Redefinisi Makna Rukyah, Perlukah ?


Ketika bulan suci Ramadan berada di ambang pintu, sebagian masyarakat sudah  mulai merasakan salah satu dampaknya, yakni semakin meroketnya harga-harga kebutuhan pokok. Hal ini semakin terasa sempit bagi masyarakat menengah ke bawah saat mereka juga baru saja mengeluarkan banyak dana untuk pemenuhan kebutuhan tahun ajaran baru bagi anak-anak mereka. Sebagian masyarakat lain, terutama pejabat di lingkungan kementerian agama dan juga beberapa ormas Islam mulai was-was dan deg-degan dengan kemungkinan permulaan bulan Ramadan yang berbeda.

Perhitungan dalam ilmu falak dengan menggunakan program Mawaqit maupun Accurate Times menunjukkan bahwa Ijtima’ (konjungsi) terjadi pada tanggal 10 Agustus 2010 pada jam 10:09 WIB dengan ketinggian hilal 2,20 derajat dan umur bulan saat terbenam matahari adalah 7,78 jam. Perbedaan dalam menentukan masuknya bulan baru, untuk saat ini, memang tidak banyak ditentukan oleh perbedaan hasil perhitungan. Munculnya berbagai sistem hisab (perhitungan) kontemporer saat ini semakin meminimalkan perbedaan hasil perhitungan di antara para pakar astronomi Islam. Perbedaan yang terjadi diantaranya adalah dalam menerjemahkan dan menerapkan data-data tersebut dalam kriteria masuknya bulan baru hijriah. Walaupun terkesan klasik, akan tetapi perbedaan dalam memaknai kata “rukyah” sampai saat ini masing sering diperdebatkan. Tulisan ini, akan sedikit mengupas perkembangan pemaknaan kata rukyah dalam perkembangan ilmu falak di dunia Islam.

Rukyah bil fi’li dengan rukyah bil ‘ilmi

Perbedaan kata rukyah sering dikaitkan dengan perbedaan antara madzhab hisab dengan madzhab rukyah dalam memaknai hadis Nabi: Berpuasalah karena melihat hilal (Ramadan), dan berhentilah berpuasa karena melihat hilal (Syawal). Sebagian memaknai kata melihat (rukyah) dalam hadis tersebut dengan melihat secara langsung dengan mata kepala (rukyah bil fi’li) sedangkan sebagian yang lain memahami bahwa rukyah tidak harus dilakukan secara faktual. Apabila sistem hisab menunjukkan bahwa hilal sudah di atas ufuk, maka hal itu menunjukkan masuknya bulan baru hijriah. Artinya, secara faktual memang mungkin saja hilal tidak nampak di atas ufuk, akan tetapi secara teoritis hilal sebenarnya sudah wujud di atas ufuk. Inilah yang disebut dengan rukyah bil ‘ilmi. Akan tetapi, pengertian kata rukyah dalam madzhab rukyah bil fi’li pun pada dasarnya mengalami perkembangan.

Pada awalnya, kata rukyah yang berakar dari kata dasar ra-a, ya-ra memang hanya diartikan untuk melihat dengan mata kepala. Praktek rukyatul hilal (observasi bulan baru) pada zaman Rasulullah sampai beberapa generasi setelahnya memang hanya dilakukan dengan melihat dengan mata telanjang. Beberapa riwayat, baik hadis maupun atsar para sahabat yang menunjukkan bahwa ada seseorang yang melaporkan telah melihat hilal menjadi bukti bahwa terkadang mereka melihat hilal tanpa ada “niat” sejak dari awal untuk melihat hilal. Sehingga mereka melaporkan melihat hilal berdasarkan penglihatan mereka yang tanpa disertai dengan peralatan lain.

Beberapa tahun yang lalu, para ulama fikih mulai berbeda pendapat tentang kebolehan menggunakan teleskop untuk melihat hilal. Sebagian ulama mengatakan bahwa melihat hilal dengan teleskop atau alat optik yang lain tidak termasuk dalam kategori rukyatul hilal yang dipraktekkan pada masa awal-awal Islam. Oleh karena itu, keberhasilan rukyah dengan menggunakan peralatan optik tidak dianggap sebagai bukti keberhasilan melihat hilal sebagai tanda permulaan bulan baru hijriah. Sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa melihat dengan alat optik masih dalam makna melihat dengan mata kepala karena alat optik hanya dijadikan sebagai alat bantu.

Dengan berjalannya waktu dan semakin berkembangnya pengetahuan tentang penggunaan teleskop dan alat aoptik lain untuk pengamatan hilal, nampaknya para ulama sudah mulai dapat menerima hasil rukyah dengan menggunakan alat bantu optik semisal teleskop. Hal ini menunjukkan bahwa kata rukyah yang pada awalnya hanya dimaknai dengan melihat dengan mata kepala tanpa alat bantu optik, mengalami perubahan dan perkembangan dengan dibolehkannya alat bantu optik dalam observasi hilal. Saat ini hampir tidak ada yang menolak laporan kesaksian melihat hilal walaupun menggunakan teleskop.

Pelaksanaan rukyah semakin berkembang dengan munculnya berbagai teknologi baru yang canggih. Beberapa tahun yang lalu, beberapa kalangan mewacanakan rukyah dengan radar sebagai salah satu solusi untuk mengatasi perubahan cuaca yang dapat mengganggu kenampakan hilal seperti mendung atau kabut. Akan tetapi, biaya yang besar dan legalitas normatif rukyah dengan radar menjadikan wacana tersebut hilang. Saat ini, proses rukyah yang dilakukan dengan teleskop dapat direkam, diolah dalam frame-frame foto yang dapat menjadikan hilal yang saat proses pengamatan tidak nampak oleh mata menjadi terlihat. Proses seperti ini memiliki beberapa keuntungan. Selain dapat diputar ulang dan diperhatikan dengan seksama berkali-kali, hasil olahan pengamatan pun dapat dilaporkan ke pihak terkait beserta bukti foto hasil pengamatan. Ini menjadikan kesaksian atas teramatinya hilal memiliki bukti yang lebih kuat. Hanya saja, kalau sampai saat pengamatan secara langsung hilal memang tidak nampak, dan  baru dapat terlihat setelah rekaman observasi hilal menalami pengolahan, apakah ini bisa dikatakan sebagai rukyatul hilal sebagaimana yang ada dalam nash-nash syar’i ?. Kalau kita terpaku pada pemaknaan rukyah sebagai aktifitas pengamatan hilal dengan mata telanjang secara langsung, tentunya hal ini baru bisa dinamakan rukyah shurah al-hilal (pengamatan “foto” hilal) dan bukan rukyatul hilal. Akan tetapi, kalau kita menjadikannya sebagai salah satu bentuk perkembangan pemaknaan rukyah sebagimana yang disebutkan sebelumnya, maka hal ini pun bisa dinamakan dengan rukyah, karena yang teramati dalam foto-foto hasil rekaman rukyah adalah benar-benar hilal yang nampak di atas ufuk. Hal ini pada dasarnya akan semakin menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan ibadah.

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s