Rukyah Qablal Ghurub (RQG) Solusi untuk Penyatuan hari Raya ?


Beberapa saat yang lalu, diadakan Festival dan Workshop Astrofotografi yang digagas oleh Agus Mustofa dengan mendatangkan Astrofotografer asal Prancis, Thierry Legault. Astrofotografi sendiri pada dasarnya bukan sesuatu yang baru, termasuk dalam keilmuan falak. Benda langit sudah menjadi obyek pengamatan sejak berabad-abad yang lalu. Hanya saja, perkembangan sains dan teknologi menjadikan aktifitas ini semakin mendapatkan kemudahan. Jika dulu pengamatan benda langit dilakukan di malam hari, maka saat ini pengamatan benda langit, termasuk bulan dan matahari dapat dilakukan di siang hari dengan menggunakan teleskop atau kamera digital yang dilengkapi filter, atau perangkat lunak pengolah citra, dsb. Dengan cara inilah, maka hilal yang dianggap sebagai “biang” perbedaan dalam memulai awal bulan hijriah dapat “ditemukan” tanpa menunggu terbenamnya matahari.
Beberapa kalangan mengatakan bahwa Rukyah Qablal Ghurub ini bisa menjadi solusi bagi penyatuan awal bulan hijirah, atau jembatan bagi hisab dan rukyah sehingga tidak ada lagi perbedaan dalam memulai awal bulan hijriah sebagaimana yang akhir-akhir ini terjadi. Rukyah Qablal Ghurub (RQG) dilaksanakan dengan memotret bulan sebelum terbenam matahari. Keberhasilan rukyah ini diharapkan dapat menjembatani penganut hisab yang hanya memperhitungkan wujudul hilal dan penganut rukyah yang mengharuskan “terlihatnya” hilal dengan adanya bukti otentik semisal potret hilal.
Wacana tentang penyatuan awal bulan hijriah atau bahkan penyatuan kalender Islam pada dasarnya sudah lama disuarakan. Hanya saja, penyatuan ini bisa diterima jika memenuhi dua prasayarat, yakni absah secara syar’i dan absah secara astronomis. Dua prasayarat ini bersifat kumulatif, artinya jika hanya absah secara syar’i saja atau astronomis saja, maka penyatuan ini akan sangat sulit untuk diwujudkan.
Secara astronomis, RQG mungkin tidak begitu bermasalah. Untuk dapat membidik bulan sebelum terbenamnya matahari bukanlah hal mustahil, dan memang sudah ada keberhasilan. Hanya saja, secara syar’i, RQG sangat sulit untuk dipertanggungjawabkan. Rukyah penentuan awal bulan yang absah didasarkan pada sebuah perhitungan yang akurat dan juga dilakukan sesuai ketentuan syari’at, diantaranya adalah tentang waktu pelaksanaannya, yaitu saat pergantian hari secara syar’i.
Dalam buku saya Kalender Hijriah Universal; Kajian atas Sistem dan Prospeknya di Indonesia dijelaskan tentang perbedaan pendapat tentang awal hari dalam kalender hijriah. Sebagian besar ulama mengatakan bahwa hari dan bulan hijriah dimulai dari terbenamnya matahari. Artinya, rukyah penentuan awal bulan syar’i bisa dikatakan absah secara syar’i apabila dilakukan setelah terbenamnya matahari sebagai awal pergantian hari atau bulan secara syar’i. Penampakan hilal sebelum terbenamnya matahari, sebagaimana yang ada dalam RQG, tidak dapat dijadikan sebagai dasar penentuan pergantian bulan hijriah. Hal ini menjadikan RQG sangat potensial memperuncing perbedaan tentang penentuan awal bulan hijriah yang selama ini ada, dan bukan menjadi solusi atas perbedaan itu.

Rabu, 14 Mei 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s