Madzhab Jumhur


Beberapa hari yang lalu,  saya membaca buku tentang madzhab Jumhur Ulama. kata Jumhur memang sering sekali kita dapati, bukan saja di kitab-kitab fiqh, tapi juga dalam kitab-kitab aqidah,  hadis,  tafsir,  dsb. Kata “ini merupakan pendapat Jumhur Ulama” memang lebih “aman” digunakan dibandingkan kata “ini merupakan ijma’ ulama'”. Ijma’ yang didefinisikan sebagai kesepakatan seluruh ulama’ memang membutuhkan riwayat yang kuat tentang keberadaannya. Para ulama’ lebih suka berhati-hati dalam menggunakan istilah ijma’ daripada dianggap mengklaim adanya ijma’ tanpa bukti. Istilah yang dipakai biasanya adalah “kami belum mengetahui khilaf di dalamnya”.
Madzhab Jumhur Ulama memang bukan ijma’, tapi satu tingkat di bawah ijma’ karena bukan kesepakatan bulat,  tetapi pendapat mayoritas ulama. Madzhab Jumhur didefinisikan sebagai sebuah pendapat yang tetap,  tsabit, dari mayoritas ulama  setelah terjadinya khilaf. Jumhur memang tidak “berisi” sejumlah ulama’ tertentu yang selalu sama dalam setiap masalah. Jika,  madzhab Sunni yang empat (Hanafi,  Maliki,  Syafi’i,  Hambali) dijadikan sebagai ukuran,  sering ada anggapan bahwa jika dikatakan madzhab Jumhur,  maka itu bermakna selain madzhab Hanafi. Anggapan ini muncul karena madzhab Hanafi memang dikenal dengan aliran pemikiran Ushul Fiqh Hanafiah (Ahlul Fiqh) dengan metode induktif,  yang berbeda dengan aliran pemikiran Ushul Fiqh selain Hanafiah dengan metode deduktifnya,  yang dikenal dengan aliran Mutakallimin atau Jumhur. Walaupun saat ini kedua metode tersebut sudah dipadukan oleh para ulama ushul fiqh,  bahkan muncul akiran-aliran baru dalam pemikiran Ushul Fiqh, akan tetapi klasifikasi kedua aliran tadi ternyata masih tetap melekat.
Dalam buku yang saya baca tersebut,  disebutkan pendapat Jumhur yang berbeda dengan pendapat personal Imam Abu Hanifah, atau Imam Malik, dan imam-imam lain bahkan berbeda dengan pendapat sahabat.
Bagi saya,  pendapat Jumhur Ulama merupakan pendapat yang lebih “aman” untuk diikuti karena adanya kesamaan mayoritas pendapat setelah terjadinya khilaf atau perbedaan tentunya mengindikasikan kedekatannya dengan pendapat yang lebih shahih. Wallahu A’lam.
Boyolali,  31 Mei 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s