PENETAPAN WAKTU SALAT DI WILAYAH LINTANG TINGGI MENURUT SA’ADOEDDIN DJAMBEK DAN THOMAS DJAMALUDDIN (oleh: Fatchan Latif. Pembimbing: Muh. Nashirudin)


A. Latar Belakang
Seperti yang telah diketahui bahwa gerak semu matahari telah mengakibatkan bergantinya siang dan malam, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun yang semua telah terhitung dengan pasti. Bahkan bulan, bintang, dan bumi setiap hari bergerak, yaitu terbit di bagian timur dan terbenam di bagian barat. Gerak harian ini, yang berlangsung menurut arah dari timur ke barat, disebabkan bumi sendiri yang berputar dari barat ke timur. Perputaran bumi itu terjadi di sekitar porosnya, yaitu garis lurus khayalan yang menghubungkan kedua kutub bumi.
Oleh karena perputaran itu berlaku sekitar garis poros bumi, perjalanan harian semua benda langit berlangsung menurut lingkaran-lingkaran yang semuanya letaknya sejajar dengan khatulistiwa langit. Sehingga ketika berada pada daerah yang letaknya mendekati kutub utara maupun selatan, matahari seakan tidak bergerak dan bahkan hanya berputar-putar yang mengakibatkan perbedaan siang dan malam terlihat tidak seimbang.
Adakalanya matahari yang tidak pernah tampak ketika musim dingin, dan pada musim panas matahari tidak pernah tenggelam, sehingga antara siang dan malam tidak bisa dihitung secara pasti seperti daerah di sekitar khatulistiwa. Akan tetapi keadaan yang berbeda tersebut tidak dirasakan sepanjang tahun, pada bulan-bulan tertentu berjalan seperti biasa seperti daerah khatulistiwa.
Fenomena gerak semu harian matahari menjadi menarik diteliti ketika dikaitkan dengan pelaksanakan ibadah umat Islam yang didasarkan pada peredaran matahari, sehingga ketika berada di daerah sekitar kutub akan sulit dalam menentukannya. Salah satu ibadah yang ditentukan waktunya adalah salat, walaupun tidak dijelaskan secara rinci, namun al-Qur’an telah menentukannya. Sedangkan penjelasan tentang waktu salat diterangkan secara rinci dalam hadis nabi, sehingga para fuqaha memberikan batasan-batasan waktu shalat dengan berbagai cara atau metode yang mereka asumsikan untuk menentukan waktunya.
Seperti halnya batasan waktu salat zuhur dimulai sejak matahari tergelincir sampai bayang-bayang sesuatu sama atau dua kali panjangnya, salat asar dimulai sejak bayang-bayang sesuatu dua kali panjangnya atau sejak bayang-bayang sesuatu dua kali panjangnya sampai matahari menguning, salat maghrib dimulai sejak matahari terbenam sampai hilang mega merah, salat isya dimulai sejak hilangnya mega merah sampai tengah malam atau terbit fajar, salat subuh dimulai sejak terbit fajar sampai terbit matahari.
Dari ketentuan salat tersebut ketika diaplikasikan di daerah yang secara geografis adalah kawasan normal atau daerah khatulistiwa seseorang tidak akan mengalami kesulitan dalam menjalankan salat karena telah terjadwal secara pasti dan teratur. Namun hal ini akan menjadi problem penting bagi umat muslim yang tinggal di daerah sekitar kutub (utara dan selatan) karena secara geografis termasuk kawasan beriklim ekstrim.
Dimana siang hari lebih pendek dari waktu malamnya dan adakalanya waktu malam lebih pendek dari waktu siangnya. Hal ini karena perbedaan posisi harian matahari yang berotasi semu terhadap bumi pada waktu-waktu tertentu berbeda dengan daerah di sekitar khatulistiwa, sehingga sulit dalam menentukan waktu salat, yang mengakibatkan hilangnya salah satu tanda awal waktu salat.
Sulitnya menentukan waktu salat bagi umat muslim yang berada di daerah sekitar kutub inilah yang menjadi penting untuk dicari penyelesaian yang tepat, dalam hal ini penulis akan membahas dua pendapat ulama ahli falak dan astronomi yang menjadi harapan untuk bisa dijadikan salah satu solusi penentuan waktu salat di daerah sekitar kutub.
