Muhammad al-Amin asy-Syinqithi dan Metode Tafsirnya


Biografi Singkat Muhammad al-Amin asy-Syinqithi

Muhammad al-Amin lahir di Tanbeh, propinsi Kifa, Syinqith pada tahun 1325 H (1907 M). Syinqith adalah Mauritania saat ini dan menjadi laqab para ulama Mauritania yang dikenal dengan Syanaqithah (ulama-ulama Syinqithi). Ia berasal dari sebuah keluarga pecinta ilmu dan terhitung kaya. Ayahnya meninggal ketika usianya masih belia. Ia telah berhasil menghafalkan al-Qur’an pada pamannya ketika umurnya 10 tahun. Setelah itu, ia belajar tentang rasm mushhaf ‘Utsmani, tajwid dan tilawah. Ia belajar dari istri pamannya pelajaran sastra Arab, baik nahwu, sharf, nasab dan silsilah Arab, sirah, sejarah.  Sedangkan fikih madzhab Maliki, ia belajar ke putra pamannya. Dan semuanya dijalaninya hingga ia berumur 16 tahun.[1] Ia terus mendalami berbagai keilmuan seperti balaghah, tafsir dan hadis ke beberapa ulama yang ada di wilayahnya saat itu.

Pada sekitar tahun 1367 H/1947 M ia melakukan perjalanan darat menuju Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji dengan niat untuk dapat kembali lagi ke negaranya. Akan tetapi, sesampainya di Arab Saudi ia memutuskan untuk menetap di sana. Di antara sebabnya adalah pertemuannya dengan dua orang ulama di Arab Saudi, Abdullah az-Zahim dan Abdul Aziz bin Shalih yang memperkenalkannya pada madzhab Hambali dan manhaj salaf. Ia kemudian melakukan diskusi tentang berbagai persoalan fikih dan akidah yang semakin memantabkannya untuk menetap di Arab Saudi. Dan inilah awal mula ia dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai bidang keilmuan; fikih, tafsir, hadis, bahasa dan sebagainya yang memberinya kesempatan untuk dipercaya sebagai salah seorang pengajar tafsir di Masjid Nabawi.[2]

     Aktifitas ilmiah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi sudah dimulai sejak ia berada di negaranya. Ia adalah salah seorang anggota Lajnah ad-Dima’ di Syinqith, sebuah lembaga yang memberikan keputusan akhir untuk dilaksanakan atau tidaknya eksekusi hukuman mati atau qishash. Ketika ia melakukan perjalanan darat untuk haji, ia singgah di berbagai wilayah untuk memberikan ceramah dan pengajaran. Ada sekitar 16 daerah mulai dari Mauritania hingga Sudan yang ia singgahi untuk memberikan pengajaran.[3]

Saat menjadi pengajar tafsir al-Qur’an di Masjid Nabawi, asy-Syinqithi menyelesaikan penafsiran seluruh al-Qur’an sebanyak dua kali dan meninggal dunia sebelum menyelesaikan yang ketiga kalinya. Aktifitas ini pada awalnya dijalaninya setiap hari selama satu tahun. Akan tetapi, ketika ia mulai menjadi pengajar di Fakultas Syari’ah dan Bahasa di Riyadh, ia hanya menjalani pengajaran tafsir al-Qur’an di Masjid Nabawi pada liburan musim panas. Ini dijalaninya mulai tahun 1371 H /1951 M dan berlanjut hingga tahun 1381 H/1961 M saat ia menjadi pengajar di Universitas Islam (al-Jami’ah al-Islamiyyah) di Madinah. Dan sejak tahun 1385 H/1965 M ia hanya mengajarkan tafsir al-Qur’an di Masjid Nabawi di bulan Ramadhan. Selain itu, ia juga mengajar tafsir al-Qur’an di Dar al-‘Ulum di Madinah pada tahun 1369-1370 H/1949-1950 M.[4]

