Resensi Buku Kalender Hijriah Universal (3)


Menelaah Sistem Menuju Persatuan Kalender Universal Fri, 12/07/2013 – 23:22 WIB Sistem penanggalan atau kalender sangat penting dalam mengatur interaksi antarsesama manusia baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Jika terjadi ketiadaan sistem tersebut dalam suatu komunitas, walau sesederhana apapun bentuknya, akan menimbulkan kekacauan. Fenomena yang terjadi di dunia islam, setiap ormas mempunyai kalender sebagai pegangan mereka masing-masing, namun tiada suatu kesepakatan dan persamaan pemahaman di antara mereka. Akibatnya walau sudah hadir sebuah kalender, namun masih ada suatu perbedaan yang dapat memecahkan mereka. Baru-baru ini umat islam mulai sadar akan pentingnya kehadiran sebuah sistem penanggalan yang dapat menjadikan semua umat islam di dunia menjadi satu kesatuan untuk menghindari jurang perpecahan. Khususnya dalam bidang penetapan waktu ibadah, seperti ibadah Ramadhan ketika bulan Ramadhan dan Syawal dan ibadah haji ketika bulan Dzulhijjah. Akibatnya mendorong para ulama dan pakar astronomi di dunia Islam untuk melakukan berbagai kajian agar menemukan solusi atas perbedaan tersebut. Salah satu bentuk ikhtiar dalam menemukan solusi atas perbedaan tersebut adalah dengan menawarkan sebuah kalender hijriah yang dapat dipakai oleh seluruh umat Islam dalam menentukan permulaan bulan hijriah ataupun tahun baru hijriah. Kalender ini dikenal dengan Kalender Hijriah Universal (Universal Hejric Calendar atau at-Taqwim al-Hijri al-‘Alami) yang diusulkan oleh Muhammad Shawkat Odeh (Muhammad Syaukat Audah) (halaman 5). M. Nashirudin dengan mengutip pendapat T. Djamaluddin dalam buku ini menyebutkan bahwa ikhtiar pembentukan Kalender Hijriah Universal dapat berlaku dan mapan jika mencakup tiga syarat yang sifatnya kumulatif, jika salah satu dari ketiga syarat itu tidak terpenuhi maka tidak dapat dikatakan sebagai sebbuah system kalender yang mapan. Pertama, adanya otoritas (penguasa) tunggal yang menetapkannya, kedua, adanya riteria yang bersifat konsisten yang disepakati dan ketiga, adanya batasan wilayah. Dilihat dari sudut pandang syarat tersebut di atas, Kalender Hijriah Universal sudah memenuhi dua syarat di antaranya, yaitu syarat kriteria dan wilayah keberlakuan. Kalender ini sudah menetapkan criteria baku tentang permulaan hari dengan menggunakan pedoman waktu terbenamnya matahari atau waktu maghrib. Sedangkan tempat dimulainya hari adalah tempat yang hilal mungkin bisa dilihat pertama kali saat sebuah hari dimulai. Mengenai konsep pergantian bulan kamariah, Kalender ini menjadikan imkanurrukyah, dengan kriteria visibilitas hilal Odeh. Usia hari dalam satu bulan adalah 29 atau 30 hari sesuai petunjuk dalam hadits Nabi SAW. Kriteria visibilitas hilal Odeh yang dipakai oleh Kalender Hijriah Universal merupakan kriteria visibilitas terbaru sampai saat ini dan memiliki akurasi yang tinggi karena dihasilkan dari observasi dalam rentang waktu yang panjang dan dalam jumlah yang besardan merupakan penyempurnaan terhadap kriteria-kriteria visibilitas yang ada sebelumnya ( halaman 156). Sedangkan mengenai wilayah keberlakuannya, Kalender Hijriah Unversal ini menggunakan sistem kalender bizonal, yakni Zona Timur, yang meliputi benua Australia, Asia, Afrika dan Eropa yang terletak antara 1800 BT sampai dengan 200 BB dan Zona Barat,yang meliputi dua benua Amerika yang terletak antara 200 BB sampai ujung Barat benua Amerika. Adapun syarat yang belum bisa terpenuhi yakni tidak adanya otoritas tunggal yang menetapkannya. Dengan tidak adanya otoritas keagamaan yang tunggal dalam islam, maka otoritas untuk menetapkan kalender hijriah dapat diserahkan pada masing-masing negara yang dikenal dengan konsep matla’ fi wilayah al-hukm, yaitu diserahkan kepada pemerintah negara. Buku yang merupakan hasil penelitian M. Nashirudin ini menemukan bahwa Kalender Hijriah Universal dengan konsep bizonal-nya sulit untuk dapat diberlakukan di Indonesia. Diantara sebabnya yakni belum tersosialisasikannya pemikiran tentang kalender Internasional dan terlalu luasnya wilayah yang belum imkanurrukyah untuk dipaksa masuk ke dalam wilayah yang sudah imkanurrukyah dalam konsep dua zona. ______________________________ Judul buku : Kalender Hijriah Universal Kajian Atas Sistem dan Prospeknnya di Indonesia Pengarang : Muh. Nashirudin Penerbit : EL-WAFA (Lembaga Studi Waris dan Falak) Cetakan : Pertama, April 2013 Tebal : xxvi + 244 halaman ISBN : 978-602-7969-01-8 Peresensi : Nafidatus Syafa’ah, anggota CSSMoRA IAIN Walisongo Semarang http://www.rimanews.com/read/20130712/110101/menelaah-sistem-menuju-persatuan-kalender-universal

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s