المعايير الفقهية والفلكية في إعداد التقاويم الهجرية دراسة نظرية تطبيقية


(bagian ketiga)

Pada bab kedua, Penulis buku membahas tentang kriteria fiqhiyyah dalam menyiapkan kalender hijriah. Pada bagian awal, Penulis buku menjelaskan tentang hukum melakukan rukyah hilal, terutama Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal, yaitu fardhu kifayah. Ia juga mengingatkan bahwa ketinggian dan besarnya hilal tidak boleh dijadikan ukuran untuk penetapan awal bulan. Yang diperlukan untuk penetapan awal bulan adalah terlihat dan tidaknya hilal.

Selanjutnya, Penulis membahas tentang ikhtilaful mathali’ (perbedaan mathla’). Setelah panjang lebar menampilkan berbagai perbedaan tentang tema itu, ia mengatakan bahwa ikhtilaful mathali’ memang perlu diperhitungkan berdasarkan jauhnya jarak antara satu negara dengan yang lainnya, hanya saja wilayah yang tidak terlihat hilalnya harus berada di sebelah timur dari wilayah yang berhasil melihat hilal. Mengenai seberapa jauh sebuah wilayah itu dikatakan berbeda mathla’nya (dikatakan sangat jauh jaraknya), penulis hanya menyampaikan perkiraan yang ada dalam madzhab Maliki, yaitu perjalanan dua bulan (3226 km), atau perjalanan satu bulan dalam madzhab Hanafi. Setelah itu, penulis menyatakan bahwa menyatukan umat Islam di seluruh dunia dalam memulai dan mengakhiri puasa bukanlah termasuk tujuan syari’at (maqshad syar’i).

Pembahasan selanjutnya adalah tentang penggunaan hisab untuk menetapkan (itsbat) hilal. Ia mengatakan bahwa penggunaan hisab termasuk dalam wilayah sukut asy-Syari’, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang terlarang di luar yang telah ditetapkan dalam nash (rukyah dan ikmal). Hanya saja, yang perlu dibahas lebih lanjut adalah, apakah hisab saat ini sudah dapat menyampaikan pada maqshud asy-Syari’, yakni masuk dan keluar bulan Ramadhan dengan keyakinan ? Setelah panjang lebar menyampaikan tentang penentuan awal bulan dengan hisab dan perdebatan yang ada di dalamnya, ia mengatakan bahwa penggunaan hisab untuk penetapan awal bulan hijriah belum sampai pada taraf yang meyakinkan (al-yaqin) sehingga belum layak digunakan kecuali untuk menolak kesaksian orang yang melihat hilal jika bertentangan dengan hasil hisab, yaitu jika para ahli falak sepakat bahwa hilal mustahil terlihat. Ia juga memberikan catatan bahwa hisab hanya dapat digunakan saat langit dalam keadaan cerah. Artinya, jika dalam kondisi mendung, maka istikmal lah yang harus dipakai, bukan hisab.

Pembahasan terakhir pada bab ini adalah tentang puasa saat yaum asy-syakk. Pembahasan ini nampak dipakai untuk menguatkan pendapat sebelumnya, bahwa saat cuaca mendung istikmal lah yang harus dipakai.

 

Boyolali, 5 Maret 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s