Hanya saja, sampai saat ini, penyatuan tersebut memang masih berupa wacana dan usulan. Dan inilah saatnya, Ramadhan dalam arti menahan diri dijadikan momentum oleh ormas dan masyarakat untuk menahan diri dari “menjelekkan”, “merendahkan” ormas dan masyarakat lain karena berbeda dalam memulai Ramadhan. Klaim kebenaran pada diri sendiri dan menghakimi pihak lain dengan kesalahan tidak lain adalah “kesombongan” yang tidak saja mengurangi kesempurnaan puasa, akan tetapi dapat menghilangkan dan menghanguskan pahala puasa. Sudah saatnya kita mengembangkan sikap toleran dengan menahan lidah kita dari mengucapkan dan menahan tangan kita dari menuliskan sesuatu yang dapat menyakiti pihak lain berkaitan dengan persoalan perbedaan awal bulan hijriah yang memang masih merupakan lahan ijtihad. Dalam hal ini,paling tidak ada du hal yang penulis ajukan sebagai solusinya; Pertama, penyatuan kriteria. Selama ini, paling tidak ada tiga kriteria yang seolah selalu mengalami benturan dalam menentukan pergantian bulan baru hijriah, yaitu wujudul hilal, rukyah dan imkanurrukyah (2 derajat). Imkanurrukyah yang dipakai oleh Kemenag selama ini pada dasarnya dianggap sebagi jalan tengah untuk mempersatukan antara hisab wujudul hilal dan rukyah, akan tetapi ketinggian (irtifa’/altitude) hilal 2 derajat dianggap masih jauh dari batas minimal dapat dilihatnya hilal dalam dunia astronomi. Oleh karena itu, beberapa kajian terbaru berusaha untuk memperbaiki kriteria tersebut seperti kriteria visibilitas hilal tawaran dari LAPAN atau kriteria visibilitas hilal tawaran Rukyatul Hilal Indonesia (RHI). Opsi kedua yang bisa ditawarkan adalah penyatuan kalender hijriah. Penyatuan kalender yang bersifat nasional menjadi salah satu proyek yang sangat penting agar perbedaan dalam mengawali bulan hijriah tidak terus terjadi. Hal kedua yang perlu disikapi di bulan Ramadhann ini adalah akan adanya gawe besar bangsa Indonesia, yakni pilihan presiden dan wakil presiden. Jatuhnya pilihan presiden dan wakil presiden di bulan Ramadhan, semoga saja menjadi salah satu pertanda baik, bahwa siapapun yang terpilih nantinya akan membawa kebaikan dan keberkahan sebagaimana kebaikan dan keberkahan yang dibawa oleh bulan Ramadhan. Ramadhan juga seharusnya menjadi momentus bagi capres dan cawapres, dan terutama para pendukung dan simpatisannya untuk menahan diri. Masing-masing harus menahan diri dari kampanye hitam, mengumbar fitnah, dan juga janji palsu yang tentunya bertentangan dengan hakikat puasa. Puasa di tahun ini harus memiliki makna yang lebih dalam dan memiliki dampak yang nyata ke perilaku. Jika masing-masing pihak tidak dapat menahan dirinya dari merendahkan pihak lain, menjelekkan pihak lain, memfitnah pihak lain, maka tentu benar apa yang disabdakan Rasulullah bahwa Allah sama sekali tidak butuh darinya untuk meninggalkan makan dan minum.

Surakarta, 28 Juni 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s