PEMBANGKANGAN FIKIH ATAU HERMENEUTIKA FALAKIYYAH (Respon atas Koreksi Arah Kiblat Masjid Agung Surakarta)


A. Latar Belakang Masalah

Beberapa saat yang lalu, umat Islam mengalami “kehebohan” dengan munculnya fatwa MUI No. 03 Tahun 2010 tentang kiblat. Isi lengkap fatwa yang dikeluarkan MUI tanggal 22 Maret 2010 lalu.adalah sebagai berikut:

  1. Kiblat bagi orang shalat dan dapat melihat Kabah adalah menghadap ke bangunan Kabah (‘ain al-Ka’bah).
  2. Kiblat bagi orang yang salat dan tidak dapat melihat Kabah adalah arah Kabah (jihat al-Ka’bah).
  3. Letak georafis Indonesia yang berada di bagian timur Kabah/Mekkah, maka kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke arah barat.

Diktum ketiga dari fatwa tersebutlah yang kemudian menimbulkan kehebohan dan akhirnya diralat dengan mengatakan bahwa kiblat umat Islam Indonesia adalah ke Barat serong ke Utara dengan kemiringan yang disesuaikan dengan letak geografis masing-masing tempat. Fatwa ini kemudian ditanggapi dengan serius oleh Kemenag dengan melakukan kajian ulang (menyempurnakan/melakukan cek ulang) arah kiblat masjid-masjid di Indonesia.

Masjid Agung Surakarta yang dibangun Sinuhun Paku Buwono II tahun 1745 merupakan salah satu masjid di Surakarta yang tidak luput dari masalah cek ulang arah kiblat karena dianggap kurang presisi. Tim Ahli Hisab dan Rukyat Kanwil Kementerian Agama Jateng pernah melakukan pengukuran arah kiblatnya pada awal 2008. Hasilnya, arah kiblat masjid bersejarah di Kota Bengawan tersebut melenceng 10 derajat ke kanan.[1] Akan tetapi, Masjid Agung Surakarta tetap tidak merubah arah kiblat dari yang semula. Sekretaris Masjid Agung Surakarta, Ir H Abdul Basid mengatakan bahwa pihaknya belum berani mengubah arah kiblat yang lama karena sertifikat hasil pengukuran arah kiblat oleh Kanwil Kementerian Agama Jateng belum diterima. Takmir Masjid, menurut Basid, pernah meminta sertifikat ke Kanwil Jateng beberapa bulan lalu, namun tidak menuai hasil. Pernyataan ini dibenarkan oleh Kasi Urusan Agama Islam (Kasi Urais) Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta Syamsuddin yang mengakui bahwa sertifikat hasil pengukuran arah kiblat Masjid Agung terkena banjir. Sehingga, bentuknya sudah tidak bisa dipakai untuk menjadi acuan penyesuaian arah kiblat yang baru.[2]

Pada tanggal 9 Oktober 2010, arah kiblat Masjid Agung Surakarta kembali diukur ulang. Kali ini, Takmir Masjid Agung Surakarta mengundang seluruh Ormas Islam, Pesantren, Masjid, Laboratorium Hisab Rukyah PTAI dan Lembaga Keagamaan Islam di Surakarta untuk mengkaji ulang arah kiblat dan mengukur arah kiblat Masjid paling bersejarah di Surakarta ini. Hasil pengukuran ulang yang dilakukan oleh KH. Slamet Hambali, salah seorang pakar falak IAIN Walisongo, anggota Lajnah Falakiyah PBNU dan anggota BHR Kementerian Agama RI dengan menggunakan theodolit menunjukkan bahwa arah kiblat Masjid Agung Surakarta mengalami kemelencengan 11,5 derajat. (lihat gambar di bawah ini)[3]

Hasil pengukuran dengan theodolit tersebut juga tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan pengukuran melalui google earth. (lihat gambar 2)[4]

Respon Masjid Agung Surakarta atas pengukuran ini bisa dikatakan negatif. Artinya, arah kiblat yang digunakan saat ini adalah arah kiblat sebelum dilakukan pengukuran ulang. Respon ini bisa berarti sebagai “pembangkangan fikih” atas fatwa MUI atau fatwa para ulama dalam ilmu falak tentang arah kiblat di satu sisi, dan juga dapat berarti penafsiran yang berbeda dari para tokoh penentu kebijakan arah kiblat Masjid Agung Surakarta tentang ke manakah arah yang dituju saat melaksanakan ibadah salat.

Dikatakan sebagai pembangkangan fikih karena respon ini jelas “melawan” fatwa institusi yang dianggap sebagai pemegang otoritas keagamaan (Islam) di Indonesia dan juga menjadi pandangan mainstream ulama Indonesia. Respon ini juga dapat diasumsikan sebagai sebuah hermeneutika falakiyyah yang berbeda yang dianut penentu kebijakan atas Masjid Agung Surakarta dari yang dianut mayoritas ulama Indonesia.

