Golput


Semakin hari, jalanan seperti semakin penuh dengan baliho, poster caleg dan bendera partai. Dulu, saat belum begitu banyak, rasanya mata ini tidak begitu terganggu. Tapi akhir-akhir ini, mata terasa sangat terganggu dengan banyaknya baliho dan poster di pinggir jalan itu. Yang terkadang menambah “sedih” adalah poster-poster yang menempel di pohon. Pohon-pohon di pinggir jalan itu selain dipakai sebagai pembatas, menambah rimbun dan untuk kesehatan juga. Poster yang ditempel di pohon bisa merusak pemandangan dan menyebabkan pohon tidak sehat. Rasa-rasanya pengin nyopotin semua poster-poster itu, hehhhh…
Masih berkaitan dengan pemilu, beberapa kalangan ada yang menyuarakan tentang golput. Bahkan penelitian terbaru memprediksi pemilu tahun ini angka golput akan semakin tinggi. Ada yang mengharamkan golput karena berpendapat bahwa mengangkat pemimpin itu wajib, dan kita wajib memilih pemimpin yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan hukum Islam. Golput dianggap memberikan peluang orang yang tidak kapabel, kredibel, amanah atau apapun yang tidak sesuai kriteria syar’i untuk menjadi pemimpin. Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa Golput itu wajib.

Ikut serta dalam sebuah sistem yang rusak dan bertentangan dengan hukum Islam berarti melanggengkan sistem itu. Banyak argumentasi yang dibangun untuk menguatkan pendapat ini; mulai dari menjadikan suara terbanyak sebagai pemutus masalah, satu orang satu suara tanpa melihat kualitas orangnya, banyaknya calon pemimpin yang jauh dari kriteria sebagai pemimpin atau wakil rakyat, dsb.
Golput kan hak, bukan kewajiban. Jadi, pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan Golput. Artinya, pada dasarnya hukumnya “mubah” menurut saya. Boleh untuk menggunakan hak dan boleh untuk tidak menggunakannya. Hanya saja, hukum “mubah” memang hukum yang fleksibel. Artinya, hukum mubah bisa berubah menjadi wajib, sunah, makruh ataupun haram. Semuanya tergantung pada faktor yang mempengaruhi.
Saya tidak akan membahas detil hukum Golput. Lebih baik kita tidak mudah mewajibkan dan mengharamkan sesuatu yang mubah sampai kita mendapatkan dalil yang Qath’i.
Surakarta, 27 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s