UPAYA PENGEMBANGAN FIKIH INDONESIA (Kajian Singkat Pemikiran Hukum M. Quraish Shihab)


  1. A. Pendahuluan

Islam sebagai agama terakhir yang diturunkan Allah SWT dengan al-Qur’an sebagai pedoman ajarannya adalah agama yang harus memiliki watak s}a>lih} li kulli zama>n wa maka>n¸ layak untuk dipakai dan diterapkan sepanjang waktu dan di segala tempat.[1] Kelayakan Islam dan ajarannya untuk diterapkan di segala waktu dan tempat ini didukung oleh karakteristik ajaran Islam yang selain memuat ajaran yang absolut, universal, permanen dan statis juga memuat ajaran yang bersifat relatif, tidak universal, temporal dan elastis. Watak absolut, universal, permanen dan statis diperlukan untuk menjaga identitas ajaran Islam. Wilayah ini dalam hukum Islam dikenal dengan ajaran-ajaran yang bersifat qat}’i ad-Dala>lah yang tidak berubah dengan berlalunya waktu dan perbedaan tempat. Sedangkan watak relatif, temporal dan elastis diperlukan untuk mengakomodasi perkembangan zaman dan perbedaan tempat dalam menerapkan hukum Islam. Wilayah ini, dalam hukum Islam dikenal dengan ajaran-ajaran yang bersifat z}anni ad-Dala>lah.[2]

Ajaran Islam adalah ajaran yang sumber utamanya adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT yang tertuang dalam al-Qur’an dan juga as-Sunnah. Untuk bisa menfungsikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber hukum diperlukan adanya upaya mempelajari dan memahaminya. Upaya pemahaman atas isi al-Qur’an misalnya, sudah dimulai sejak ayat-ayat al-Qur’an itu turun dengan Nabi Muhammad sebagai penafsir utamanya. Usaha itu terus dilaksanakan setelah masa Nabi, yaitu pada masa sahabat, kemudian ta>bi’ at-ta>bi’i>n dan berkelanjutan sampai saat ini. Dalam sejarah perkembangan Islam, usaha atas pemahaman al-Qur’an dengan cara menafsirkannya menghasilkan karya-karya ilmiah yang tidak terhitung jumlah dan nilainya dan juga menghasilkan tokoh-tokoh penafsir al-Qur’an yang selalu ada pada tiap generasinya.[3] Dan dampak yang juga nampak dari perkembangan penafsiran al-Qur’an ini adalah adanya perkembangan dalam bidang hukum Islam, karena sebagaimana diketahui bahwa ayat-ayat al-Qur’an memuat banyak ayat yang berkaitan dengan hukum (­a>ya>t al-ah}ka>m).[4]

Karena ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang hukum sangat minim jumlahnya, sedangkan persoalan dalam kehidupan tidak terbatas jumlahnya dan selalu berubah sesuai perkembangan zaman, maka diperlukan sebuah usaha untuk memecahkan persoalan-persoalan baru tersebut dengan sebuah metode penetapan hukum yang dalam hukum Islam dikenal dengan ijtihad. Usaha untuk melakukan ijtihad ini sudah mulai muncul sejak masa sahabat, setelah wahyu tidak lagi turun dan Muhammad SAW juga sudah wafat. Adanya peristiwa baru yang belum terangkum dalam al-Qur’an atau as-Sunnah secara terperinci membutuhkan sebuah ijtihad demi terselesaikannya permasalahan tersebut. Salah seorang sahabat yang terkenal dengan terobosan-terobosan hukumnya dan menjadi salah satu acuan untuk memberikan semangat dalam berijtihad adalah Umar ibn al-Khattab.[5] Semangat untuk berijtihad ini menurun kepada generasi-generasi setelahnya yang kemudian memunculkan berbagai madzhab dalam hukum Islam pada abad ke-4 hijriyah. Masa ini ditandai dengan pembukuan as-Sunnah, pembukuan masalah-masalah fikih, semakin meluasnya perbedaan pendapat yang pada akhirnya memunculkan banyak ulama ahli ijtihad (mujtahid).[6]

Fase selanjutnya dalam perkembangan hukum Islam dalah fase jumud, bekunya dunia Islam dari para mujtahid. Fase ini ditandai diantaranya dengan menyebarnya sikap taqlid buta pada imam madzhab. Umat Islam terpaku pada pendapat madzhab masing-masing dan berusaha keras untuk mempertahankan pendapat madzhabnya. Ijtihad para mujtahid yang pada dasarnya bersifat relatif dan temporal, dianggap sebagai sesuatu yang mutlak dan statis. Fikih yang merupakan penafsiran dan pemahaman atas al-Qur’an dan as-Sunnah dianggap sebagai sebuah hasil akhir yang tidak dapat diganggu gugat dan berubah, tidak layak menerima perubahan dan tambahan.[7] Kondisi ini menjadikan para ahli fikih masa itu tidak memiliki keberanian untuk melakukan ijtihad yang mandiri. Mereka melakukan ijtihad dengan tetap mengikuti pada metode ijtihad ahli fikih sebelumnya. Hasil-hasil keputusan hukum mereka pun semata-mata menguatkan atau melemahkan hasil keputusan hukum dari ahli fikih sebelumnya. Bahkan, fase ini terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup.[8]

