HISAB AWAL BULAN SISTEM NURUL ANWAR


HISAB AWAL BULAN SISTEM NURUL ANWAR

 

I . PENDAHULUAN

Di Indonesia mayoritas orang-orang muslimnya memakai madhab Syafi’i. Seperti yang telah kita ketahui bersama; di dalam madzhab Syafi’i kita ketemukan adanya pendapat ulama’ yang mengatakan bolehnya pemakaian ilmu hisab dalam menentukan masuknya awal bulan hijriyah, oleh karena itulah tidak heran kalau ilmu hisab di Negara kita ini berkembang sedemikian pesatnya, hal ini bisa kita lihat dari adanya berbagai macam sistem hisab awal bulan yang berkembang di Indonesia, diantaranya:

  1. Astronomical Algorithms, oleh Jean Meeus, Belgia, Eropa.
  2. Badiatul Mitsal , oleh Ma’shum bin Ali, Jepara
  3. Ephemeris Hisab Rukyah, oleh Depag RI
  4. Fathur Roufil Mannan, oleh Abu Hamdan Abdul Jalil, Kudus
  5. Hisab Awal Bulan, oleh Sa’adoeddin Djambek, Jakarta
  6. Hisab Urfi dan Hakiki, oleh KRT Wardan, Yogyakarta
  7. Ittifaqu Dzatil Bain, oleh KH M Zuber, Gresik
  8. Al-Khulashotul Wafiyah, oleh Zubair Umar Al-Jaelani, Salatiga
  9. Al-Manahijul Hamidiyah, oleh Abdul Hamid Mursiy
  10. Matlaus Sa’id, oleh Husein Za’id, Mesir
  11. New Comb, oleh LAMY, Yogyakarta
  12. Nurul Anwar, oleh Nur Ahmad Shidiq Saryani, Jepara
  13. Qowa’idul Falakiyah, oleh Abdul Fatah At-Thuhi, Mesir
  14. Sullamun Nayyiroin, oleh Mohammad Mansur bin Abdul Hamid, Jakarta
  15. Risalatul Qomaroin, oleh KH Nawawi, Kediri.
  16. Dan lain-lain.

Dari sekian buku hisab awal bulan diatas, buku Nurul Anwar karangan KH. Nur Ahmad S. merupakan buku hisab awal bulan yang modern dan memiliki keistimewaan antara lain :

  1. Sistem penggarapannya tidak lagi menggunakan buruj, melainkan dengan derajat.
  2. Alat pembantunya menggunakan kalkulator/computer.
  3. Proses pemahamannya sangat mudah dan simple
  4. Dapat menentukan posisi kedudukan Matahari, Bulan, Gerhana Bulan dan Matahari, kapanpun dan dimanapun bersifat internasional.
  5. Data-datanya sangat tepat dan akurat.

Di dalam makalah ini akan dibahas cara penentuan awal bulan hijriyah dengan menggunakan metode kitab Nurul Anwar, hanya saja penggunaan Rubu’ dalam Kitab Klasik diganti dengan kalkulator dengan pertimbangan kepraktisan dan keakuratan yang lebih tinggi. Tetapi sebelum kita melangkah lebih jauh ada baiknya jikalau kita mengetahui istilah-istilah yang berada dalam dunia ilmu Falak hususnya istilah yang ada dalam kitab Nurul Anwar sehingga diharapkan kita akan lebih cepat mengerti dan bisa dalam menentukan awal bulan hijriyah dengan metode kitab tersebut.

Berikut beberapa istilah dalam dunia ilmu Falak dan kitab Nurul Anwar beserta penggambarannya:

1. قطب الأرض

Coba hadirkan dalam hayalan kita sebuah bola langit dan ditengah-tengahnya bola dunia; yang bentuknya lebih kecil. Hayalkan bola bumi itu berputar dari barat ke timur, menurut suatu pola seolah-olah ia berputar pada sebuah poros. Kita akan melihat semua titik di permukaan bola bumi itu bergerah dari barat ke timur pula, kecuali dua buah titik yang tidak bergerak, satu di utara dan yang satunya di selatan. Kedua titik ini dinamakan قطب الأرض, yang dalam bahasa Indonesianya dinamakan Kutub Bumi (kutub bumi utara dan kutub bumi selatan). Sekarang tariklah sebuah garis tegak lurus pada kedua قطب الأرض tersebut hingga mencapai bola langit, maka ujung garis itu akan menyentuh suatu titik pada bola langit yang dinamakan Kutub Langit. Kutub langit utara berada tepat di atas kutub bumi utara sedangkan kutub langit selatan berada tepat diatas kutub bumi selatan

الإستوء خط

Buatlah suatu lingkaran secara melintang pada bola dunia yang membelah bola dunia menjadi dua bagian yang sama (masing-masing 90°), yakni belahan utara dan selatan. Lingkaran tersebut dinamakan الإستوء خط yang dalam bahasa Indonesianya dinamakan Khatulistiwa Bumi.

