Kesatuan atau Kebetulan Sama dalam Memulai Ramadan ?


Umat Islam boleh sedikit lega dalam menghadapi awal bulan Ramadan 1432 H karena “kemungkinan besar” dua ormas Islam di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama akan sama dalam memulai bulan suci Ramadan.  Dalam sebuah Lokakarya Hisab Awal Bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijjah 1432 yang penulis ikuti pada tanggal 27 Juli 2011 di Semarang yang lalu dicapai sebuah hasil perhitungan tentang konjungsi dan posisi hilal. Ijtima’ atau konjungsi akhir bulan Syakban misalnya diketahui pada hari Ahad Kliwon, 31 Juli 2011 jam 01.40 WIB dengan ketinggian hilal mencapai 6,51 derajat. Dengan ketinggian hampir 7 derajat dan jika cuaca “mendukung”, maka hilal “kemungkinan besar” dapat teramati. Apabila hal ini terjadi, maka baik Muhammadiyah yang sudah menyampaikan hasil penetapan awal bulan Ramadannya, maupun NU akan memulai bulan Ramadan pada tanggal 1 Agustus 2011. Hanya saja, persoalannya tidak akan berhenti di sini karena kebersamaan yang terjadi ini bukan karena sebuah “kesepakatan” antar ormas-ormas Islam dalam memulai awal bulan hijriah, akan tetapi lebih kepada sebuah “kebetulan” semata. Hal ini bisa dilihat pada permulaan Syawal yang akan datang. Ijtima’ atau konjungsi akhir bulan Ramadan terjadi pada hari Senin Wage tanggal 29 Agustus 2011 dengan katinggian hilal sekitar 1,40 derajat. Dengan ketinggian hilal di bawah 2 derajat ini, maka hilal “kemungkinan besar” tidak dapat terlihat. Dengan kemungkinan tidak terlihatnya hilal, padahal posisi hilal positif, maka kemungkinan terjadinya perbedaan sangat besar.

Hal ini karena ormas Islam yang menggunakan wujudul hilal sebagai kriteria masuknya bulan baru hijriah, seperti Muhammadiyah akan menetapkan awal bulan Syawal pada tanggal 30 Agustus 2011, sedangkan ormas Islam yang menggunakan rukyah atau termatinya hilal sebagai kriteria masuknya awal bulan hijriah, termasuk pemerintah, akan memulai Syawal pada tanggal 31 Agustus 2011 jika hilal memang tidak teramati saat observasi.

Ormas Islam yang kemungkinan menetapkan awal Syawal pada tanggal 30 Agustus 2011 mensyaratkan dua hal bagi terpenuhinya bulan baru hijriah, yaitu terjadinya konjungsi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub) dan bulan terbenam setelah terbenamnya matahari (moonset after sunset). Bila kedua syarat ini terpenuhi, berapapun ketinggian hilal, maka sudah terjadi pergantian bulan hijriah. Karena kedua persyaratan tersebut dapat diketahui dengan perhitungan (hisab), maka pergantian bulan dapat ditentukan lebih awal, bahkan untuk bertahun-tahun ke depan. Sistem ini memang lebih menguntungkan dan prkatis, akan tetapi terdapat beberapa penafsiran atas teks-teks tentang perintah melakukan rukyah yang tidak dapat diterima oleh sebagian ulama yang berpegang pada pemahaman tekstual teks-teks tersebut.