Masa jumud nya hukum Islam ini berlangsung dalam waktu yang relatif lama, yakni dari abad 11 sampai abad 19 M. Selama kurun waktu itulah hukum Islam mengalami stagnasi yang akhirnya membawa pada kemunduran dan bahkan merupakan awal runtuhnya dunia Islam. Dan baru pada awal abad 20 M, dunia Islam kembali menampakkan perkembangan baru dengan munculnya para tokoh pembaruan dunia Islam seperti Muhammad bin Abdul Wahhab di Saudi Arabia, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha di Mesir, Ahmad Khan di India dsb.[9] Mereka mengajak ummat Islam untuk meninggalkan taklid buta dan mengembalikan kejayaan Islam dengan kembali pada ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Gerakan pembaruan di Timur Tengah ini, kemudian merambah ke dunia Islam yang lain termasuk Indonesia.[10] Gerakan pembaruan Islam di Indoneisa memberikan dampak yang sangat positif terhadap perkembangan pemikiran di Indonesia.

Di antara dampak positif yang nampak adalah munculnya para tokoh pembaruan di Indonesia semisal KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Syekh Sulaiman ar-Rasuli, dan sebagainya, juga munculnya berbagai lembaga pendidikan seperti madrasah, pondok pesantren, lembaga pendidikan Islam, serta munculnya berbagai organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan perjuangan semisal Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, PERTI, dan sebagainya.[11] Dengan semakin berkembangnya pembaruan pemikiran keislaman di Indonesia, pada abad berikutnya, semakin banyak pula lahir tokoh-tokoh yang menghasilkan karya-karya besar di berbagai bidang seperti tafsir, hadis, fikih, ushul fikih dan sebagainya. Diantaranya adalah Mahmud Yunus, Hamka, Munawar Khalil, Hasbi ash-Shiddieqy, dan sebagainya.[12] Tokoh-tokoh tersebut menuangkan pemikiran keislamannya dalam bidang tafsir al-Qur’an dan juga hukum Islam. Bahkan Hasbi ash-Shiddieqy dianggap sebagai salah satu tokoh yang berusaha meletakkan dasar-dasar fikih Indonesia.

Dan salah seorang tokoh Indonesia kontemporer yang memiliki pemikiran keislaman dalam bidang tafsir dan fikih yang saat ini layak untuk dikaji hasil-hasil pemikirannya adalah M. Qurasih Shihab.

  1. B. Biografi Singkat M. Quraish Shihab

M. Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan pada 16 Februari 1944. Pria ini merupakan tokoh ahli tafsir kontemporer Indonesia yang dikenal sangat produktif. M. Quraish Shihab meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang tafsir al-Qur’an di Universitas Kairo, Mesir pada tahun 1969. Pada tahun 1982, dia berhasil meraih gelar doctor di bidang ilmu-ilmu al-Qur’an dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan Tingkat Pertama di universitas yang sama.

Pengabdiannya di bidang pendidikan mengantarkannya menjadi Rektor IAIN Syarif Hidaytullah pada tahun 1992-1998. Kiprahnya tak terbatas pada bidang akademis. Ia menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, 1985-1998; anggota MPR RI 1982-1987 dan 1987-2002; dan pada 1998 dipercaya menjadi Menteri Agama RI. Produktifitasnya dalam menulis menghasilkan puluhan karya yang meliputi berbagai bidang, terutama pada bidang kajian al-Qur’an yang menjadi spesialisasinya. Di antara karyanya dalam bidang kajian al-Qur’an yang paling legendaris adalah Membumikan al-Qur’an (Mizan, 1994), Lentera Hati (Mizan, 1994), Wawasan al-Qur’an (Mizan, 1996), Tafsir Al-Misbah (Lentera Hati, 2003) yang merupakan tafsir al-Qur’an 30 juz pertama di Indonesia sejak 30 tahun terakhir, Secercah Cahaya Ilahi (Mizan, 2007), dsb. Disamping itu, dia juga menghasilkan karya-karya di bidang wawasan keislaman, dan juga dalam bidang hukum Islam. Pemikirannya dalam bidang hukum bisa ditemukan dalam kumpulan fatwa-fatwanya yang merupak jawaban atas berbagai pertanyaan dalam sebuah rubrik tanya jawab masalah-masalah agama yang ada di koran Republika yang memuat permasalahan seputar Ibadah Mahdah, seputar al-Qur’an dan al-Hadis, seputar Ibadah dan Mu’amalah, dan seputar Wawasan Agama. Selain itu, karena al-Qur’an memuat ayat-ayat hukum, pemikiran hukumnya juga bisa ditemukan di sela-sela tulisannya dalam Tafsir al-Misbah dan karya-karyanya yang lain yang memuat tafsir ayat-ayat al-Qur’an.[13]

