Awal Ramadan dan Syawal 1434 H


Awal Ramadan dan Syawal memang selalu menarik untuk diperbincangkan karena memiliki dampak yang besar terhadap beberapa persoalan, baik persoalan ibadah maupun administrasi. Persoalan memulai dan mengakhiri ibadah puasa, melaksanakan Idul Fitri, serta kapan hari libur nasional adalah persoalan yang berkaitan erat dengan awal Ramadan dan Syawal. Hal ini semakin menarik lagi diperbincangkan karena seringnya kontroveri tentang penentuannya.
Untuk awal Ramadan tahun 1434 H ini misalnya, ormas Muhammadiyah sudah menyampaikan maklumat bahwa awal Ramadan jatuh pada tanggal 9 Juli 2013. Maklumat ini didasarkan pada hasil hisab (perhitungan) yang menunjukkan bahwa ketinggian hilal di sebagian wilayah Indonesia sudah di atas ufuk (positif).
Hasil temu pakar BHR Kemenag RI tentang penentuan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijjah 1434 H, bahwa ketinggian hilal awal Ramadan dalam berbagai sistem hisab yang ada di Indonesia untuk seluruh wilayah Indonesia adalah antara -1 sampai 1 derajat. Hasil perhitungan ini menunjukkan kemungkinan akan munculnya perbedaan dalam permulaan Ramadan 1434 H di Indonesia kembali terbuka lebar. Dengan ketinggian yang di bawah 2 derajat, maka pemerintah (Kemenag) kemungkinan besar tidak akan menerima setiap kesaksian melihat hilal awal Ramadan, sehinggan akan terjadi penyempurnaan bulan Syakban menjadi 30 hari (istikmal). PERSIS yang sudah menggunakan kriteria visibilitas hilal LAPAN tentunya juga akan mengistikmalkan bulan Syakban. Sedangkan NU yang walaupun memakai rukyah untuk menetapkan awal bulan hijriah, akan tetapi tetap menjadikan kriteria MABIMS untuk filter hasil rukyah, sehingga kemungkinan besar NU juga akan mengistikmalkan bulan Syakban.
Dari catatan tersebut, Muhammadiyah kemungkinan besar akan menjadi satu-satunya ormas besar di Indonesia yang akan memulai Ramadan pada tanggal 9 Juli 2013. Sedangkan ormas PERSIS, NU dan juga pemerintah kemungkinan akan memulai Ramadan pada tanggal 10 Juli 2013. Pada titik ini, Muhammadiyah sering “dituduh” sebagai ormas yang sering berbeda dengan pemerintah. Muhammadiyah pun pada dasarnya menjadikan tanggal 9 Juli 2013 sebagai awal Ramadan dengan “mengorbankan” wilayah yang belum memasuki awal Ramadan karena garis tanggal 0 derajat membelah Indonesia menjadi dua bagian, sebagian telah memasuki tanggal (hilal positif) dan sebagian lain belum memasuki tanggal (hilal negatif). Akan tetapi, karena prinsip yang dipakai adalah wilayatul hukmi, maka seluruh wilayah dinyatakan sebagai telah memasuki bulan baru.
Hanya saja, jika kita mencermati hasil perhitungan awal bulan Syawal, maka persoalannya akan berbeda. Dengan ketinggian hilal sekitar 3,5 derajat, maka baik Muhammadiyah maupun Pemerintah akan memulai Syawal pada tanggal 8 Agustus 2013. Dan jika PERSIS konsisten dengan penggunaan kriteria LAPAN, maka PERSIS akan memulai Syawal pada tanggal 9 Agustus 2013. Sedangkan NU akan memulai Syawal sesuai hasil pengamatan di tanggal 29 Ramadan. Artinya, ada kemungkinan besar, PERSIS akan menjadi ormas yang “berbeda” dengan pemerintah dalam memulai Syawal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s