Jika lingkaran khatulistiwa diperbesar hingga mencapai bola langit, maka pada bola langit tercipta sebuah lingkaran yang dinamakan النهار معدل, dalam bahasa Indonesianya dinamakan Khatulistiwa langit atau Equator.

الأرض طول , السماء طول dan البلد طول

Sekarang mari kita berdiri diatas permukaan bumi. Kemudian tariklah dari tempat kita berdiri sebuah garis lurus ke utara sampai ke kutub utara, dan ke selatan sampai ke kutub selatan. Garis itu dinamakan الأرض طول yang dalam bahasa Indonesianya dinamakan Garis Bujur Bumi atau yang dikenal dengan sebutan garis bujur saja.

Sedangkan jika garis bujur bumi diperluas hingga mencapai bola langit, maka pada bola langit tercipta sebuah garis, garis inilah yang dinamakan السماء طول , dalam bahasa Indonesianya : Garis Bujur Langit.

Kesepakatan internasional menetapkan permulaan perhitungan garis bujur bumi (bujur 0°), di mulai pada garis bujur yang melintasi kota Greenwich di Inggris. Jarak antara garis bujur yang melintasi suatu tempat dengan garis bujur yang melintasi kota Greennwich itulah yang dinamakan البلد طول, dalam bahasa Indonesianya Bujur Tempat. Dari bujur Greenwich ke arah timur sampai 180° dinamakan bujur timur yang ditandai nilai negatip, dan ke arah barat sampai 180° dinamakan bujur barat, nilainya positip. Tanda nilai bujur ini berhubungan dengan waktu, artinya untuk mendapatkan standar waktu internasional GMT (UT), wilayah timur (bujur timur) harus dikurangi angka tertentu. Sebaliknya, bujur barat harus ditambah angka tertentu.

Garis bujur timur 180° dan garis bujur barat 180° bertemu dan berhimpit dilautan Pasifik dan dijadikan garis batas tanggal dalam penanggalan Masehi.

البلد عرض

Jarak dari tempat kita berdiri tadi sepanjang garis bujur sampai ke khatulistiwa bumi dinamakan البلد عرض, dalam bahasa Indonesianya dinamakan Lintang Tempat. Jika tempat kita berdiri di utara khatulistiwa, maka البلد عرض kita bernilai positip dan jika tempat kita berdiri di selatan khatulistiwa, maka البلد عرض kita bernilai negatip.

دائرة نصف النهار

Tetapi jika kita membuat lingkaran vertikal menurut arah utara dan selatan sehingga melewati titik kutub langit utara dan titik kutub langit selatan yang membagi bola langit menjadi dua bagian yaitu bagian barat dan timur, maka lingkaran yang kita buat itu dinamakan دائرة نصف النهار yang dalam bahasa Indonesia dinamakan Lingkaran Meridian yakni lingkaran yang menjadi batas tengah hari. أفق dan الأفق إختلاف

Coba berputarlah ke semua arah di tempat kita berdiri, kita akan melihat lingkaran yang menjadi batas antara belahan langit yang tampak dengan yang tidak tampak. Lingkaran itulah yang dinamakan Ufuk (أفق ), tepatnya Ufuk Mar’i (ufuk yang terlihat). Di dalam ilmu falak kalau disebut ufuk saja, maka yang dimaksud adalah Ufuk Sejati, yaitu lingkaran horizontal yang titik pusatnya pada titik pusat bumi dan jaraknya 90° dari titik zenit.

Kalau kita buat lingkaran dipermukaan bumi yang sejajar dengan ufuk sejati, itulah yang dinamakan Ufuk Hissi, yaitu bidang datar yang menyinggung bumi yang dipisahkan oleh jarak sebesar semi diameter bumi dengan ufuk sejati. Akan tetapi karena begitu besarnya jarak-jarak pada bola langit, maka jarak sebesar semi diameter bumi itu diabaikan, sehingga ufuk hissi dianggap berhimpit dengan ufuk sejati.

Kedudukan ufuk mar’i yang kita lihat tadi, selalu lebih rendah dari ufuk hissi. Semakin tinggi tempat kita dari permukaan air laut, kedudukan ufuk mar’i akan semakin rendah. Selisih kedudukan ufuk mar’i dengan ufuk hissi dinamakan الأفق إختلاف, dalam bahasa Indonesianya dinamakan Kerendahan Ufuk. Singkatannya Dip

الإرتفاع

Cobalah kita mengukur ketinggian titik pusat suatu benda langit sepanjang lingkaran vertikal yang melalui titik pusat benda langit tersebut dari garis ufuk, maka hasilnya dinamakan الإرتفاع, dalam bahasa Indonesianya dinamakan Ketinggian. Ketinggian benda langit biasa diberi tanda positif apabila berada diatas ufuk, dan di beri tanda negatif apabila berada dibawahnya.