C. Sekelumit Pemikiran Hukum dan Corak Ushul Fikihnya

Pemikiran M. Quraish Shihab dalam bidang hukum layak untuk dikaji karena dia selalu berusaha untuk menyelesaikan persoalan hukum yang dihadapinya dengan menggunakan dalil, baik dari al-Qur’an maupun al-Hadis, bahkan dikuatkan dengan mengutip pendapat para ulama, baik ulama dahulu maupun kontemporer. Kemampuannya dalam bidang tafsir menjadikannya mampu beristimbath hukum dengan memakai dalil-dalil al-Qur’an yang disesuaikannya dengan kondisi masa sekarang. Ia selalu mampu menguatkan argumentasinya dengan mengemukakan ayat al-Qur’an, hadis Nabi, ataupun dengan mengutip pendapat para ulama. Ia juga terkenal dengan keluwesan dan kepraktisannya dalam berpendapat, tidak terkesan menghakimi, dan selalu mengemukakan berbagai perbedaan pendapat di sekitar masalah yang dipaparkannya. Permasalahan hukum yang dibahasnya mencakup masalah-masalah klasik, kontemporer, maupun yang berhubungan dengan masalah keindonesiaan. Malah-masalah hukum klasik seperti masalah hukum akikah dan cara pelaksanaannya, tentang hukum talak tiga, tentang batal atau tidaknya seseorang yang mencium istrinya dan sebagainya. Masalah-masalah kontemporer yang dibahasnya misalnya tentang operasi plastik, bunga bank dan deposito, zakat saham, kloning, euthanasia, multi level marketing, dan sebagainya. Sedangkan masalah-masalah keindonesiaan misalkan masalah  Poligami dan PP.No. 10, hukum PNS dan istri keduanya, hukum mengucapkan selamat natal, dua Idul Fitri, KB, dan sebagainya.

Dalam memecahkan permasalahan hukum yang dihadapi, Quraish Shihab menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujuan utamanya. Dia berkata ketika memberikan kata pengantar pada salah satu kumpulan fatwanya,

Bagi saya, aneka persoalan yang terhidang dalam buku ini semakin membuktikan betapa kayanya ajaran Islam-Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, masalah-masalah kontemporer-seperti operasi plastik, euthanasia, dan kloning- yang beberapa waktu lalu belum terbetik dalam benak para pakar hukum dan fuqaha, dapat ditemukan rujukannya dalam kedua sumber ajaran Islam tadi.”[14]

Menanggapi pertanyaan tentang hukum melakukan operasi plastik dengan tujuan untuk mempercantik diri dan melurusukan gigi, Quraish Shihab terlebih dahulu mengemukakan dalil-dalil yang dipakai para ulama yang berisi larangan merubah ciptaan Allah, diantaranya ayat al-Qur’an surat ar-Ru>m: 30 dan an-Nisa>’: 119 dan hadis Nabi SAW riwayat Imam Muslim tentang laknat Allah terhadap pemakai tato dan pembuatnya, yang mencabut rambut wajah dan pencabutnya, dan yang mengatur giginya yang merubah ciptaan Allah.

Dalam analisisnya terhadap dalil-dalil tersebut, Qurasih mengatakan bahwa sedikit sekali ulama yang memahami surat ar-Ru>m: 30 sebagai larangan mengubah bentuk fisik manusia. Hampir seluruh ulama klasik dan kontemporer memahaminya sebagai larangan atau tidak bisanya mengubah fitrah keagamaan manusia (fitrah tauhid). Surat an-Nisa>’: 119 merupakan ayat yang memang berisi larangan mengubah fisik. Akan tetapi, menurut Qurasih Shihab, konteks larangan tersebut pada dasarnya pada tiga hal (a) binatang; (b) pengubahan yang memperburuk dan menghalangi fungsinya salah satu anggota badan ciptaan Allah; dan (c) atas dorongan ajaran setan. Atas dasar itu, jika faktor tersebut tidak terpenuhi maka terbuka kemungkinan untuk membolehkannya[15] Untuk menguatkan pendapatnya, Qurasih Shihab mengutip pendapat Ibnu ‘Asyur dan Rashid Ridha yang memahami bahwa larangan-larangan tersebut berlaku jika pengubahan adalah tidak untuk memperbaiki dan memperindah dan dikaitkan dengan pemujaan setan atau ajaran sesat.

Sedangkan permasalahan baru yang belum ditemukan dalam kedua sumber tadi, Quraish Shihab berusaha untuk mendasarkan pada prinsip-prinsip dasar penetapan hukum Islam, yakni memelihara agama, jiwa, akal, harta benda, dan kehormatan manusia atau keturunan.[16] Sebagai misal penerapan prinsip-prinsip itu dalam penetapan hukumnya adalah ketika dia membahas masalah hukum KB (Keluarga Berencana). Kebijakan tentang kependudukan, yang dalam ini adalah KB, menurut Quraish Shihab, mempunyai pijakan keagamaan yang amat kukuh karena kebijakan itu pada akhirnya bermuara pada terlakasananya salah satu dari lima prinsip dasar penetapan hukum Islam, yakni terjaganya keturunan. KB, apabila dilaksanakan dengan tujuan untuk terpeliharanya pendidikan anak, akan menjadi dibenarkan.[17] Selain itu, Shihab juga mendasarkan pendapatnya pada perilaku para Sahabat Nabi yang juga melakukan upaya pencegahan kehamilan, yang tentu berkaitan dengan masalah kependudukan, yakni ’azl atau coitus interruptus. Dasar ini, dalam pandangan penulis sangat beralasan karena praktek tersebut dilakukan para sahabat ketika wahyu al-Qur’an masih turun dan Nabi SAW masih hidup. Dengan tidak adanya ayat al-Qur’an dan juga hadis yang secara tegas melarang hal tersbut pada saat itu, padahal kemungkinan untuk muncul larangan itu ada, menjadi dalil bahwa praktek ‘azl bukanlah perkara yang terlarang.