Potensi terjadinya perbedaan muncul, di antaranya karena sebagian ormas menjadikan kenampakan hilal sebagai syarat pergantian bulan baru hijriah. Oleh karena itulah, rukyah (observasi) hilal harus dilakukan dan kenampakan hilal dijadikan sebagai ukuran utama masuk atau tidaknya bulan baru hijriah. Apabila dalam observasi, hilal dapat dilihat, maka hari setelahnya dihitung sebagai permulaan bulan baru hijriah. Sebaliknya, apabila hilal tidak dapat dilihat, maka hari berikutnya belum dianggap sebagai permulaan bulan baru hijriah. Sesuai dengan petunjuk dalam hadis-hadis Nabi, apabila pada saat proses rukyah hilal ternyata tertutup mendung (tidak dapat dilihat), maka bulan tersebut harus digenapkan menjadi tiga puluh hari (istikmal). Potensi perbedaan terjadi karena posisi hilal saat observasi di bawah kriteria yang dianut oleh Kemenag yang merupakan kriteria MABIMS, yakni tinggi minimal hilal minimal adalah 2 derajat di atas ufuk, jarak sudut bulan-matahari minimal 3 derajat, dan umur bulan minimal 8 jam. Walaupun ketinggain hilal saat itu sudah melebihi kriteria minimalnya, akan tetapi umur bulan masih di bawah kriteria yang ditetapkan. Untuk awal Syawal 1432 H, secara teoritis, hilal tidak akan terlihat saat pengamatan sehingga bulan Ramadan akan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal) dan awal Syawal 1432 H akan jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011.

Para pakar astronomi dan ilmu falak Indonesia sudah beberapa kali bahkan sering melakukan kajian, penelitian, dan pertemuan tentang upaya menghilangkan atau meminimalisir kemungkinan perbedaan umat Islam dalam memulai bulan baru hijriah terutama bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijjah. Dalam pandangan penulis, ada beberapa opsi yang mungkin diambil untuk merealisasikan hal ini:

Pertama, penyatuan kriteria. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa perbedaan dalam memulai bulan baru hijriah di Indonesia disebabkan perbedaan antara madzhab hisab dengan madzhab rukyah. Hal ini tidak bisa dikatakan salah, walaupun juga tidak bisa dikatakan benar. Tidak bisa dikatakan salah karena sampai saat ini, perbedaan dalam memahami teks-teks al-Qur’an dan as-Sunnah tentang hisab rukyah memang belum bisa disatukan. Akan tetapi, kedua madzhab tersebut paling tidak memiliki satu kesamaan pendapat, yakni bahwa ilmu hisab (pemodelan) dan rukyah (observasi) merupakan dua hal yang saling melengkapi dan saling mendukung. Ilmu hisab dibutuhkan supaya observasi yang dilakukan didasarkan pada perhitungan yang tepat dan teliti sehingga tidak akan terjadi kesalahan dalam melakukan rukyah sebagiamana yang pernah terjadi. Madzhab rukyah sepakat untuk menolak kesaksian melihat hilal, jika perhitungan (hisab) menunjukkan bahwa hilal tidak mungkin terlihat atau saksi salah dalam menjelaskan posisi hilal. Sebaliknya, observasi sangat dibutuhkan untuk terus memperbarui data-data perhitungan yang ada sebelumnya sehingga pemodelan yang berkembang menjadi lebih baik dan akurat.

Perbedaan antara madzhab hisab dan rukyah juga tidak bisa dikatakan sebagai sebab utama perbedaan, karena perbedaan antara sesama madzhab hisab atau sesama madzhab rukyah pun selama ini tetap terjadi. Sebagian kalangan mengatakan bahwa perbedaan terjadi karena mereka berbeda dalam membuat kriteria masuknya bulan baru hijriah. Oleh karena itu, yang perlu disatukan adalah kriteria. Apabila kriteria sudah sama, maka kemungkinan terjadi perbedaan sangatlah kecil. Selama ini, paling tidak ada tiga kriteria yang seolah selalu mengalami benturan dalam menentukan pergantian bulan baru hijriah, yaitu wujudul hilal, rukyah dan imkanurrukyah (2 derajat). Imkanurrukyah yang dipakai oleh Kemenag selama ini pada dasarnya dianggap sebagi jalan tengah untuk mempersatukan antara hisab wujudul hilal dan rukyah, akan tetapi ketinggian (irtifa’/altitude) hilal 2 derajat dianggap masih jauh dari batas minimal dapat dilihatnya hilal dalam dunia astronomi. Oleh karena itu, beberapa kajian terbaru berusaha untuk memperbaiki kriteria tersebut seperti kriteria visibilitas hilal tawaran dari LAPAN atau kriteria visibilitas hilal tawaran Rukyatul Hilal Indonesia (RHI). Kriteria LAPAN memiliki keunggulan dari sisi sumber data yang diambil dari hasil pengamatan yang terdokumentasikan di Departemen Agama. Hanya saja, kriteria ini, di satu sisi belum dapat diterima oleh pihak Kemenag terbukti belum dijadikannya kriteria ini sebagai kriteria resmi di Kemenag, dan di sisi lain kriteria LAPAN masih dianggap jauh dari kriteria Internasional. Kriteria RHI mungkin merupakan kriteria yang sesuai dengan kriteria Internasional, akan tetapi kriteria ini harus menghilangkan banyak laporan rukyatul hilal yang terdokemuntasikan di Depag di satu sisi dan harus melalui banyak sosialisasi agar dapat diterima oleh masyarakat Indonesia di sisi yang lain.