الإرتفاع غاية

Cobalah kita perhatikan perjalanan harian matahari. Pada pagi hari ketinggian matahari rendah, seiring berjalannya waktu ketinggian matahari bertambah tinggi, ketika siang hari ketinggian matahari sangatlah tinggi, setelah itu berangsur-angsur ketinggian matahari itu rendah kembali hingga akhirnya ketika petang hari ia tenggelam. Ketika matahari mencapai titik tertinggi dalam perjalanan hariannya itulah yang dinamakan الإرتفاع غاية yang dalam bahasa Indonesianya dinamakan Titik Kulminasi. Keadaan ini tercapai ketika titik pusat matahari berada di garis lingkaran meridian. Saat itulah yang disebut dengan saat tengah hari.

11. دائرة الميول

Berikutnya, buatlah lingkaran yang melewati kutub langit selatan dan kutub langit utara, lingkaran yang kita buat itu dinamakan دائرة الميول, dalam bahasa Indonesia dinamakan Lingkaran Deklinasi

12. فضل الدائر

Sudut yang dibentuk oleh lingkaran meridian dengan lingkaran deklinasi yang melewati suatu benda langit (misalnya matahari) dinamakan فضل الدائر, dalam bahasa Indonesianya dinamakan sudut waktu. فضل الدائر bernilai positif, jika benda langit yang bersangkutan berada dibelahan langit sebelah barat dan bernilai negatif jika benda langit yang bersangkutan berada dibelahan langit sebelah timur

منطقة البروج , فلك القمر , حضيض dan أوج

Bumi yang kita tempati ini sebenarnya melakukan dua perputaran, perputaran pertama dilakukan bumi pada porosnya yang berlangsung sekali dalam sehari semalam yang dinamakan Rotasi Bumi,sedangkan perputaran lainnya yaitu perputaran bumi mengelilingi matahari yang berlangsung satu kali dalam setahun yang dinamakan Revolusi Bumi. Arah revolusi bumi ini dari barat ke timur pada sebuah bidang edar (lingkaran edar), itulah yang dinamakan منطقة البروج , dalam bahasa Indonesianya dinamakan Ekliptika

Sedangkan bulan yang kita lihat pada malam hari, ia juga melakukan perputaran yaitu perputaran pada porosnya sendiri yang dinamakan Rotasi Bulan, kemudian perputaran bulan mengelilingi bumi yang dinamakan Revolusi Bulan terhadap Bumi dan perputaran bulan bersama-sama bumi mengelilingi matahari yang dinamakan Revolusi Bulan terhadap Matahari. Lingkaran edar yang dilintasi bulan dalam berputar dinamakan فلك القمر, dalam bahasa Indonesianya dinamakan Orbit Bulan. Hanya saja lingkaran edar bulan (lintasannya) tidaklah sama dengan ekliptika, tetapi berpotongan dan membentuk sudut sebesar 5° 8’. Oleh karena itu kalau kita lihat, posisi bulan terkadang di utara matahari dan terkadang di selatannya.

Dan perlu kita ketahui bahwa lintasan bumi ketika mengelilingi matahari ataupun lintasan bulan ketika mengelilingi bumi berbentuk elips (agak loncong seperti telur), seperti apa yang dikemukakan oleh Kepler dalam hukum Kepler I yang berbunyi: “ Setiap planet bergerak pada sebuah lintasan elips dengan matahari sebagai salah satu titik apinya”. Oleh karenanya jarak bumi dan matahari atau bulan dan bumi tidak tetap setiap saat, kadang-kadang dekat dan kadang-kadang jauh. Jarak terdekatnya dinamakan حضيض yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan Perigee dan jarak terjauhnya dinamakan أوج yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan Apogee.

14. تعديل الوقت atau تعديل الزما ن atau دقائق التفاوت .

Dampak langsung dari jarak bumi dan matahari yang tidak tetap yang terkadang jarak bumi dekat dengan matahari dan terkadang jauh adalah pada kecepatan gerak bumi sesuai dengan hukum Kepler II yang berbunyi: “garis penghubung matahari dan planet; melintasi luas yang sama dalam selang waktu yang sama”, dimana ketika jaraknya dekat dengan matahari, pergerakan bumi pada lingkaran ekliptika berlangsung lebih cepat daripada ketika jaraknya jauh. Sehingga, saat kulminasi matahari setiap hari senantiasa berubah, kadang persis jam 12:00, kadang kurang dan kadang lebih dari jam 12:00. Selisih antara kulminasi matahari hakiki dengan waktu kulminasi matahari rata-rata (jam 12:00) dinamakan. تعديل الوقت atau تعديل الزمان atau دقائق التفاوت yang dalam bahasa Indonesia dinamakan Perata Waktu.