Segala bentuk dan cara kontrasepsi, menuru Shihab, diperbolehkan asalkan memenuhi ketentuan; (a) tidak dipakasakan, (b) tidak menggugurkan (aborsi), (c) tidak membatasi jumlah anak, dan (d) tidak mengakibatkan pemandulan abadi.[18]

Keluwesannya dalam menetapkan hukum didasarkan pada prinsipnya bahwa ketetapan hukum itu berkisar pada ‘illat-nya; selama ‘illat itu ada, maka hukum tetap belaku, dan bila ‘illat telah tiada, maka gugur pula keberlakuan hukum.[19] Prinsip ini misalnya dia terapkan untuk menyelesaikan permasalahan haram atau tidaknya patung. Menurutnya, hadis-hadis Nabi SAW yang melarang gambar dan patung harus dipahami secara kontekstual. Ia setuju dengan pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa patung dan semacamnya diharamkan oleh Nabi Muhammad SAW karena, ketika itu, masyarakat Arab masih menyembah patung, atau paling tidak suasana penyembahannya masih berakar pada jiwa sebagian masyarakat. Akan tetapi, kalau dalam suatu masyarakat, patung tidak disembah atau tidak dikhawatirkan lagi untuk disembah, maka, tentunya larangan tersebut tidak berlaku lagi. Bukankah hukum selalu dikaitkan dengan motifnya, sehingga kalu motifnya sudah tidak ada, maka ketetapan hukumya pun berubah ?. Bahkan, menurutnya, apabila patung sudah dijadikan sebagai sebuah karya seni semata, dan bila seni itu membawa manfaat bagi manusia, memperindah hidup dan hiasannya yang dibenarkan agama, mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya, serta mengembangkan serta memperhalus rasa keindahan dalam jiwa manusia, maka sunnah Nabi SAW mendukung hal tersebut dan tidak menentangnya karena ia telah menjadi salah satu nikmat Allah yang dilimpahkan kepada manusia.[20] Sebuah pendapat, yang dalam pandangan penulis sangat berani, dengan menjadikan hukum membuat dan memperjualbelikan patung yang diharamkan oleh mayoritas ulama klasik menjadi boleh dan bahkan sunnah dengan alasan adanya perubahan ‘illat dan kondisi yang melingkupi lahirnya larangan terebut.

Alasan perubahan ‘illat ini pula yang menjadikannya berpendapat bahwa kesaksian seorang wanita saat ini adalah sama dengan kesaksian seorang laki-laki. Dalam memahami al-Qur’an surat al-Baqarah (2); 282 yang secara tekstual menyatakan bahwa kesaksian wanita adalah separuh dari kesaksian laki-laki, dia berpendapat bahwa persaksian yang dibicarakan ayat terseut adalah dalam bidang keuangan, karena ayat itu berbicara tentang utang-piutang. Keterlibatan perempuan dalam persoalan perdagangan ketika ayat itu turun, belumlah sepesat dewasa ini. Keterlibatan yang kurang itu, menurut Qurasih Shihab, menjadikan perhatian mereka berkurang pula. Maka, kemungkinan lupa menjadi lebih besar dibandingkan kemungkinannya pada lelaki yang sehari-hari bergelut dengan perdagangan dan keuangan. Dengan demikian, jika pesan ayat tersebut merupakan bagian ijtihad dan merupakan ‘illat, maka bisa jadi kini, kesaksian peempuan yang terlibat langsung dalam bidang keuangan, dinilai sama dengan kesaksian laki-laki.[21] Pendapat seperti ini, tentu bertentangan dengan pendapat sebagian besar ulama, baik klasik maupun kontemporer, yang tetap memahami bahwa kesaksian perempuan adalah separuah dari kesaksian laki-laki.

