الحسابات الفلكية وإثبات شهر رمضان (رؤية مقاصدية)


Karya Dzul Fiqar Ali Syah

(Virginia, al-Ma’had al-Islami li al-Fikr al-Islami, 2009)

Buku ini membahas tentang persoalan boleh dan tidaknya penentuan awal bulan hijriah, terutama bulan Ramadhan dengan menggunakan hisab. Persoalan ini salah satu persoalan yang diperdebatkan dan menjadi perbedaan, baik di kalangan ulama maupun umat Islam secara umum. Sebagian menyatakan keharaman penggunaan hisab, dan bahwa penggunaan hisab sudah menyelesihi nash-nash syar’i dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, dan sebagian yang lain menyatakan kebolehannya, bahkan menganggapnya sebagai yang paling mendekati dengan maksud Syari’ dalam penentuan awal bulan hijriah.

Penulis buku ini menyampaikan kedua pendapat tersebut secara panjang lebar, menampilkan dalil dari masing-masing dan memberikan analisis terhadap masing-masing dalil dan argumen.

Di akhir pembahasan dalam bukunya, penulis memberikan poin-poin sebagai berikut:

  1. Pendapat yang menyatakan bahwa telah terjadi ijma’ di kalangan fuqaha tentang larangan penggunaan hisab adalah pendapat yang tidak, tidak realistis dan tidak sesuai dengan sejarah. Pendapat ini dipakai oleh sebagian besar ulama’ pada masa lampau karena belum akuratnya hisab/perhitungan di masa itu.
  2. Ada sekelompok ulama dari tiga madzhab, selain madzhab Hambali, yang menyatakan kebolehan penggunaan hisab dalam penentuan awal bulan hijriah.
  3. Ilmu falak modern telah sampai taraf yang tinggi sari sisi akurasi dan kebenarannya sehingga telah mampu memperhitungkan saat kelahiran bulan, ada di atas ufuk atau belum dan ketinggiannya. Dan ini menjadi hisab lebih bisa absah dan dipertanggungjawabkan dibandingkan penglihatan dengan mata kepala tanpa alat.
  4. Jumlah ulama yang membolehkan penggunaan hisab semakin hari semakin banyak karena adanya kemudahan baik secara sosiologis maupun ekonomis.
  5. Kebolehan penggunaan hisab ini juga disampaikan oleh sebagian ulama Hanabilah kontemporer, seperti Mahmud Syakir, sebagaimana dikutip Ahmad Syakir tahun 1939 M.
  6.   Kelahiran bulan (wiladah al-qamar) baru adalah satu-satunya tanda yang dapat kita pakai untuk mengetahui waktu karena kelahiran bulan itulah tanda permulaan bulan. Waktu ini juga waktu yang dapat diketahui dengan sangat akurat sehingga dapat dipakai sebagai penentu awal bulan hijriah. Jika maksud utama dalam nash syari’i tentang penentuan awal bulan hijriah adalah akurasi dan keyakinan (ad-diqqah wa al-yaqini) dan bukan rukyah itu sendiri, maka hisab wiladah al-qamar dapat dipakai sebagai penentunya.
  7. Waktu GMT memang berlaku secara Internasional dan mempermudah pemetaan konsep waktu dan penanggalan. Hanya saja, karena posisi Mekah yang sangat penting, maka umat Islam diharapkan menjadikan Mekah sebagai dasar dalam penentuan awal bulan. Bulan baru hijriah akan dimulai dengan lahirnya bulan baru sebelum tenggelamnya matahari di Mekah, dan tetap berada di ufuq sampai setelah tenggelamnya Matahari walau sebentar.

Surakarta, 18 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s