Sebagai pengajar di Universitas Islam di Madinah, asy-Syinqithi mengajar mata kuliah tafsir, ushul fikih, dan juga adab al-bahts wa al-munadzarah selama 12 tahun hingga ia meninggal di tahun 1393 H/1973 M.[5] Keterlibatan asy-Syinqithi dalam pengajaran di Universitas Islam Madinah menjadikannya berperan lebih besar dalam penyebaran keilmuan dengan jaringan yang lebih besar. Hal ini karena mahasiswa di Universitas Islam Madinah tidak hanya terdiri dari mahasiswa Arab Saudi, akan tetapi dari seluruh penjuru dunia. Perluasan jaringan keilmuannya di dunia Islam ini juga semakin terasa saat tahun 1375 H/1955 M ia menjadi utusan Universitas Islam Madinah ke 10 negara Islam mulai dari Sudan hingga tanah kelahirannya, Mauritania selama hampir dua bulan.[6]  

Selama masa hidupnya, asy-Syinqithi telah menghasilkan berbagai karya ilmiah, baik saat ia masih berada di tanah kelahirannya maupun saat ia sudah menetap di Arab Saudi. Di antara karyanya adalah:

  1. Khalish al-Juman yang berisi tentang silsilah atau nasab Arab. Karya ini dihasilkannya saat ia masih remaja.
  2. Rajaz dalam fikih Maliki yang berkaitan dengan bab jual beli, terdiri dari ribuan bait.
  3. Alfiah dalam Ilmu Manthiq.
  4. Nadzm Fara’idh.
  5. Man’ Jawaz al-Majaz fi al-Munazzal li at-Ta’abbud wa al-I’jaz yang berisi tentang pandangannya bahwa majaz tidak boleh diberlakukan dalam ayat-ayat tentang Asma’ wa ash-Shifat.
  6. Adab al-Bahts wa al-Munadzarah. Karya ini dijadikan sebagai buku pegangan perkuliahan dalam mata kuliah yang sama yang diajarkannya di Universitas Islam Madinah.
  7. Daf’ Iham al-Idhthirab ‘an Ayi al-Qur’an yang berisi tentang penyelesaian ayat-ayat al-Qur’an yang nampak saling bertentangan.
  8. Mudzakkirah al-Ushul ‘ala Raudhah an-Nadzir yang berisi penjelasan (syarh) kitab Raudhan an-Nadzir dalam bidang Ushul Fikih. Ia berusaha memadukan Ushul Fikih dalam madzhab Hambali, Maliki dan Syafi’i dalam karya ini. Kitab ini juga menjadi pegangan dalam mata kuliah Ushul Fikih di Fakultas Syari’ah dan Dakwah Universitas Islam Madinah.
  9. Rihlah al-Hajj ila Baitillah al-Haram. Karya ini adalah kumpulan jawaban asy-Syinqithi terhadap berbagai persoalan yang disampaikan padanya selama masa perjalanannya dari Mauritania ke Arab Saudi untuk haji. Persoalan yang disampaikan meliputi tafsir, hadis, fikih, sastra, bahasa, akidah, manthiq, sejarah dan bahkan ilmu alam.
  10. Adhwa’ al-Bayan yang merupakan karya terbesarnya dalam bidang tafsir yang terdiri dari 7 juz. Hanya saja ia baru menyelesaikannya hingga akhir surat Al-Mujadilah. Dan muridnya, Athiyyah Muhammad Salim, menyelesaikan tafsir ini hingga akhir surat an-Nas.

Selain karya-karya tersebut, asy-Syinqithi juga menghasilkan beberapa makalah dalam berbagai bidang, yaitu fikih, tafsir, hadis, akidah, ushul fikih dan juga bahasa. Selain itu, ia juga telah berperan besar dalam menghasilkan para tokoh dan ulama besar di dunia Islam yang perannya masih terasa hingga saat ini.[7]

 

Metode Tafsir dan Fiqh asy-Syinqithi dalam Adhwa’ al-Bayan

Melalui penafsirannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan terutama ayat-ayat hukum yang menjadi fokus dalam tulisan ini, dan juga penjelasan singkatnya atas metode yang dipakainya dalam penafsiran al-Qur’an, dapat diketahui bahwa dalam menafsirkan al-Qur’an, asy-Syinqithi menggunakan dua metode pokok, yakni metode literer/naqli (al-manhaj an-naqli) dan metode rasional/‘aqli (al-manhaj al-‘aqli). Metoder naqli yang dimaksud dalam hal ini adalah metode penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan al-Qur’an, al-Hadits dan Ijma’. Sedangkan metode ‘aqli yang dimaksud dalam hal ini adalah penggunaan metode-metode rasional dalam penafsiran al-Qur’an seperti qiyas, analisis kebahasaan dan ushul fikih.