Selain alasan perubahan ‘illat, keluwesan pendapat Qurasih Shihab juga karena dia berusaha memami ayat-ayat al-Qur’an atau Sunnah Nabi sesuai dengan konteksnya. Misalnya adalah masalah kepemimpinan wanita. Quraish Shihab berpendapat bahwa wanita berhak untuk menjadi pemimpin, baik kepemimpinan secara khusus maupun kepemimpinan secara umum seperti menjadi presiden, karena ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa kepemimpinan itu ada di tangan laki-laki, yakni an-Nisa (4):34, berbicara dalam konteks rumah tangga, sehingga tidak dapat dipahami secara umum. Hadis yang melarang wanita menjadi pemimpin harus dipahami sesuai dengan konteks munculnya hadis tersebut. Hadis tersebut muncul dalam konteks pengangkatan putri penguasa Persia saat itu, sehingga tidak bisa dipahami secara umum. Hadis itu adalah sebuah prediksi atau berita ghaib yang disampaikan kepada Nabi SAW tentang masa depan kekaisaran Romawi.[22]

Beberapa persoalan yang merupakan persoalan khila>fiyah di masyarakat, Quraish Shihab sering menyampaikan berbagai perbedaan pendapat tanpa menegaskan pendapat mana yang dipilihnya. Jawaban yang begitu beragam ini sering dianggap membingungkan masyarakat awam yang membutuhkan kepastian. Misalnya adalah mengenai jumlah minimal jamaah dalam shalat Jum’at, jumlah rakaat shalat Tarawih, dan Qunut Subuh. Ketika menjelaskan mengenai Qunut Subuh misalnya, setelah membeberkan hadis-hadis yang berbicara tentang masalah qunut, ia menjelaskan berbagai pendapat yang ada dalam memahami hadis-hadis tersebut. Ada yang berpegang pada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW selalu membaca Qunut dalam setiap salat sehingga mereka menganjurkan pembacaannya setiap salat, ada yang berkata bahwa karena Nabi tidak selalu membaca Qunut, maka anjuran membacanya dilaksanakan bila ada sebab-sebab tertentu, misalnya adanya petaka atau krisis (qunu>t na>zilah), ada yang berpendapat bahwa Qunut dilakukan saat salat yang khafi, ada yang berpendapat bahwa Qunut dilakukan pada salat yang jahri, dan ada yang berpendapat bahwa Qunut hanya dilakukan pada saat salat Subuh. Tentu saja masing-masing memiliki alasan-alasannya.[23]

Mengenai hal ini, ia mengatakan bahwa pesat dan beragamnya informasi dalam era yang sangat cepat berubah ini mendorongnya untuk menghidangkan aneka alternatif kepada masyarakat- yang awam sekalipun. Hal ini, menurut penulis, merupakan sebuah cara bagi Quraish Shihab untuk memberikan pendidikan pada masyarakat –terutama yang awam agar mereka tidak terbiasa dengan adanya satu jawaban dan menganggapnya sebagai satu-satunya jawaban yang benar. Sikap inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan intoleransi dalam masyarakat Indonesia yang begitu majemuk. Adanya berbagai organisasi sosial keagamaan dan berbagai pemahaman kegamaan di Indoensia memang menjadikan persoalan fiqh -terutama menyangkut masalah ibadah sering menimbulkan gesekan-gesekan di masyarakat yang berpotensi menimbulkan konflik dan pertikaian. Jika masyarakat awam terbiasa dengan adanya informasi yang beragam, niscaya kekhawatiran tersebut semakin lama akan semakin jauh.

Diantara pendapatnya yang dianggap kontroversial adalah pendapatnya tentang jilbab.[24] M. Quraish Shihab, dalam menentukan wajib tidaknya jilbab bagi wanita, terlebih dahulu mengemukakan panjang lebar perbedaan yang terjadi di antara para ulama dan cendekiawan Islam klasik dan kontemporer tentang batas aurat, yang disebabkan perbedaan mereka dalam menafsiri ayat tentang jilbab dan juga ketidaksepakatan mereka tentang keabsahan hadis-hadis yang berisi tentang batasan aurat.

Untuk menuju pada kesimpulan bahwa jilbab bukanlah sebuah perintah agama, ia mengutip perkataan Muhammad Thahir bin ‘Asyur, seorang ulama dari Tunis yang mengarang tafsir at-Tah}ri> wa at-Tanwi>r, yang menyatakan bahwa ketentuan pemakaian jilbab dan tata cara memakai jilbab yang berbeda-beda merupakan anjuran yang mempertimbangkan adat orang-orang Arab, dan disesuiakan dengan keadaan wanita dan adat mereka. Tujuan utama dari anjuran itu, sesuai yang tercantum dalam surat al-Ah}za>b: 59, adalah agar wanita-wanita saat itu dapat dikenal (sebagai wanita Muslim yang baik) sehingga tidak diganggu.[25] Mengenai ayat-ayat al-Qur’an dan juga hadis-hadis Nabi SAW yang berisi perintah tentang pemakaian jilbab, Quraish Shihab mengatakan bahwa tidak setiap redaksi perintah yang ada dalam al-Qur’an dan hadis merupakan perintah yang wajib.[26] Dalam kerangka itulah ayat-ayat dan hadis-hadis Nabi yang memerintahkan pemakaian jilbab diletakkan, perintah yang bisa berarti wajib, sunnah, atau sekedar anjuran Setelah itu, dia berkata;