Sa’adoeddin Djambek dalam bukunya Waktu Salat dan Puasa di Daerah Kutub mengqiyaskan waktu salat tersebut dengan orang yang tidur atau pingsan karena perubahan syafak merah di langit bagian barat menjadi fajar di langit bagian timur berlaku secara tiba-tiba atau tanpa suasana peralihan, sehingga menjadikan waktu isya dan subuh tanpa ada jeda yang mengharuskan untuk mengganti di waktu yang lain atau mengqad}a’ dalam salatnya.
Berbeda dengan Sa’adoeddin Djambek, Thomas Djamaluddin sebagai tokoh Astronomi mengqiyaskan waktu salat tersebut disesuaikan dengan waktu normal paling akhir, karena antara satu daerah dengan daerah lain memiliki perbedaan waktu yang tidak bisa disamakan, sehingga variasi panjang hari akan sangat mencolok. Panjang hari ini berpengaruh pada sulitnya menentukan awal fajar. Pada keadaan ekstrim seperti itu, di daerah lintang tinggi bisa tejadi continous twilight, yaitu bersambungnya cahaya senja (waktu magrib) dan cahaya fajar yang mengakibatkan tidak adanya waktu isya dan awal fajar, sehingga membutuhkan ijtihad baru dalam menetapkanya.
Sa’adoeddin Djambek dan Thomas Djamaluddin merupakan sebagian tokoh yang mencoba mengistinbat}kan waktu salat di daerah sekitar kutub berdasarkan spesifikasi ilmu yang mereka tekuni, sehingga memberikan wacana dan pemahaman terhadap umat Islam yang berada di wilayah tersebut.
Dari fenomena gerak semu matahari yang menjadikan hilangnya tanda waktu salat di daerah sekitar kutub menjadi penting untuk diteliti, sehingga umat Islam yang berada di daerah yang jauh dari garis katulistiwa bisa menjalankan kewajiban ibadah salatnya tanpa harus meninggalkannya.
Dari uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dengan mengambil judul “Penentapan waktu Salat di Wilayah Lintang Tinggi menurut Sa’adoeddin Djambek dan Thomas Djamaluddin”, sehingga bisa memberikan solusi terhadap problem yang terjadi.
B. Biografi Sa’adoeddin Djambek dan Thomas Djamaluddin
1. Sa’adoeddin Djambek
Sa’adoeddin Djambek atau Datuk Sampono Radjo, tokoh muslim Indonesia yang oleh banyak kalangan disebut sebagai mujaddid al-hisab (pemberharu pemikiran hisab). Lahir di Bukit Tinggi pada tanggal 29 Rabiul Awal 1329 H, bertepatan 24 Maret 1911 M, pada saat ranah Minang sedang terjadi pergolakan kebangkitan yang disebut kaum Muda. Gerakan kaum muda lebih bersifat pembaharuan pemikiran, yang ditandai dengan munculnya berbagai media publikasi, sekolah serta oganisasi yang dikelola secara moderen. Gerakan kaum muda inilah yang mengilhami berdirinya lembaga Thawalib School, suatu lembaga pendidikan dikelola secara modern, baik dari segi manajemen maupun dari segi kurikulum.
Sa’adoeddin memperoleh pendidikan formal pertama di HIS (Hollands Inlandsche School) hingga tamat pada tahun 1924. Kemudian ia melanjutkan studinya ke sekolah pendidikan guru, HIK (Holland Inlandsche Kweekschool) di Bukit Tinggi. Setelah tamat dari HIK pada tahun 1972, ia meneruskannya lagi ke Hogere Kweekschool (HKS), sekolah pendidikan guru, di Bandung, Jawa Barat, dan memperoleh ijazah pada tahun 1930. Disamping memperoleh pendidikan formal Sa’adoeddin juga menerima pelajaran keagamaan khususnya berkaitan dengan falak dari ayahnya (Djamil Djambek) yang termasuk salah seorang ahli falak di masanya. Karena itu tidak mengherankan jika Sa’adoeddin sejak masa mudanya sudah sangat tertarik dengan ilmu ini. Disamping ayahnya sendiri Sa’adoeddin Djambek juga mempelajari pemikiran para tokoh-tokoh falak lainnya seperti: Syeikh Thahir Djalaluddin (seorang ahli hisab di Sumatra) , Syeikh Jambek, dan K.H. Ahmad Badawi (seorang ahlli hisab dari Yogyakarta), sehingga memperkaya khasanah keilmuan dibidang ilmu falak.
