Ghibah atau Jarh wat Ta’dil ?


Akhir-akhir ini,  banyak sekali berita bertebaran di dunia maya tentang capres dan juga cawapres. Dari berita yang bertebaran itu,  kebanyakan adalah tentang berita keburukan atau kekurangan, terutama kekurangan sang capres.
Saya sering mengingatkan,  ke diri ini dan orang lain,  untuk berhati-hati. Kita jangan sampai men share atau membagikan sebuah berita buruk seseorang, karena kita akan terkena hukum yang sama dengan pembuat beritanya. Jika berita itu benar,  kita sudah termasuk menyebarkan aib orang lain,  ataupun ghibah. Jika itu berita palsu, kita sudah ikut menyebar fitnah. Keduanya sama buruknya untuk kita pribadi. Mungkin ada yang mengatakan bahwa hal itu ada manfaatnya,  tapi madharat,  kejelekannya akan lebih banyak kembali ke kita sendiri.
Ada juga yang mengatakan bahwa ini adalah bagian dari pendidikan politik,  pemberian informasi yang lengkap dan berimbang pada publik. Bahkan ada yang berusaha menyamakan hal ini dengan jarh wat ta’dil dalam ilmu hadis.
Tapi,  saya tetap mempertanyakan hal ini,  apakah betul ini semata-mata memberikan informasi,  ataukah sudah dibumbui dengan fitnah dan tendensius karena perbedaan pandangan politik? Benarkah ini untuk memberikan informasi yang valid supaya tidak seperti membeli kucing dalam karung,  ataukah karena sudah ta’ashshub, fanatik pada tokoh atau partai tertentu? Apakah ini mengkritik dalam rangka menyelamatkan agama dan ajarannya,  ataukah mengkritik karena hawa nafsu?
Monggo dipikirkan lebih jauh lagi manfaat dan madharatnya.
Surakarta, 20 mei 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s