“Memang, kita boleh berkata bahwa wanita yang menutup seluruh badannya atau kecuali wajah dan(telapak) tangannya, telah menjalankan bunyi teks ayat-ayat al-Qur’an bahkan mungkin berlebih. Namun dalam saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan setengah tangannya, bahwa mereka secara pasti telah melanggar petunjuk agama. Bukankah al-Qur’an tidak menyebut batas aurat? Para ulama pun ketika membahasnya berbeda pendapat….”[27]

Pendapat ini terhitung pendapat yang liberal, apalagi ia menjadikan pendapat  salah satu tokoh liberal dalam pemikiran Islam, Said al-Asymawi, sebagai penguat kesimpulan yang ia dapatkan. Al-Asymawi oleh beberapa kalangan dianggap sebagai salah satu tokoh yang tidak otoritatif sebagai rujukan dalam pemikiran hukum Islam. Para ulama klasik ketika menjelaskan makna ayat-ayat tentang batas aurat bagi wanita atau tentang hijab, dengan adanya perbedaan di antara mereka tentang batas aurat bagi wanita, tidak satupun yang sampai pada sebuah kesimpulan bahwa jilbab tidak wajib atau bahwa jilbab adalah sebuah konstruksi sosial budaya sebagaimana kesimpulan Quraish Shihab.

Masalah kontemporer……………

Masalah keindonesiaan………….

  1. D. Penutup

Paparan di atas memperlihatkan bahwa hasil pemikiran hukum M.Quraish Shihab merupakan bidang kajian yang sangat menarik. Ketidakterikatannya pada salah satu madzhab, kedalaman analisis kebahasaannya, dan keluasannya dalam penguasaan tafsir al-Qur’an merupakan kelebihan yang dimiliki M. Quraish Shihab. Selain itu, model penyampaiannya yang santun, bahasa yang mudah dicerna oleh semua kalangan, kompromistis dan beberapa pemikiran hukumnya yang sarat nuansa keindonesiaan menjadikan tulisan-tulisannya dapat dinikmati oleh semua orang dan menjadi salah satu tanda semakin berkembangnya kajian fikih Indonesia. Kajian tentang pendapat-pendapatnya yang berkaitan dengan persoalan hukum perlu lebih dikembangkan untuk lebih memperkaya wawasan penafsiran Indonesia dan juga wasasan fikih Indonesia di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Ahmad, Zu’ama>’ al-Is}la>h} fi ‘As}r al-H{adi>s|, (Kairo: Maktabah an-Nahdhah al-Misriyyah, 1979)

Anderson, JND, Islamic Law in The Modern World, (New York: New York University Press, 1959)

Al-Asyqar, ‘Umar Sulaiman, Ta>ri>kh al-Fiqh al-Isla>mi>, (Bulaida: Qashr al-Kitab, t.t).

Baidan, Nashruddin, Perkembangan Tafsir Al-Qur’an di Indonesia, (Solo: Tiga Serangkai, 2003).

Coulson, N. J., Conflicts and Tension in Islamixc Jurisprudence (Chicago: The University of Chicago Press, 1969),

Federspiel, Howard M., Kajian Al-Qur’an di Indonesia, pent. Tajul Arifin, cet 1 (Bandung: Mizan, 1996).

Hanafi, Ahmad, Pengantar dan Sejarah Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989)

Khalaf, ‘Abd al-Wahhab, ‘Ilm Us}u>l al-Fiqh ,(Kuwait: Dar al-Qalam, 1978)

Mudzhar, M. Atho’, Fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia, Suatu Studi tentang Pemikiran Hukum Islam di Indonesia, 1975-1988, (Jakarta: INIS, 1993)

Nasution, Harun, Pembaruan Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982).

Noer,  Deliar, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta; LP3ES, 1985)

Ar-Rumi, Fahd, Ittija>ha>t at-Tafsi>r fi al-Qarn ar-Ra>bi’ ‘Asyr, (Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 2002)

Ash-Shiddieqy, T. M. Hasbi, Syari’at Islam Menjawab Tantangan Zaman, (Jakarta: Bulan Bintang, 1966)

Shihab, M. Quraish, Fatwa-fatwa M. Quraish Shihab; Seputar Wawasan Agama, cet. II, (Bandung: Mizan, 2001 )

——–, Perempuan; dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama samapai Bias Baru, cet. 1, (Tangerang: Lentera Hati, 2005)

——–, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i  atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. 3, (Bandung: Mizan, 1996)

——–, Fatwa-fatwa M. Quraish Shihab: Seputar Ibadah dan Mu’amalah, cet. 1 (Bandung: Mizan, 1999)

——–, Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah; Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer, cet. 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2004)

As-Suyuthi, ar-Radd ‘Ala> Man Akhlad ila> al-Ardh wa Jahila anna al-Ijtihad fi Kulli ‘As}r Fardh, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983)

Asy-Syatibi, al-Muwa>faqa>t fi> Us}u>l asy-Syari>’ah, (Makkah: ttp., t.t)

At-Tamawi, Sulaiman Muhammad, ‘Umar ibn al-Khat}t}ab wa Us}u>l as-Siya>sah wa al-Ida>rah al-H{adi>s|ah, (Kairo: Dar al-Fikr, 1989)

‘Ubadah, Muhammad Anis, Ta>ri>kh al-Fiqh al-Isla>mi> fi> ‘Ahd an-Nubuwwah wa as-S}ah}a>bah wa at-Ta>bi’i>n, (ttp.: Dar at-Tiba’ah, 1980)

Usman, Muhlish, Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah, (Jakarta: Grafindo Persada, 1996)

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1979).