Meskipun Sa’adoeddin banyak mengkaji dan menelaah buku-buku ilmu falak, namun Sa’adoeddin belum merasa puas dengan sistem perhitungan lama yang keakuratannya perlu diuji kembali. Oleh karena itu, pada tahun 1954-1955 Sa’adoeddin mencoba memperdalam pengetahuannya di Fakultas Ilmu Pasti Alam dan Astronomi ITB. Dengan ilmu yang diperolehnya itu Sa’adoeddin berusaha mengembangkan sistem baru dalam perhitungan hisab dengan mengenalkan teori Spherical Trigonometry (segitiga bola). Yaitu memadukan antara hisab tradisional dengan ilmu astronomi modern sehingga dapat dicapai hasil yang lebih akurat.
Dengan menggunakan teori segitiga bola Sa’adoeddin mencoba menyusun teori-teori untuk menghisab arah kiblat, menghisab terjadinya bayang-bayang kiblat, menghisab awal waktu salat dan menghisab awal bulan qamariyah. Karena sistem ini dikembangkan oleh Sa’adoeddin maka sistem ini juga dikenal hisab Sa’adoeddin Djambek.
Disamping sebagai ahli falak, Sa’adoeddin juga aktif dalam dunia pendidikan, Masuk dalam organisasi Muhammadiyah. Pada tahun 1969 , ia diberi kepercayaan oleh Pimpinan pusat Muhammadiyah menjadi ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran di Jakarta periode 1969-1973. Sebagai seorang tokoh, Sa’adoeddin tidak jarang mendapatkan kepercayaan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah maupun non pemerintah. Sa’adoeddin diberi kepercayaan untuk menjadi staf ahli Menteri P & K. Di samping itu, pada tahun 1972 pada saat diadakan musyawarah ahli Hisab Rukyat seluruh Indonesia, dimana disepakati dibentuknya Badan Hisab dan Rukyat, Sa’adoeddin diplih dan dilantik sebagai ketua.
Kunjungan ke luar negeri yang pernah dilakukan oleh Sa’adoeddin, antara lain menghadiri konferensi Mathematical Education di India (1958), mempelajari sistem Comprehensive School di negara-negara : India, Thailand, Swedia, Belgia, Inggris, Amerika dan Jepang (1971), mengembangkan ilmu Hisab dan Rukyat dan kehidupan di tanah suci Makkah dan menghadiri First World Conference on Muslim Education di Makkah (1977).
2. Biografi Thomas Djamaluddin
Thomas Djamaluddin yang dilahirkan di Purwokerto, 23 Januari 1962, merupakan putra pasangan Sumaila Hadiko, Purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan 1, SMP Negeri 1, dan SMA Negeri 2 Cirebon. Kemudian baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II (Proyek Perintis II).
Minat astronomi diawali dari banyak membaca majalah dan buku tentang UFO saat SMP, sehingga terpacu menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia America dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) Thomas Djamaluddin menulis “UFO, Bagaimana menurut Agama” yang dimuat di majalah ilmiah populer Science. Itulah awal publikasi tulisannya.
Ilmu Islam lebih banyak dia pelajari dari lingkungan keluarga dan diperdalam secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islam diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (13 September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (13 Maret 1988). Selama 13 semester menjadi mentor (angka 13 memang kebetulan yang istimewa). Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa dia telah menulis 10 tulisan di koran dan majalah tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Salat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam.
Lulus dari ITB (1986) kemudian Thomas Djamaluddin masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 – 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antarbintang dan pembentukan bintang dan evolusi bintang muda. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dia lakukan sejak menjadi mahasiswa di Jepang.
Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksa Thomas Djamaluddin menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang terkait permasalahan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti penetapan 1 ramadhan, idul fitri ataupun idhul adha atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam.
Saat ini Thomas Djamaluddin bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) sebagai Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan (Eselon I) dan Peneliti Utama IVe (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisika. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung (Eselon IV), Kepala Bidang Matahari dan Antariksa (Eselon III), dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim (Eselon II) LAPAN. Saat ini juga mengajar dan menjadi pembimbing di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Walisongo Semarang.
Terkait dengan kegiatan penelitian, saat ini dia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Daerah Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dia publikasikan.
Kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, Thailand, dan Austria) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY – World Assembly of Muslim Youth – di Malaysia).

C. Jadwal salat di Wilayah Lintang Tinggi dalam Pandangan Sa’adoeddin Djambek dan Thomas Djamaluddin
Dalam kaitanya dengan permasalahan yang ada bahwa hilangnya salah satu tanda awal waktu salat, karena posisi matahari yang bergerak menurut lingkaran yang letaknya sejajar dengan garis ufuk, sehingga pada daerah tersebut waktu terbit dan terbenam matahari mengalami perubahan yang menjadikan waktu-waktu salat juga mengalami perubahan.