15. برج

Ekliptika terbagi atas 12 bagian yang masing-masing besarnya 30 drajat. Bagian-bagian itulah yang disebut برج yang dalam bahasa Indonesianya dinamakan rasi bintang atau Zodiac dan dalam bahasa Inggrisnya Constellation. Keduabelas rasi bintang itu adalah :

  1. Aries (Hamel)
  2. Taurus (Tsaur)
  3. Gemini (Jauza’)
  4. Cancer (Sarothon)
  5. Leo (Asad)
  6. Virgo (Sunbulah)
  7. Libra (Mizan)
  8. Scorpio (Aqrob)
  9. Sagitrius (Qous)
  10. Copricornus (Jadyu)
  11. Aquarius (Dalwu)
  12. Pisces (Hut)

16. حمل

حمل merupakan salah satu dari 12 rasi bintang (Buruj), ia punya keistimewaan tersendiri, karena pada titik حملtersebut lintasan matahari dan Ekuator langit berpotongan. Tepatnya ketika matahari dari arah selatan ekuator menuju utaranya, titik perpotongan ini dinamakan Titik Vernal Equinok. Perlu kita ketahui bahwa memang dulu titik vernal equinok ini di arah rasi Aries, namun akibat presesi sumbu bumi sekarang berada di arah rasi Pisces dan 700 tahun lagi titik vernal equinok ini akan mencapai rasi Aquarius. Presesi sumbu bumi, gerakan sumbu rotasi bumi mengedari kutub ekliptika, siklusnya sekitar 26.000, atau lebih tepatnya 25.800. Gerak presesi sumbu bumi ini mirip dengan gerak sumbu gangsing, ekuator bumi bergerak secara perlahan terhadap ekliptika. Sehingga terjadilah pergeseran titik potong ekuator langit dengan ekliptika sebesar 50,2 detik busur per tahun ke arah barat bila dilihat dari arah kutub utara langit.

العقدة

Cobalah kita gambar lintasan matahari atau ekliptika dan lintasan bulan secara berpotongan. Titik perpotongan antara lintasan bulan dan ekliptika dinamakan عقدة yang dalam bahasa Indonesianya dinamakan Titik Simpul. عقدة ini setiap tahun bergeser kearah barat, sekali putaran penuh memakan waktu 18,67 tahun. Seperti yang telah kita ketahui bersama jumlah titik simpul ini ada dua, yaitu titik simpul naik (العقدة الصاعدة) dan simpul turun (العقدة النازلة).

حصة العرض

Jika kita menghitung titik pusat bulan sepanjang busur ekliptika ke arah timur; dimulai dari titik simpul naik, maka hasilnya dinamakan حصة العرض

19. طول الشمس dan طول القمر

Perhatikanlah benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang. kita akan mendapati bahwa letak benda-benda langit itu tersebar pada bola langit. Jarak titik pusat benda langit tersebut dari titik Vernal Equinok sepanjang lingkaran Ekliptika dinamakan طول Kalau benda langit tersebut matahari dinamakan طول الشمس yang dalam bahasa Indonesia dinamakan Bujur Astronomis Matahari, dimana kalau belum dilakukan penta’dilan (koreksi) dinamakan وسط الشمس .Sedangkan kalau benda langit tersebut bulan dinamakan طول القمرyang dalam bahasa Indonesia dinamakan Bujur Astronomis Bulan, dimana kalau belum dilakukan penta’dilan dinamakan وسط القمر.

20.خاصة الشمس dan خاصة القمر

Tetapi kalau kita mengukur jarak titik pusat matahari dari titik Cancer (Saroton) sepanjang lingkaran ekliptika dinamakan خاصة الشمس. Sedangkan kalau yang kita ukur titik pusat bulan dari titik Apogee dinamakan خاصة القمر

21. بعد درجة

Dan kalau kita menghitung jarak benda langit sepanjang Ekliptika dihitung dari titik yang terdekat diantara titik Aries (Hamel) atau titik Libra (Mizan) sampai titik pusat benda langit tersebut, maka hasilnya dinamakan بعد درجة, dimana kalau benda langit yang kita hitung itu matahari; hasilnya dinamakan بعد درجة الشمسsedangkan kalau bulan بعد درجة القمر

22. مطلع الفلكية

Sekarang, bayangkan kita mengukur jarak titik pusat benda langit diukur sepanjang equator; sampai lingkaran deklinasi yang melalui titik Copricornus (Jadyu), maka hasilnya dinamakan مطلع الفلكية , dimana kalau yang kita ukur itu matahari dinamakan مطلع الفلكية للشمس sedangkan kalau bulan dinamakan مطلع الفلكية للقمر

23. مطلع الغرب

Sedangkan kalau kita mengukurnya mulai dari titik Libra (Mizan) sampai dengan ufuk barat pada saat terbenamnya benda langit tersebut dinamakan مطلع الغرب, dimana kalau benda langit yang kita hitung itu matahari; hasilnya dinamakan مطلع الغرب للشمس atau مطلع النظير للشمس dan kalau benda langit yang dihitung itu bulan; hasilnya dinamakan مطلع الغرب للقمر atau مطلع النظير للقمر

24. قوس المكث

Kalau مطلع الغرب للقمر kita kurangi مطلع الغرب للشمس maka hasilnya adalah قوس المكث yang merupakan jarak titk pusat matahari dan bulan dilihat dari Equator.