Az-Zarqani, Muhammad Abd al-‘Adhim, Mana>hil al-‘Irfa>n, (Kairo: Maktabah at-Taufiqiyyah, t.t)


[1] Lihat Muhammad Anis ‘Ubadah, Ta>ri>kh al-Fiqh al-Isla>mi fi ‘Ahd an-Nubuwwah wa as-S}ah}a>bah wa at-Ta>bi’i>n, (ttp.: Dar at-Tiba’ah, 1980), hlm. 10.

[2] Perdebatan terjadi dalam menentukan mana yang masuk wilayah qat}’i ad-Dala>lah dan mana yang masuk dalam kategori z}anni ad-Dala>lah. Mengenai dualisme karakteristik hukum Islam antara kesatuan dan keragaman, statis dan dinamis, akal dan wahyu, kekuasaan dan kebebasan lihat dalam N. J. Coulson, Conflicts and Tension in Islamixc Jurisprudence (Chicago: The University of Chicago Press, 1969),

[3] Untuk mengetahui perkembangan tafsir dan tokoh-tokohnya lihat dalam Fahd ar-Rumi, Ittijaha>t at-Tafsi>r fi al-Qarn ar-Ra>bi’ ‘Asyr, (Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 2002), Muhammad Abd al-‘Adhim az-Zarqani, Mana>hil al-‘Irfa>n, (Kairo: Maktabah at-Taufiqiyyah, t.t), juga dalam Nashruddin Baidan, Perkembangan Tafsir Al-Qur’an di Indonesia, (Solo: Tiga Serangkai, 2003).

[4] Abd al-Wahhab Khalaf mengatakan bahwa ayat-ayat yang berbicara tentang hukum dalam al-Qur’an tidaklah banyak, yaitu sekitar 368 ayat. 140 ayat di antaranya berbicara tentang ibadah, dan 228 ayat yang lain berbicara tentangt mu’amalah. Lihat ‘Abd al-Wahhab Khalaf, ‘Ilm Us}u>l al-Fiqh ,(Kuwait: Dar al-Qalam, 1978), hlm. 32-33.

[5] Untuk melihat berbagai kebijakan dan terobosan-terobosan hukum ‘Umar ibn al-Khattab lihat misalnya dalam Sulaiman Muhammad at-Tamawi, ‘Umar ibn al-Khat}t}a>b wa Us}u>l as-Siya>sah wa al-Ida>rah al-Hadi>s|ah, (Kairo: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 170-191, Hasbi ash-Shiddieqi, Syari’at Islam Menjawab Tantangan Zaman, (Jakarta: Bulan Bintang, 1966), hlm. 20-23.

[6] Lebih jelas tentang periodisasi perkembangan fikih, ciri masing-masing periode, serta tokoh-tokohnya lihat dalam ‘Umar Sulaiman al-Asyqar, Ta>ri>kh al-Fiqh al-Isla>mi, (Bulaida: Qashr al-Kitab, t.t).

[7] Lihat penjelasan tentang perubahan pandangan umat Islam terhadap sumber-sumber hukumnya ini pada JND Anderson, Islamic Law in The Modern World, (New York: New York University Press, 1959), hlm. 1 dst.

[8] Terdapat perbedaan pendapat tentang kapan penetapan para ulama terhadap tertutupnya pintu ijtihad. Lihat Ahmad Hanafi, Pengantar dan Sejarah Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), hlm. 208, M. Atho’ Mudzhar, Fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia, Suatu Studi tentang Pemikiran Hukum Islam di Indonesia, 1975-1988, (Jakarta: INIS, 1993), hlm. 1. Walaupun begitu masih terdeapat beberapa ulama baik di generasi itu maupun generasi-generasi setelahnya yang dengan berani mengatakan bahwa pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Hanya saja, suara mereka memang kalah lantang dengan para penganut madzhab yang mengharuskan untuk taqlid pada salah satu madzhab dari berbagai madzhab yang sudah ada.  Diantara ulama yang memberikan kritikan terhadap pendapat yang mengharuskan taklid adalah Jalaluddin as-Suyuthi, lihat as-Suyuthi, ar-Radd ‘Ala> Man Akhlad ila al-Ardh wa Jahila anna al-Ijtiha>d fi Kulli ‘As}r Fardh, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), juga Ibnu Taimiyah dan para murid-muridnya seperti Ibn al-Qayyim al-Jauziyah.

[9] Uraian jelas tentang gerakan pemaruan ini dapat ditemukan dalam berbagai karya, diantaranya Ahmad Amin, Zu’ama>’ al-Is}la>h} fi> ‘As}r al-H{adi>s|, (Kairo: Maktabah an-Nahdhah al-Misriyyah, 1979); Harun Nasution, Pembaruan Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982).