 Mengenai metode penafsiran naqlinya, ia mengatakan dalam pendahuluan tafsirnya:

“…. واعلم أن من أهم المقصود بتأليفه أمران: أحدهما بيان القرأن بالقرأن لإجماع العلماء على أن أشرف أنواع التفسير وأجلها تفسير كتاب الله بكتاب الله, إذ لا أحد أعلم بمعنى كلام الله من الله جل وعلا…”[8]

 

Hal ini menunjukkan bahwa asy-Syinqithi berusaha untuk menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. Dan ini adalah metode yang juga dijalankan oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para ulama setelahnya yang dikenal dengan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an. Hal ini karena terkadang suatu ayat turun di satu tempat secara mujmal, atau muthlaq atau ‘amm, dan ditemukan penjelasannya secara mubayyan, muqayyad dan mukhashshash di tempat yang lain.[9]

Misal dalam hal ini adalah saat asy-Syinqithi membahas pernikahan antara muslim dengan non muslim. Ia menegaskan tentang makna musyrik dan ahl al-kitab dalam surat al-Baqarah: 22 dengan menghadirkan surat al-Ma’idah:5, al-Bayyinah: 1 dan 6, al-Baqarah: 105, dan at-Taubah: 30-31.[10]

Selain itu, asy-Syinqithi juga menafsirkan al-Qur’an dengan Hadis. Ia mengatakan;

“…واعلم أن مما التزمنا في هذا الكتاب المبارك أنه  إن كانت للأية الكريمة مبين من القرأن غير واف بالمقصود من تمام البيان فإنا نتمم البيان من السنة من حيث إنها تفسير للمبين…”[11]

 

Asy-Syinqithi terhitung sangat banyak mengutip hadis untuk menguatkan penjelasan atas sebuah ayat, menafsirkannya ataupun menjadikannya sebagai dalil dalam menentukan sebuah hukum. Bahkan sebagian besar dalil yang disampaikan oleh asy-Syinqithi dalam tafsir ayat-ayat hukum adalah hadis. Saat menafsirkan surat al-Baqarah: 229, ia berbicara tentang talak tiga dengan satu lafadz dan mengemukakan pendapat para ulama yang menyatakan keabsahan dan tidaknya, dan perdebatan antara ulama’ tentang masalah tersebut. Dengan panjang lebar, ia membahas masalah ini dengan menyebutkan banyak hadis yang menguatkan kedua pendapat, kemudian mentarjih antar pendapat tersebut dengan menyebutkan kelemahan dan kekuatan masing-masing pendapat.[12]  

Selain itu, asy-Syinqithi juga sering mengutip ijma’ dan kesepakatan para ulama atas sebuah permasalahan hukum untuk menguatkan penjelasannya setelah mengutip ayat al-Qur’an atau hadis. Misalnya adalah saat ia membahas masalah kafarah dzihar.[13]

Mengenai metode ‘aqli atau rasional yang dipakai, asy-Syinqithi pada dasarnya bertumpu pada beberapa sumber, antara lain ushul fiqh dan kaidah fiqhiyyah, bahasa, dan penalaran murni. Hanya saja, sumber-sumber ini digunakan untuk menguatkan metode naqli, memperjelas makna yang ada atau digunakan saat tidak ada nash yang jelas dalam masalah yang dibahas.  