25. مكث الهلال

Lama hilal diatas ufuk (paska terbenamnya matahari) yang bisa kita lihat sebelum ia terbenam

26. نصف قوس النهار dan نصف الفضلة

Umpama kita menghitung jarak benda langit mulai saat ia berkulminasi sampai terbenamnya; diukur melalui lingkaran lintasan hariannya ( المدار ) maka hasilnya itu dinamakan نصف قوس النهارyang dalam bahasa Indonesianya dikenal dengan setengah busur siang. Jika yang kita hitung itu matahari dinamakan نصف قوس النهارللشمس sedangkan jika yang kita hitung itu bulan; dinamakan نصف قوس النهار للقمر . Terus, jika 90 dikurangi نصف قوس النهار akan didapatkan نصف الفضلة yaitu jarak diantara diameter المدار dan lingkaran ufuk; yang diukur melalui المدار.

27. العرض

Berikutnya, jarak titik pusat benda langit dari lingkaran ekliptika, dinamakan العرض, kalau benda langit tersebut matahari dinamakan عرض الشمس yang dalam bahasa Indonesia dinamakan Lintang Astronomis Matahari, sedangkan kalau benda langit tersebut bulan dinamakan عرض القمر, dalam bahasa Indonesia dinamakan Lintang Astronomis Bulan.

Sebenarnya lingkaran ekliptika itu adalah lingkaran yang dilalui oleh matahari dalam gerak semu tahunannya. Oleh karena itu matahari selalu berada pada lingkaran ekliptika. Namun karena jalannya tidak rata persis maka ada sedikit geseran. Keadaan seperti ini dapat kita lihat dari nilai عرض الشمس yang selalu mendekati nol.

Berbeda dengan nilai lintang astronomis bulan maksimal (عرض القمر الكلى ) yang nilainya sekitar 5° 8’. Nilai positif berarti bulan berada di utara ekliptika dan nilai negatif berarti bulan berada di sebelah selatan ekliptika.

28. الميل

Jarak titik pusat benda langit sepanjang lingkaran deklinasi sampai ke equator dinamakan الميل, kalau benda langit tersebut matahari dinamakan ميل الشمس atau ميل الأول للشمس yang dalam bahasa Indonesia dinamakan Deklinasi Matahari, sedangkan kalau benda langit tersebut bulan dinamakan ميل القمر atau ميل الأول للقمرatau بعد القمر yang dalam bahasa Indonesia dinamakan Deklinasi Bulan, tetapi jika kita mengukur jarak titik pusat bulan sepanjang bujur astronomi dihitung dari equator sampai bulan dinamakan ميل الثانى للقمر . Dan jika ميل الثانى للقمر kita tambahkan عرض القمر maka penambahan yang dilakukan tersebut dinamakan حصة البعد yaitu jarak titik pusat bulan dari equator.

Nilai الميل positif menandakan benda langit tersebut berada di sebelah utara equator, sebaliknya apabila nilai الميل negatif, menandakan benda langit berada di sebelah selatan equator. Sedangkan nilai الميل matahari maksimum dinamakan ميل الكلى

29. نصف القطر.

Seumpama kita mengukur jarak titik pusat benda langit hingga piringan luarnya, hasil ukuran kita itu dinamakan نصف القطر , kalau benda langit tersebut matahari dinamakan نصف قطرالشمس yang dalam bahasa Indonesianya dinamakan Semi Diameter Matahari., sedangkan kalau benda langit tersebut bulan dinamakan نصف قطر القمر yang dalam bahasa Indonesianya dinamakan Semi Diameter Bulan

30. سعة المغرب

Coba kita hitung jarak terbenamnya titik pusat benda langit pada ufuk dari titik barat, maka hasilnya dinamakan سعة المغرب , dengan catatan jika benda langit itu matahari dinamakan سعة المغرب للشمس , sedangkan jika bulan dinamakan سعة المغرب للقمر

31. سمت ارتفاع القمر

Umpama kita menghitung jarak sepanjang lingkaran kaki langit (garis ufuk) yang dihitung dari titik barat sampai lingkaran vertikal yang melalui bulan, maka hasilnya dinamakan سمت ارتفاع القمر

32. نورالهلال

Berikutnya, coba kita perhatikan besarnya piringan bulan yang bersinar (menerima sinar matahari dan menghadap ke bumi), kita akan melihat bulan itu terkadang berbentuk sabit, seminggu kemudian kita akan melihat : piringan bulan yang bersinar separohnya dan sekitar seminggu lagi kita akan melihat piringan bulan bersinar seluruhnya (bulan purnama) yang setelah hari itu piringan bulan yang bersinar akan berangsur-angsur mengecil kembali.

Naaah …! نورالهلال itu menggambarkan piringan bulan yang bersinar dengan satuan ukur Usbu’. Dimana kalau nilai نورالهلال = 0 usbu’, menandakan tidak adanya piringan bulan yang bersinar (saat ijtima’ : bumi, bulan dan matahari sedang persis berada dalam satu garis) dan kalau nilainya 12 usbu’ menandakan piringan bulan bersinar seluruhnya (saat istiqbal : bulan, bumi dan matahari sedang persis berada dalam satu garis). Istilah نورالهلال dalam bahasa Indonesia dinamakan besarnya piringan bulan yang menerima sinar matahari dan menghadapa ke bumi والله اعلم

Itulah beberpa istilah dalam Ilmu falak dan kitab Nurul Anwar, untuk lebih jelasnya bisa kita baca pada buku-buku falak yang lainnya.