[10] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta; LP3ES, 1985), hlm. 39-40.

[11] Mengenai perkembngan berbagai lembaga pendidikan Islam, madrasah, pondok pesantren di masa-masa itu lihat dalam Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1979).

[12] Kajian tentang karya-karya tafsir Indoensia dari para tokoh-tokoh tersebut bisa disimak dalam Howard M. Federspiel, Kajian Al-Qur’an di Indonesia, pent. Tajul Arifin, cet 1 (Bandung: Mizan, 1996).

[13] Lihat M. Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, (Jakarta: Gelegar Media Indonesia, 2009), hlm. 668-671.

[14] M. Quraish Shihab, Fatwa-fatwa M. Quraish Shihab; Seputar Wawasan Agama, cet. II, (Bandung: Mizan, 2001 ), hlm. vii-viii.

[15] M. Quraish Shihab, Fatwa-fatwa M. Quraish Shihab; Seputar Ibadah dan Mu’amalah cet. II, (Bandung: Mizan, 2001 ), hlm. 54-59

[16] Kelima hal ini dikenal dengan al-Maqa>s}id al-Khamsah atau al-Qawa>’id al-Asa>siyah al-Khamsah yang merupakan lima kaidah dasar penetapan hukum Islam atau tujuan pokok ditetapkannya hukum Islam. Lihat dalam Abd al-Wahhab Khallaf, ‘Ilm Us}u>l, hlm. 200-2001, asy-Syatibi, al-Muwa>faqa>t fi Us}u>l asy-Syari>’ah, (Makkah: ttp., t.t), II/10-12,  Muhlish Usman, Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah, (Jakarta: Grafindo Persada, 1996), hlm. 107 dst.

[17] Lima tujuan pokok tersebut adalah pemeliharaan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. M. Qurasih Shihab, Fatwa-fatwa M. Quraish Shihab: Seputar Ibadah dan Mu’amalah, cet. 1 (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 136-138. juga M. Quraish Shihab, Perempuan; dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama samapai Bias Baru, cet. 1, (Tangerang: Lentera Hati, 2005), hlm. 219 dst.

[18] Ibid.

[19] Ibid. hlm. 268. Penjelasan tentang prinsip ini lihat dalam ‘Abd al-Wahhab Khallaf, ‘Ilm, hlm. 66

[20] M. Quraish Shihab, Fatwa-fatwa M. Quraish Shihab; Seputar Ibadah, hlm. 48, juga dalam M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i  atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. 3, (Bandung: Mizan, 1996), hlm.391- 394.

[21] M. Quraish Shihab, Perempuan, hlm. 267-268.

[22] M. Quraish Shihab, Perempuan, hlm. 334, dst, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 313-317, Fatwa-fatwa Seputar Ibdah, hlm. 299-300. Hadis yang dimaksud adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah; Lan Yuflih}a Qaum Wallau Amrahum Imra’ah.” (HR. Bukhari, Ahmad, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi).

[23] M. Quraish Shihab, M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, cet. VIII, (Tangerang: Lentera Hati, 2010), hlm. 87-88.

[24] Lihat secara lengkap dalam M. Qurasih Shihab, Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah; Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer, cet. 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2004)

[25] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 178-179

[26] Ibid.

[27] Ibid., hlm. 174, M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 179,  Fatwa-fatwa Seputar Ibadah dan Muamalah, hlm. 107-108.

4 Comments

  1. Aswrwb uztads, terimakasih untuk kajiannya. Sungguh saya sangat senang membacanya. Meski saya bukan fans pak Quraish, namun dari sekian banyak buku yang beliau tulis saya tidak pernah menemukan tulisan beliau yang menghakimi, menyalahkn apalagi mengkafirkan kelompok atau orang. Beliau santun dalam tulisannya dan berusaha mencari pemecahan masalah secara win-win solution. Oleh karena itu waktu saya tahu banyak penulis di internet yang menghujat dan menyalahkan bahkan menghujat beliau, sungguh saya sangat sedih. Kanjeng Nabi yang begitu mulia-pun, di Al Qur’an “hanya” ditugaskan sebagai pembawa peringatan. Bukan sebagai hakim & sekaligus jaksa. Tapi apa yang terjadi pada umat Islam kita? Islam yang sekarang begitu tidak toleran terhadap perbedaan terhadap tafsir Al Qur’an. Bahkan banyak yang melkukan bully secara psikis maun fisik. Moga cara mengevaluasi seperti ini yang mengemukakan husnuzhon menjadi trend di kalangan umat kita sehingga suasana dsikusi menjadi sejuk bahkan Islam benar2 menjadi rahmatan lil alamin. Amin. Wswrwb

  2. Alhamdulillah, terima kasih atas dimuatnya artikel dasar pemikiran dari M. Quraish Shihan karena sangat membantu saya dalam menambah khazanah biographi tokoh2 ke islaman kontemporer. Semoga budaya islam negri kita ini terbiasa menjadikan budaya husnudzon dan bertoleransi tinggi khusunya terhadap sesama muslim maupun non muslim. Wa’assalamualaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s