Tentang metodenya dalam masalah fiqh, ia mengatakan dalam pendahuluan tafsirnya tentang tujuannya dalam mengarang tafsir:

“…بيان الأحكام الفقهية في جميع الأيات المبينة –بالفتح-  في هذا الكتاب, فإننا نبين ما فيها من الأحكام وأدلتها من السنة, وأقوال العلماء في ذلك, ونرجح ما ظهر لنا أنه الراجح بالدليل من غير تعصب لمذهب معين ولا لقول قائل معين, لأننا ننظر إلى ذات القول لا إلى قائله, لأن كل كلام فيه مقبول ومردود إلا كلامه صلى الله عليه وسلم, ومعلوم أن الحق حق ولو كان قائله حقيرا.”[14]  

 

Karena Adhwa’ al-Bayan adalah kitab dalam bidang tafsir, dan bukan dalam bidang fikih, maka tentu saja tidak disusun dengan urutan bab-bab dalam fikih. Asy-Syinqithi berbicara tentang masalah hukum apabila ia melewati ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum (ayat al-ahkam). Hanya saja, saat ia melewati ayat-ayat hukum dan berbicara tentang masalah fikih, ia membuat urutan-urutan pembahasan secara baik dan detil. Saat berbicara tentang masalah dzihar misalnya, ia membuat bab tersendiri tentang dzihar, membagi pembahasannya dalam 17 masalah, dan membagi beberapa masalah yang ada dalam beberapa cabang masalah (far’). Dan itu dilakukannya dalam masalah-masalah yang lain.

Ketika berbicara dalam sebuah masalah yang menimbulkan banyak perbedaan pendapat, asy-Syinqithi selalu menuturkan berbagai pendapat yang ada, menyebutkan dalil-dalil yang dipakai oleh setiap kelompok, dan kemudian melakukan perbandingan antar dalil (munaqasyah al-adillah). Jika perbedaan tidak begitu kuat, ia hanya menyebutkan perbedaan antar ulama dan dalil masing-masing tanpa melakukan perbandingan antar dalil. Dalam menjelaskan perbedaan pendapat, sering sekali ia mengutip pendapat para ulama dan member sedikit komentar atas perbedaan tersebut sekedar menjelaskan kelemahan atau keunggulan satu pendapat atau mentarjih pendapat yang dianggapnya kuat.

Hanya saja, dalam menjelaskan pendapat dalam beberapa madzhab, ia seringkali mendahulukan pendapat Imam Malik. Hal ini menunjukkan bahwa ia memang lebih cenderung pada madzhab Maliki, madzhab yang pernah dianutnya saat ia belum berpindah ke Arab Saudi. Akan tetapi, ia tidak fanatik (ta’ashshub) pada madzhab Maliki. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah saat ia menjelaskan perbedaan ulama tentang makna al-qur’dan masalah khulu’.[15]


[1] ‘Athiyyah Muhammad Salim, Tarjamah asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi dalam Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’ al-Bayan, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), juz X/274, juga dalam Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Rihlah al-Hajj ila Baitillah al-Haram, (Jeddah: Dar asy-Syuruq, 1983), hlm. 14-15.

[2] Ibid. Juz X/284

[3] Abdurrahman as-Sudais, Tarjamah asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, (Riyadh: Dar al-Hijrah, 1411 H), hlm. 178.

[4] Athiyah Muhammad Salim, Tarjamah, X/286, Abdurrahman as-Sudais, Tarjamah, hlm. 69.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Lihat dalam Abdurrahman as-Sudais, Tarjamah asy-Syaikh, hlm. 213-216, Abdul Aziz ath-Thauyan, Juhud asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi fi Taqrir ‘Aqidah as-Salaf, (Riyadh: Maktabah al-‘Abikan, 1998), hlm. I/72-76, Abdullah ath-Thayyar, Mansak al-Imam asy-Syinqithi, (Riyadh: Dar al-Wathan, 1996 H), hlm. 29-30

[8] Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’, juz I/7.

[9] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (t.t.t: Mansyurat al-‘Ashr al-Hadits, t.t), hlm. 335.

[10] Lihat Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Adhwa’, juz I/116

[11] Ibid., juz I/23.

[12] Ibid., juz I/129-139.

[13] Lihat ibid., juz 6/362-363.

[14] Lihat ibid., juz 1/7

[15] Lihat ibid., juz I/121, 164.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s