Opsi kedua yang bisa ditawarkan adalah penyatuan kalender hijriah. Penyatuan kalender hijriah merupakan sebuah “proyek” besar umat Islam di seluruh dunia. Paling tidak, saat ini ada dua wacana kalender hijriah yang mengemuka di dunia Islam, yaitu kalender Islam zonal yang membagi dunia ini dalam zona-zona yang masing-masing zona berlaku kalender yang sedikit berbeda dari zona yang lain dan Kalender Islam Terpadu. Kalender Islam zonal yang saat ini sangat mungkin diterpakan adalah kalender bizonal tawaran M. Shawkat Odeh, salah seorang pakar ilmu falak dari Yordania. Dia membagi dunia ini dalam dua zona; Barat yang meliputi benua Amerika dan Amerika Selatan dan Timur yang meliputi benua Eropa, Afrika, Asia dan Australia yang sebagian besar dunia Islam ada di zona ini. Jika perhitungan menunjukkan bahwa hilal mungkin dirukyah di satu zona, maka hari besuknya merupakan permulaan bulan baru hijriah untuk zona tersebut. Kalender ini, setidaknya memiliki dua kelebihan mendasar, pertama, adanya kesamaan dalam memulai bulan baru di seluruh dunia Islam dan ini bisa menjadi salah satu solusi terjadinya perbedaan di antara umat Islam dalam memulai bulan baru hijriah; kedua, karena menggunakan hisab imkanurrukyah (kriteria visibilitas hilal diambil dari data-data pengamatan hilal di seluruh dunia dalam jangka panjang) permulaan bulan baru dapat diketahui lebih awal dan untuk jangka panjang tanpa harus menunggu rukyah faktual.

Kalender Islam Terpadu menjadikan seluruh dunia dalam satu kesatuan kalender hijriah tanpa harus membaginya dalam zona-zona tertentu. Kalender ini memang sekilas sangat “ambisius” dalam usaha menjadikan seluruh dunia dalam satu kesatuan penanggalan hijriah. Akan tetapi, beberapa kalangan sulit menerima konsep kalender ini karena sering terjadi permulaan bulan baru hijriah sedangkan hilal tidak mungkin teramati di sebagian besar wilayah dunia Islam.

Harus ada pilihan dari pemerintah untuk menentukan solusi permasalahan hisab rukyah di Indonesia. Setiap pilihan memang selalu membawa resiko yang harus kita tanggung bersama. Ketika pemerintah memilih untuk membiarkan permasalahan ini tanpa solusi seperti yang terjadi saat ini, pemerintah telah mengambil resiko untuk membiarkan umat Islam selalu dalam kemungkinan berbeda dalam memulai bulan baru hijriah. Tidak ada pihak yang dikorbankan oleh pemerintah dalam hal ini, kecuali persatuan dan kesatuan umat Jika pemerintah memilih salah satu dari opsi yang disampaikan di atas, harus ada pihak yang “dikorbankan” akan tetapi dengan sebuah hasil yang lebih besar, yaitu kesatuan dan persatuan umat. Perlu ada political will dari pemerintah dan juga ketegasan untuk sebuah kemaslahatan bersama yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s