II. PROSES PERHITUNGAN AWAL BULAN

Secara garis besar, Nurul Anwar melakukan hisab hakiki awal bulan dengan langkah-langkah sbb:

  1. Menentukan posisi rata-rata Matahari dan bulan, yakni untuk wasat Matahari, Khoshoh Matahari, Wasat bulan, Khosoh bulan, dan uqdah bulan pada waktu terbenam matahari (Ghurub menurut waktu Istiwa’) untuk suatu tempat menjelang awal bulan qamariyah.
  2. Menghitung Thul Matahari dan Thul bulan.
  3. Menentukan waktu terjadinya Ijtima’ (Konjungsi)
  4. Menghitung Irtifa’ (Ketinggian) hilal.
  5. Menghitung arah terbenam matahari dan bulan
  6. Menghitung Simtul Irtifa’ (arah hilal ketika mataharai terbenam)
  7. Menghitung Muksul Hilal (Lama hilal diatas ufuk)
  8. Menghitung Nurul Hilal (Lebar Cahaya Hilal)

Keterangan selengkapnya mengenai langkah-langkah diatas sebagai berikut:

  1. Menentukan Posisi rata-rata Matahari dan Bulan

Langkah-langkahnya sbb:

        1. Menentukan awal bulan (qomariyah) apa dan tahun (Hijriyah) berapa yang akan dihitung, serta menentukan untuk lokasi mana. Kemudian dilacak data lokasi yang ybs, yakni lintang tempat (LT) dan bujur tempat (BT) nya.
        2. Menghitung matahari terbenam (Gurub) untuk lokasi ybs menurut waktu istiwa’ pada hari yang ke 29 menjelang bulan ybs (kita bisa menggunakan jadwal waktu solat).
        3. Mengambil data wasat Matahari, Khoshoh Matahari, Wasat bulan, Khosoh bulan, dan uqdah bulan dari data yang tersedia untuk tahun Tam (1 tahun yang lewat), bulan qoblal Tam (2 bulan yang lewat), hari ke 29 (kadang 28 atau 30), jam dan menit (waktu ghurub matahari) kemudian data tersebut dijumlahkan.

Hasil penjumlahan adalah posisi rata-rata Matahari dan Bulan pada waktu gurub matahari untuk Jepara (BT = 110 0 40′). Sehingga apabila dikehendaki perhitungan untuk selain Jepara maka harus dilakukan koreksi terhadap data posisi matahari dan bulan senilai selisih waktu antar jepara dan lokasi yang dikehendaki itu / Fadlu Tulaini (SFT) yakni (110 0 40′ – BT) / 15 ). Dengan catatan utuk lokasi disebelah barat Jepara ditambahkan, sedangkan untuk lokasi ditimurnya dikurangkan.

        1. Mengambil Daqa’iqut Tafawut (DT = perata waktu ) dari daftar berdasarkan hasil penjumlahan wasat matahari setelah dikoreksi SFT. Perhatikan tanda positif (=) dan negatifnya (-).
        2. Menghitung gerak matahari dan bulan selama waktu DT tersebut.
        3. Gerak matahari dan bulan selama wanktu DT tersebut untuk mengoreksi (menambah atau mengurangi) hasil penjumlahan diatas menurut tanda yang ada pada DT yakni tanda = adalah tambah dan tanda – adalah kurang.
        4. Hasil koreksian inilah yang merupakan posisi rata-rata matahari dan bulan, yakni wasat Matahari (WS), Khoshoh Matahari (KM), Wasat bulan (WB), Khosoh bulan (KB), dan uqdah bulan (UB) pada waktu gurub matahari untuk lokasi yang telah ditentukan tadi,
  1. Menghitung Thul matahari (TM) dan Thul Bulan (TB)

Langkah-langkahnya sbb:

        1. Mengambil beberapa koreksi atau Ta’dil, yaitu :
          • Ta’dil Matahari (Td. Mt)
          • Ta’dil pertama bulan (T1)
          • Ta’dil Khoshoh Bulan3 (T. Khos3)
          • Ta’dil Uqdah Bulan (T. uqd.)
          • Sabak Matahari (sbk. Mt)

Diambil dari daftar berdasarkan B0 atau khoshoh Matahari (KM)

