المعايير الفقهية والفلكية في إعداد التقاويم الهجرية دراسة نظرية تطبيقية


(bagian kedua)

Melanjutkan bagian pertama tulisan tentang ringkasan buku, saya akan membahas dalam bagian ini tentang bab pertama. Bab pertama dalam buku ini terdiri dari beberapa sub bab, antara lain;

a.       Dasar disyari’atkannya waktu-waktu salat dalam al-Qur’an dan Sunnah

b.      Hukum penggunaan hisab dan peralatan falak untuk menghitung waktu salat

c.       Hukum penggunaan peralatan dan hisab dalam penentuan masuknya waktu salat

d.      Hukum melaksanakan salat dan waktu-waktu salat di wilayah yang tidak didapatkan tanda-tanda astronomis di waktu-waktu salat.

Sub bab pertama, pembahasan terfokus pada landasan syar’i, baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, tentang batas awal dan akhir waktu-waktu salat. Terkadang, penulis menyampaikan cara yang dipakai oleh orang-orang terdahulu dalam menentukan awal dan akhir waktu salat. Jika ada perbedaan pendapat tentang awal dan akhir waktu salat, penulis akan menyampaikan perbedaan tersebut dan dasar yang dipakai masing-masing pendapat. Ia kemudian mentarjih pendapat yang ada jika ia tidak dapat menemukan solusi untuk mengkompromikan perbedaan tersebut.  Misalnya ialah saat membahas tentang akhir waktu Maghrib yang ditandai dengan hilangnya syafaq. Ia mengatakan bahwa ada dua pendapat tentang makna syafaq, yaitu warna putih (Abu Hanifah, dll) dan warna kemerahan (Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah). Setelah menyampaikan dasar masing-masing, ia mengatakan bahwa pendapat yang dipilihnya adalah pendapat Abu Hanifah bahwa yang dimaksud syafaq adalah warna putih yang muncul setelah hilangnya warna merah. Di akhir kalimatnya, ia mengatakan bahwa secara hisab posisi matahari ada pada -15 derajat.

Saat membahas hukum penggunaan hisab dan peralatan falak untuk mengetahui waktu salat, ia merincinya dalam dua hukum, yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Fardhu kifayah jika berada pada sekelompok orang yang ada ahli falaknya. Jadi, jika seseorang tinggal di sekelompok umat Islam yang diantara mereka ada yang ahli dalam ilmu falak, maka ia tidak wajib mempelajari ilmu falak, karena ia diperbolehkan untuk taqlid. Fardhu ‘ain jika ia menjadi satu-satunya orang yang mengetahui ilmu falak. Jika seseorang dalam keadaan musafir, atau tidak ada orang lain yang dapat mengetahui waktu salat, maka fardhu ‘ain baginya mengetahui ilmu falak sebelum berangkat atau sebelum menempati wilayah yang tidak ada ahli falaknya.

Mengenai penggunaan perhitungan astronomis untuk masuknya waktu salat, ia mengatakan bahwa hal itu termasuk bid’ah hasanah. Hanya saja, jadwal salat hasil perhitungan astronomis ini ternyata sering sekali menghilangkan salah satu bentuk sunnah yang agung, yakni melakukan pengamatan terhadap matahari dan bulan. Hal inilah yang menjadikan seringnya terjadi kekacauan karena adanya banyak kesalahan perhitungan.

Ketika berbicara mengenai hukum menggunakan peralatan falak untuk mengetahui masuknya waktu salat, penulis terlebih dahulu menyampaikan tiga cara untuk mengetahui masuknya waktu salat, yaitu dengan melihat matahari dan syafaq secara langsung, dengan menggunakan peralatan falak seperti mizwalah, dan dengan menggunakan perhitungan astronomis atau jadwal salat dengan berdasar pada jam kontemporer. Kemudian, penulis menyampaikan adanya dua pendapat tentang boleh dan tidaknya penggunaan hisab falakiyah, yaitu pertama, boleh baik untuk Hasib dan orang lain, dan kedua, hanya boleh digunakan oleh Hasib sendiri, tidak untuk orang lain. Penulis kemudian memilih pendapat pertama.

Pada sub bab terkahir penulis membahas tentang penentuan waktu salat saat waktu tidak normal. Dalam hal ini, penulis menyampaikan pembahasan tentang tatacara penentuan salat saat kedatangan Dajjal (HR. Imam Muslim tentang Dajjal), tata cara salat di wilayah kutub, salat bagi orang yang berada di ruang angkasa atau berada di planet lain di luar bumi, dan juga salat bagi orang yang berada di kapal selam. Penulis menjadikan hadits tentang Dajjal sebagai dasar untuk menqiyaskan persoalan lain yang serupa, yakni tidak normalnya tanda-tanda astronomis seperti terbit dan terbenamnya matahari, atau munculnya syafaq dan fajar.

 

Boyolali, 4 Maret 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s