Sa’adoeddin Djambek dan Thomas Djamaluddin berpendapat bahwa penetapan waktu salat di wilayah lintang tinggi tetap menjadi harga mutlak yang harus dilakukan karena kewajiban salat telah ditentukan waktu-waktunya. Sehingga ijtihad merupakan alternatif baru dalam memecahkan permasalahan tersebut. Berikut ini adalah salah satu jadwal salat di kota Stockholm Swedia dengan lintang 59. 200:
Tgl/Bln Accurate Times Sa’adoeddin Djambek Thomas Djamaluddin
Subuh Magrib Isya Subuh magrib Isya Subuh magrib Isya
1 April 2.42 18.31 21.04 02.28 18.43 21.16 2.42 18.31 21.03
11 April 1.55 18.55 21.47 1.30 19.07 21.59 1.54 18.55 21.46
21 April 00.46 19.19 22.57 – 19.31 23.07 00.44 19.19 22.54
23 April 23.51 19.24 23.40 – – 00.17 19.23 23.26
24 April – 19.26 – – 19.38 – 00.17 19.26 23.26
1 Mei 03.48 19.43 – – 19.55 – 00.17 19.43 23.26
11 Mei – 20.07 – – 21.02 – 00.17 20.06 23.26
21 Mei – 20.30 – – 21.23 – 00.17 20.28 23.26
1 Juni – 20.51 – – 21.02 – 00.17 20.49 23.26
11 Juni – 21.05 – – 21.16 – 00.17 21.03 23.26
21 Juni – 21.11 – – 21.23 – 00.17 21.10 23.26
1 Juli – 21.09 – – 21.20 – 00.17 21.07 23.26
11 Juli – 20.59 – – 21.10 – 00.17 20.57 23.26
21 Juli – 20.42 – – 20.53 – 00.17 20.41 23.26
1Agst – 20.17 – – 20.29 – 00.17 20.17 23.26
11 Agst – 19.52 – – 20.04 – 00.17 19.52 23.26
21 Agst 00.27 19.25 23.02 – 19.36 23.18 00.31 19.24 23.04
1 Sept 01.49 18.53 21.42 01.51 19.05 21.54 01.50 18.53 21.43

Sa’adoeddin Djambek dan Thomas Djamaluddin berpendapat bahwa penetapan waktu salat di wilayah lintang tinggi tetap menjadi harga mutlak yang harus dilakukan karena kewajiban salat telah ditentukan waktu-waktunya. Sehingga ijtihad merupakan alternatif baru dalam memecahkan permasalahan tersebut.
Dari tabel di atas bahwa sejak tanggal 21 April sudah menampakkan perubahan sehingga mulai bulan Mei hingga 21 Agustus keadaan tidak normal dialami di kota Stockholm yang mengalami tidak adanya waktu subuh dan isya.
Maka perlu menciptakan ketentuan-ketentuan yang baru menurut logika manusia. Sa’adoeddin Djambek memberikan ketentuan saat tidak adanya waktu salat dikarenakan hilangnya tanda-tanda tersebut, tetap dilakukan salat, dengan mengganti di lain waktu (qada’), sedangkan Thomas Djamaluddin dalam menjabarkan daerah yang tidak normal dalam pergantian siang dan malam memberikan ketentuan dengan merujuk kepada kebiasaan sebelumnya, yaitu waktu normal sebelumnya ketika matahari masih bisa ditentukan, sehingga kewajiban salat tetap bisa dilaksanakan dengan menyamakan dengan waktu normal terakhir ketika masih ada tanda awal waktu salat.
Dari kedua pendapat di atas ternyata sama-sama menggunakan teori qiyas. akan tetapi berbeda dalam hukum atau hasil yang dicapai walaupun illat yang digunakan sama. Ketika melihat rukun qiyas, dimana ada Asal, Furu’, ‘Illat, dan Hukum, maka bisa dijabarkan sebagai berikut:
1. Pendapat Sa’adoeddin Djambek
– Asal : Kewajiban salat atau fard}u yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman
– Furu’ : Salat di wilayah lintang tinggi atau daerah sekitar kutub
– ‘illat : Tidak adanya tanda awal waktu salat atau hilangnya tanda waktu salat.