B. Masalah Penelitian

Permasalahan pergeseran arah kiblat dapat menjadi persoalan sosial, karena ia bersentuhan langsung dengan ritual peribadatan umat muslim. Umat muslim berselisih mengenai keakuratan masjid yang mereka tempati, apakah sudah sesuai dengan arah kiblat atau belum. Bahkan ada yang telah yakin sepenuhnya dengan perhitungan atau ukuran masjid ulama dahulu, padahal sesuai perhitungan terkini arah kiblat masjid tersebut salah, sehingga mengundang polemik antara sebagian umat muslim dengan sebagian yang lain. Satu pihak mempertahankan perhitungan ulama dahulu tanpa mau ada koreksi dari perhitungan terkini, sehingga arah kiblat masjid tersebut tidak boleh bergeser. Di lain pihak, karena secara perhitungan kontemporer salah, maka arah kiblat tersebut harus disesuaikan dengan perhitungan yang benar. Persoalan ini menjadi rumit ketika kedua pihak tersebut tidak dapat menyelesaikan persoalan tersebut, mereka kokoh dengan pendiriannya, padahal masjid yang mereka tempati menjadi tempat umum bagi siapapun yang melaksanakan shalat.

Persoalan inilah yang akan dikaji dari polemik arah kiblat masjid Agung Surakarta yang telah dua kali diukur oleh alat-alat dan cara modern tentang tingkat akurasinya. Masjid Agung Surakarta arah kiblatnya belum akurat sebesar 10,5 derajat ke arah Utara, sehingga ia akan melenceng sekitar 1165,5 Km dari Ka’bah. Pada waktu pengukuran, ketua takmir masjid Agung Surakarta menghimbau jama’ah masjid Agung Surakarta agar arah kiblat yang selama ini menjadi arah shalatnya digeser sebesar 10,5 derajat serong ke Utara. Sayangnya, himbauan ketua takmir tersebut sampai kini belum terealisasikan dengan baik. Arah kiblat masjid Agung Surakarta masih seperti semula.

Persoalan inilah yang menarik untuk dikaji, apakah hal ini menyangkut persoalan pembangkangan fikih atas fatwa dan pendapat mainstream ulama ataukah perbedaan penafsiran atas teks-teks yang berkaitan dengan persoalan kiblat.

C. Pembatasan Masalah

Dari uraian di atas, masalah yang akan diteliti dibatasi pada persoalan mengapa Masjid Agung Surakarta merespon secara negatif fatwa tentang arah kiblat dan penyempurnaan arah kiblat terhadap Masjid Agung Surakarta?

D. Signifikansi Penelitian

Penelitian ini memiliki signifikansi ilmiah yang tinggi karena melihat persoalan pengukuran arah kiblat bukan semata-mata sebagai persoalan sains ilmiah semata, akan tetapi juga persoalan struktur sosial keagamaan dan sistem berpikir masyarakat sehingga persoalan arah kiblat tidak semata-mata dilihat dari akurasinya, akan tetapi juga fenomena sosial dan sistem pemikiran yang berkaitan dengannya seperti respon atas pengukuran arah kiblat dan pemikiran yang melatarbelakangi respon tersebut.

E. Telaah Pustaka

Penelitian tentang arah kiblat kebanyakan merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengoreksi tingkat akurasi arah kiblat suatu masjid semata, tidak melibatkan bagaimana penerapan perhitungan arah kiblat setelah diukur, apa kendalanya. Di antara penelitian itu adalah; Penentuan Arah Kiblat (Studi Kasus Terhadap Masjid-masjid di Desa Pepe Kecamatan Ngawen Kabupaten Klaten yang diteliti oleh Bidayatul Haniah. Penelitian ini berbeda dengan kajian yang penulis teliti, karena tidak melihat bagaimana penerapannya atau respon atas penentuan dan pengukuran ulang arah kiblat.

Tulisan-tulisan tentang arah kiblat banyak ditemukan dalam literatur buku secara teoritik mengenai segala sesuatu dan permasalahan tentang arah kiblat. Di antara buku-buku tersebut adalah; Menentukan Arah Kiblat Praktis karya Ahmad Izzudin, Kiblat Antara Bangunan dan Arah Ka’bah tulisan Ali Mustafa Ya’kub, Ilmu Falak Dalam Teori dan Prkatik tulisan Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak (Teori dan Aplikasi) karya A. Jamil, dan Ilmu Falak Teori dan Praktek tulisan Susiknan Azhari. Tulisan-tulisan tersebut menyajikan tentang pengertian arah kiblat, landasan hukumnya, cara penentuan atau perhitungannya secara teoritis dan paktis, serta permasalahan arah kiblat ditinjau dari sisi teks hadis dan dari sisi astronomis. Penelitian-penelitian tersebut tidak menyajikan kajian yang ada dalam penelitian ini, yakni respon atas pengukuran arah kiblat dan pemikiran yang melatarbelakanginya.