        1. Menghitung Thul Matahari (TM) dengan rumus :
        2. TM = WM +/- Td.Mt
        3. Mengambil Ta’dil kedua bulan (T2)dan sabak bulan kedua (Sbk 2) dari daftar berdasarkan dalil Tsani yang diperoleh dari 2 (WB-TM) – KB
        4. Mengambil Ta’dil ketiga Bulan (T3) dan sabak pertama (Sbk.1) dari daftar berdasarkan KB3‘ (D3)
        5. KB3‘ = Kb + T1 + T2 + T. KHos
        6. Menghitung wast bulan Muaddal (WB’) dengan rumus :
        7. WB’ = WB + T1 + T2 + T3
        8. Mengambil Ta’dil keempat bulan (T4) dan sabak ketiga bulan (sbk3) dari daftar berdasarkan dalil Robi’ yang diperoleh dengan cara WB’ – TM
        9. Mengambil Ta’dil kelima Bulan (T5) dari daftar berdasarkan dalil Khomis atau Hishotul Ardl (HU), HU di hitung dengan rumus :

HU = WB + T4 + UB + T. Uqd

        1. Menghitung Thul Bulan (TB) dengan rumus :

TB = WB ‘ + WB’ + T4 + T5

  1. Menentukan Saat Terjadinya Ijtima’

Langkah-langkahnya sbb:

        1. Menghitung Bu’dun Nayyirain (BN) dengan rumus :

BN = TB – TM

        1. Menghitung sabak bulan (SB)dengan rumus :
        2. SB = (Sbk1 + Sbk2 + Sbk3)
        3. Menghitung titik Ijtima’ (T Ijt) dengan rumus :
        4. T ijt = BN / SB
        5. Menghitung waktu ijtima’ (Ijtima’) dengan rumus :

Ijtima’ = Gurub + 12 – T Ijt = = > (Waktu Istiwa’)

Hasil ijtima’ ini dengan menggunakan waktu istiwa’ yakni menggunakan waktu matahari hakiki. Sehingga apabila dikehendaki dengan WIB (misalnya) maka harus dilakukakan koreksi dengan DT (Daqoi’iqut Ta’dil) dan interpolasi waktu WIB yakni (BT – 105) : 15

IJTIMA’ = Ijtima’ + DT – Interpolasi Waktu = = > (Zone Time), atau yang lebih ringkasnya: Saat Magrib WIB – T Ijt.

D. Menghitung Irtifa’ul Hilal

Maksudnya Irtifa’ul Hilal pada saat Magrib paska Ijtima’. Sebelum kita menentukan Irtifa’ ini terlebih dahulu kita harus mengolah data Matahari dan bulan karena dalam perhitungan irtifa’ul hilal kita membutuhkan data tersebut

Contoh mengetahui Irtifa`ul Hilal pada akhir Sya`ban 1431 H.

Thul Matahari (TM) = 1370 41′ 34″

Thul Bulan (TB) = 1420 7′ 44″

Dalil Khomis (HU) = 2220 22′ 2″

Lintang Tempat Pasuruan (LT) = 70 39′ Selatan

Pengolahan Data Matahari

  1. Mail Awal Matahari (MM)

sin MM = sin (sin TM x sin 230 26’40”) = 150 32′ 0.57″ Arah Utara (mengikuti TM)

  1. Nisfu Qausin Nahar Matahari (NQNM)

Perselisihan Arah : Cos NQNM = tan LT x tan MM – sec LT x sec MM x sin 1013′ ( Daqoiq Tamkiniyah )

Cocok : Cos NQNM = -(tan LT x tan MM + sec LT x sec MM x sin 10 13′)

NQNM = 890 8′ 5.29″

  1. Qausul Baqi Matahari (QBM)

Sin QBM = cos TM / cos MM = 500 8′ 14.39″

  1. Matholiul Falaqiyah Matahari (MFM)

Jika TM = 000 – 900 Maka ( 1800 –QBM )

Jika TM = 900 – 1800 Maka ( 1800 + QBM) = 2300 8′ 14.39″

Jika TM = 1800 – 2700 Maka (3600 – QBM)

Jika TM = 2700 – 3600 Maka ( Tetap )

  1. Matholiul Ghurub Matahari (MGM)

MGM = MFM + NQNM = 3190 16′ 19.60″

  1. Mail Bulan 2 (MB2)

Tan MB2 = sin TB x tan 230 26′ 40″ = 140 54′ 26.75″ Arah Utara (mengikuti TB)

  1. Ardul Bulan Juz`I (ABJ)

Sin ABJ = sin HU x sin 50 = 30 22′ 1.42″ Arah Selatan (Mengikuti HU/Dalil Khomis)

  1. Ardul Bulan Mu`addal (ABM)
  1. Bila Arahnya cocok, ABM = ABJ + MB2
  2. Bila selisih bilangan yg besar dikurangi yg kecil (Arahnya mengikuti yg lebih Besar)

ABM = 110 32′ 25.33″ Arah Utara

  1. Bu`dul Qomar 1 (BQ1)

Sin BQ1 = cos 230 26′ 40″ x sin ABM / cos MB2 Arahnya Mengikuti ABM

BQ1 = 100 56′ 56.47″ Arah Utara (Mengikuti ABM)

