Memulai Itu Berat, Mempertahankan Itu Lebih Berat


Saya terisnpirasi kebiasaan dan tulisan-tulisan beberapa orang di Indonesia yang saya kenal; diantaranya Pak Imam Suprayogo atau Mas Nganinun Naim yang bisa meluangkan waktu untuk menghasilkan satu tulisan setiap harinya. Bila menarik ke waktu yang lebih lampau, mungkin bisa kita ambil contoh para ulama besar di dunia Islam yang karya-karya dan tulisan-tulisannya bisa kita nikmati sampai saat ini. Imam ath-Thabari, Imam as-Suyuthi, atau Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah misalnya, menghasilkan sangat banyak tulisan yang mungkin sulit diterima nalar saat ini. Imam ath-Thabari, misalnya, dikisahkan bahwa lembar-lembar karya tulisnya, jika dihitung lebih banyak dibandingkan umurnya sendiri. Dengan keterbatasan sarana pra sarana pada saat itu, tentu hal tersebut merupakan prestasi yang sulit untuk ditandingi, bahkan sampai saat ini.

Sebuah karya, bisa dikatakan akan memperpanjang “umur” si empunya. Kita masih bisa mengenal Imam ath-Thabari yang telah meninggal ribuan tahun yang lalu karena karya-karya beliau. Itu belum termasuk bila kita menghitung secara matematis “pahala” yang akan diterima beliau karena jutaan orang yang memanfaatkan karya-karya beliau. Subhanallah. Itu hanya beberapa manfaat dan hasil dari sebuah karya yang berupa tulisan.

Niat saya untuk mulai menulis secara rutin, pernah saya miliki saat saya menulis disertasi. Saat itu, saya memiliki target satu paragraf setiap harinya untuk menulis disertasi. Walaupun tidak benar-benar terlaksana seperti yang menjadi target tersebut, setidaknya saya bisa menyelesaikan disertasi dengan tidak terlalu molor dari yang seharusnya. Akan tetapi, selesainya disertasi membuat saya mengalami “mati suri” dalam tulis menulis. Mungkin faktor motivasi dan “paksaan” yang sudah mulai meredup. Niat itu kembali muncul setalah Mas Ngainun Naim berulang kali menyapa saya dengan tulisan-tulisannya. Saya semakin mempertanyakan ke diri sendiri, aku bisa tidak ya ?

Tulisan ini mungkin sekedar menjawab keraguan saya akan kemampuan saya sendiri. Saya tidak tahu apakah satu hari satu tulisan bisa tercapai, ataukah hanya satu tulisan satu minggu. Memulai ini adalah persoalan yang berat, akan tetapi mempertahankannya terasa akan lebih berat.

Sebenarnya, rasa berat ini mungkin bisa terminimalisir jika saya menjadikannya sebagai “kebutuhan”, “hobi” ataupun “hiburan”, bukan sebagai target yang membebani. Akan tetapi, tidak adanya target, bisa saja menjadi bumerang yang menjadikan “permulaan” ini sebagai “akhir”, atau menjadikan “kebangkitan” ini sebagai “kematian suri” kembali.

Itulah, maka saya katakana: “Memulai Itu Berat, Mempertahankan Itu Lebih Berat”.

Bandungan, 27 Februari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s