F. Kerangka Teori

Perlawanan atas sebuah pendapat yang menjadi mainstream pada masanya bisa dilihat dengan salah satu teori tentang relasi antar kuasa. Salah satu tokoh yang mengembangkan teori in adalah Deleuze yang diadopsi dari teori kuasa Foucault. Dalam pandangan Deleuze kekuasaan selalu berarti hubungan antar kekuasaan. Kekuasaan tidaklah dimiliki, karena ia berada dalam hubungan antar kekuatan. Kekuasaan itu dipraktekkan sehingga pertanyaan untuk kekuasaan bukanlah “milik siapa?” akan tetapi “bagaimana kekuasaan bekerja?”. Dalam prektek kekuasaan, di sana akan selalu ditemukan resistensi atau perlawanan. Dengan kata lain, resistensi adalah suatu yang niscaya dalam hubungan kekuasaan karena jalinan antar kekuatan itu sebenarnya berjalan dalam logika saling mempengaruhi.

Resistensi atau perlawanan merupakan kata yang memiliki konotasi memiliki kekuatan “eksternal”. Artinya, kata ini selalu mengandaikan adanya dua pihak yang saling berkonfrontasi satu sama lain, di mana kedua pihak tersebut memiliki kekuasaan masing-masing yang “diadu” untuk saling meruntuhkan. Ketika kekuasaan satu pihak diadu dengan yang lain untuk saling meruntuhkan, di sinilah perlawanan terjadi. kata perlawanan mengindikasikan dua hal; (1) kekuasaan adalah sesuatu yang dimiliki, dan (2) kerja perlawanan adalah kerja mengadu “kekuatan” dari luar dengan pihak luar lainnya, seakan-akan memang antar keduanya tidak ada sama sekali keterkaitan atau relasi.

Teori ini akan dijadikan sebagai bahan untuk mengupas persoalan respon pengukuran ukang arah kiblat Masjid Agung Surakarta, karena respon tersebut sangat berkaitan dengan faktor siapa yang dianggap berkuasa dan perlawanan atasnya.

Selain itu, pertarungan wacana di sekitar penentuan arah kiblat juga berkaitan dengan penafsiran tentang teks-teks yang berbicara mengenai arah kiblat dalam salat dan bahwa kemanapun orang menghadapkan wajahnya, di sana ada “wajah”  Allah. Teori-teori tentang hermeneutika kontemporer tentu harus digunakan sebagai pisau analisis masalah.

G. Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan, yaitu penelitian tentang respon atas koreksi arah kiblat di masjid Agung Surakarta.

Pendekatan penelitian yang dipakai adalah pendekatan hermeneutika. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui latar belakang respon atas pengukuran arah kiblat masjid Agung Surakarta dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi dilakukan pada saat pengukuran arah kiblat dan setelah pengukurannya atau bagaimana penerapan yang dilakukan oleh takmir masjid Agung Surakarta. Wawancara  dilakukan kepada pengurus masjid Agung Surakarta serta kepada orang-orang yang berkaitan dengan penelitian ini. Sementara dokumentasi dilakukan peneliti pada saat melakukan teknik pengukuran arah kiblat sampai penerapannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ya’kub, Ali Mustafa, Kiblat Antara Bangunan dan Arah Ka’bah, Jakarta: Pustaka Darus-Sunnah, 2010.

Izzudin, Ahmad, Menentukan Arah Kiblat Praktis, Yogyakarta: Logung Pustaka, 2010.

Khazin, Muhyiddin, Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktik, Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004.

Azhari, Susiknan, Ilmu Falak Teori dan Praktik, Yogyakarta: Lazuardi, 2001.

Jamil, A., Ilmu Falak (Teori dan Aplikasi), Jakarta: Amzah, 2009.

Supriatna, Encup, Hisab Rukyat dan Aplikasinya, Bandung: Aditama, 2007

http://www.suaramerdeka.com

http://www.pakarfisika.wordpress.com


[2] Ibid.

[3] Sumber dokumen http://pakarfisika.files.wordpress.com/2010/10/koreksi_arah_kiblat_ masjid_agung_ surakarta_pakarfisika1.jpg

[4] http: //pakarfisika.files.wordpress.com/2010/10/ arah_kiblat_ge_masjid_agung_surakarta_ pakarfisika.jpg

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s