  1. Nisfu Qausin Nahar Bulan (NQNB)

Perselisihan Arah : cos NQNB = tan LT x tan BQ1 – sec LT x sec BQ1 x sin 10 13′

Sesuai Arah : -cos NQNB = tan LT x tan BQ1 + sec LT x sec BQ1 x sin 10 13′

NQNB = 890 45′ 41.24″

  1. Mail Bulan 1 (MB1)

Sin MB1 = sin TB x sin 230 26′ 40″ = 140 8′ 13.14″ Arah Utara (Mengikuti TB)

  1. Bu`dul Qomar 2 (BQ2)

BQ2 = ( MB1 + BQ1 ) /2 = 120 32′ 34.8″ Arah Utara (Mengikuti TB)

  1. Qausul Baqi Bulan (QBB)

Sin QBB = cos TB / cos BQ2 = 530 58′ 06.9″

  1. Matholiul Falakiyah Bulan (MFB)

Jika TB = 000 – 900 Maka ( 1800 – QBB )

Jika TB = 900 – 1800 Maka ( 1800 + QBB) = 2330 58′ 06.9″

Jika TB = 1800 – 2700 Maka (3600 – QBB)

Jika TB = 2700 – 3600 Maka ( Tetap )

  1. Matholiul Ghurub Bulan (MGB)

MGB = MFB + NQNB = 3230 43′ 48″

Jika MGB lebih Kecil Dari MGM maka bulan di bawah Ufuq

  1. Qausul Muksi (QM)

QM = MGB – MGM = 40 27′ 28.54″

  1. Fadlul Dair (FD)

Fd = NQNB – QM = 850 18′ 12.7″

  1. Irtifa` Bulan (IB)

Jika selisih : sin IB = sin LT x sin BQ1 – cos LT x cos BQ1 x cos FD = 30 7′ 3.61″

Jika cocok : sin IB = sin LT x sin BQ1 + cos LT x cos BQ1 x cos FD

  1. Muksul Hilal (MH)

MH = ( QM + IB ) /2 x 00 4′ = 00 15′ 09.7″

  1. Saat Maghrib Matahari (SMM)

Sin SMM = sin MM / cos LT = 150 40′ 35.6″ Arahnya Utara (mengikuti MM)

  1. Simtul Irtifa` Bulan (SIB)

Cos SIB = sin FD x cos BQ1 / cos IB = 110 29′ 33.3″ Arah Utara (mengikuti BQ1)

Keterangan : SIB Utara / Selatan

  1. Arahnya mengikuti LT, bila BQ1 arahnya sama dengan arahnya LT, dan IB bilangannya lebih kecil dari SIB
  2. Arahnya Tepat di Barat, bila bilangan IB sama dengan SIB
  3. Arahnya mengikuti arahnya BQ1, bila selain keterangan 1 + 2
  1. Al – Mahfud (M”)

M” = SIB – SMM ( yg kecil dikurangi yg Besar,) = 40 11′ 2.3″

  1. Miring Bulan Terbit (MBT)

MBT= SIB – SMM = (bila sama Arahnya, yg besar – yg kecil. + bila beda)= 4011’2.3″

  1. Hilal terlentang :

a. bila SIB dan SMM cocok arah dan bilangannya.

b. bila MBT tidak sampai 10

  1. Hilal Miring
  1. Berlawanan dengan arahnya MM, jika SIB dan SMM cocok arahnya dan SMM bilangannya lebih besar.
  2. Mengikuti arahnya MM, jika tidak sama dengan keterangan a.
  1. Hilal tegak lurus : bila IB kurang dari 2/3 SMM.

MBT= 40 11′.3″ Miring ke selatan

  1. Bu`dul Mutlaq (BQ)

BQ = TB – TM = 40 26′ 10″

  1. Cahaya Bulan (CB)

CB = BQ x 00 4′ + ABJ yang Munhathon = 00 21’6.67″

 

KESIMPULAN :

Awal bulan Ramadhan 1431 : Rabu Legi 11 Agustus 2010 M.

Ijtima’ : Selasa Kliwon 10 Agus 2010 M.

Waktu Ijtima` : 10:26:35 WIS / 10:00:09 WIB

Azimut Matahari : 150 40′ 35.6″ Utara titik barat

Arah hilal : di Utara

Kemiringan : Miring ke selatan

Tinggi Hilal : 30 7′ 3.61″

Lama Hilal : 00 15′ 09.7″

Cahaya Hilal : 1/3 Jari

Markaz Kitab : Jepara, 6o36′ LS / 110o40′ BT

Markaz Garapan : Pasuruan, 7o39′ LS/112o56′ BT

Demikianlah langkah-langkah hisab awal bulan Hijriyah dengan menggunakan kitab, Nurul Anwar semoga bermanfaat, amin.

http://as-syangari.blogspot.com/2010/07/hisab-awal-bulan-hijriyah-metode-nurul.html?zx=44f939cb8bb7cb34

15 Comments

  1. Alhamdulillah sistem perhitungan ini Insya Allah akurat, setelah saya “cross check” dengan sofware Starry night orion, (Imaginova) dari Canada perhitungan dan akurasinya sama, menentukan titik konjungs, tinngi hilal, lebar hilal…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s