– Hukum : Diganti salatnya dilain waktu (qada’)

2. Pendapat Thomas Djamaluddin
– Asal : Kewajiban salat atau fard}u yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman
– Furu’ : Salat di wilayah lintang tinggi atau daerah sekitar kutub
– ‘illat : Tidak adanya tanda awal waktu salat atau hilangnya tanda
waktu salat.
– Hukum : Tetap dilaksanakan dengan didasarkan waktu normal
sebelumnya atau waktu normal terakhir.
Dalam kajian ilmu ushul al-fiqh qiyas biasanya diformulasikan sebagai usaha untuk menetapkan hukum yang khususnya tidak terdapat dalam nash dengan cara menganalogikannya dengan kasus hukum yang terdapat dalam nas karena adanya keserupaan ‘illat hukum. Berdasarkan keempat unsur tersebut, unsur ‘illat sangat penting dan menentukan ada atau tidaknya hukum dalam kasus baru, dengan bergantung pada ada atau tidaknya ‘illat pada kasus hukum baru tersebut. Sehingga ketika ‘illat tersebut tidak ada maka gugur pula hukum tersebut.
Jika melihat dalil-dalil kewajiban salat seperti berikut ini:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktu-waktunya atas orang-orang yang beriman”

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آَنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
;’
Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.

Dari ayat di atas bisa diketahui bahwa perintah salat sangat jelas yang telah ditentukan bagi orang-orang beriman, terkait dengan waktu salat yang diterangkan dan diperjelas dalam hadis-hadis sehingga penetapan waktu salat bisa terperinci.
Maka ketika melihat istinbat} yang digunakan Sa’adoeddin Djambek dalam menetapan waktu salat di wilayah lintang tinggi, adalah dengan mengqiyaskan orang yang sadar dengan orang yang tidak sadar (tidur atau pingsan) dalam membebankan suatu hukum, yaitu kewajiban salat, sehingga dalam pelaksanaan salat harus di qada’.
Sedangkan Thomas Djamaluddin Thomas Djamaluddin mencoba memberikan istinbat} di daerah sekitar kutub mendasarkan pada qiyas waktu salat yang normal, waktu salat normal di dasarkan kepada fenomena matahari (cahayanya atau bayangannya), jika tidak dapat ditentukan secara pasti, maka harus diperkirakan. Cara memperkirakan terbaik adalah merujuk pada kebiasaan sebelumnya, yaitu waktu normal sebelumnya ketika matahari masih bisa ditentukan dengan penetapan waktu salat, sehingga kewajiban salatpun tetap bisa dilaksanakan dengan mengqiyaskan waktu normal terakhir ketika ada tanda awal waktu salat kepada waktu dimana tidak ada tanda awal waktu salat.

D. Kesimpulan
Ketika melihat istinbat} kedua tokoh di atas adalah mereka sama-sama menggunakan teori qiyas dalam memberikan hukum di wilayah lintang tinggi, akan tetapi qiyas yang dilakukan berbeda dalam objeknya, Sa’adoeddin Djambek mengqiyaskan orangnya, sedangkan Thomas Djamaluddin mengqiyaskan waktunya, sehingga menjadi menarik ketika di telaah lebih jauh lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, cet. I, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), 1985.
Ahmad Izzuddin, Fiqh Hisab Rukyah di Indonesia, (Jogjakarta: Logung Pustaka), 2003.
Departemen Agama RI, 1998, Alqur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah).
Muhammad As Sayid Sabiq, Fiqhu as Sunnah, (Darul al Fath), 1365H.
Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Buana Pustaka), 2004.
__________, Kamus Ilmu Falak, (Yogyakarta: Buana Pustaka), 2005.
Sa’adoeddin Djambek, Arah Qiblat dan Cara menghitungnya dengan Jalan Ilmu Ukur Segitiga, cet II (Jakarta: Tintamas, 1956), 1956, hlm. 3. Lihat Susiknan Azhari, “Sa’adoeddin Djambek: Profil Pembaharu Pemikiran Hisab di Indonesia”, “Jurnal Mimbar Hukum, (Jakarta) no. 51 XII 2001.
_________, Salat dan Puasa di Daerah Kutub, (Jakarta: Tinta Mas), 1974.
Thomas Djamaluddin, Menggagas Fiqh Astronomi: Telaah Hisab-Rukyah dan Pencarian Solusi Perbedaan hari Raya, (Bandung: Kaki Langit),2005.
Wikipedia, “Holland Inlandsche School: adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914 seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang” dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Hollandsch-Inlandsche_School/ diakses 7 Juli 2012.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s