Syaqiq al-Balkhi


1.اني نظرت الى الخلق، فإذا كل شخص له محبوب فإذا وصل الى القبر فارقه محبوبه، فجعلت محبوبي حسناتي لتكون في القبر معي
2. فإني نظرت الى قول الله تعالى فأجهدتها في دفع الهوى حتى استقرت على طاعة الله
3. فإني رأيت كل من معه شيء له قيمة عنده يحفظه، ثم نظرت في قوله تعالى فكلما وقع معي شيء له قيمة، وجهته إليه ليبقى لي عنده
4. فإني رأيت ابناس يرجعون الى المال والحسب والشرف، وليست بشيء، فنظرت في قول الله فعملت في التقوى لأكون عنده كريما
5.  فإني رأيت الناس يتحاسدون، فنظرت في قول الله تعالى , تركت الحسد
6. رأيتهم يتعادون، فنظرت في قول الله تعالى فتركت عداوتهم واتخذت الشيطان وحده عدوا
7. رأيتهم يذلون أنفسهم في طلب الرزق، فنظرت قوله تعالى   فاشتغلت بما له علي وتركت ما لي عنده
8. رأيتهم متوكلين على تجارتهم وصنائعهم وصحة أبدانهم، فتوكلت على الله تعالى…

Klakson


Beberapa hari di Thailand dengan beberapa tujuan riset dan wisata,  kami mengendarai bus wisata sehingga tidak sempat menikmati transportasi massal di sana. Jalanan bahkan di Bangkok terhitung tidak begitu macet walaupun tetap nampak ramai. Ada sesuatu yang agak janggal saya rasakan sejak hari pertama sampai keempat, yaitu tidak ada suara kalkson di jalanan seramai apapun itu. Sepertinya saya baru dua atau tiga kali mendengar suara klakson dalam empat hari ini. Mungkin,  klakson hanya dibunyikan untuk saat yang benar-benar mendesa.
Ini berbeda jauh dengan apa yang saya alami di Indonesia. Di jalanan kota kecil semisal Solo atau Kartasura saja,  suara kalkson akan berbunyi keras dan sahut menyahut,  bahkan saat kondisi tidak begitu macet. Sepertinya kita mudah sekali membunyikan klakson tanpa melihat kepentingan dan fungsinya.
Ini mungkin soal budaya,  mental atau apalah itu. Mungkin ini menunjukkan kalau kita memang bangsa yang reaktif,  tidak sabaran,  atau apa…? Wallahu A’lam.

Makanan Halal


Walaupun program halal science sedang digalakkan di Thailand,  akan tetapi mendapatkan makanan halal memang tidak semudah mendapatkannya di negara-negara mayoritas muslim. Harus hati-hati dalam memilih warung makan karena tidak semua warung bebas dari unsur babi ataupun sembelihan yang baik.
Ada beberapa daerah,  semisal di China Town, yang memang banyak ditemukan warung dengan tanda halal, walaupun tidak seluruhnya adalah warung halal. Saat berada di sebuah Mall kemarin,  ada space di lantai 6 dan 7 untuk food area. Di lantai 7, kami sempat berputar-putar untuk mengamati tanda halal di warung mereka. Dan kami hanya menemukan satu warung yang menuliskan lafal basmalah di satu menunya. Akan tetapi,  karena kami kurang mantap,  kami tidak jadi memasukinya. Saat kami tanyakan ke satpam tentang halal food,  barulah ia menunjukkan kami ke lantai 6. Dan ternyata semua warung di lantai tersebut bersertikat halal. Ada berbagai masakan, mulai masakan khas Thailand semisal Tom Yang,  masakan khas Arab,  Turki,  Jepang,  bahkan masakan Indonesia yang bersertifikat halal.
Saat di hotel,  saya lebih senang sarapan dengan buah,  sereal,  roti, dan telur godok jika ada. Saya menghindari nasi goreng,  sayur,  daging, ayam atau telur goreng karena di sebelah makanan-makanan tadi ada daging babi yang bisa diketahui dari gambar yang dipajang di sampingnya. Saya hanya merasa tidak yakin dengan keberadaan makanan-makanan halal tadi karena saya membayangkan mereka memasaknya secara bersama-sama. Itulah yang menjadikan saya ragu dengan makanan-makanan halal tersebut. Beberapa teman dengan kreatif membawa sendiri lauk dari Indonesia semisal ikan kering,  abon,  ataupun sambel terasi yang dijadikan lauk untuk nasi putih. Ya, bagaimanapun kita memang mudah menemukan makanan halal,  tapi tetap saja ada jalan untuk mendapatkan yang halal.

Ada Syaikhul Islam di Thailand


Hari ini,  9 Juni 2015, saya berkesampatan mengunjungi Islamic Center di Bangkok. Ada banyak informasi dan juga ilmu yang saya dapatkan pada kesempatan tersebut. Islamic Center menjadi wadah bagi kegiatan sosial keagamaan dan juga pendidikan umat Islam di Thailand. Ia menjadi wadah bagi aspirasi umat Islam di Thailand dan juga penyatuan visi dan misi umat Islam di sana. Gedung yang megah,  fasilitas yang memadai, manajemen dan pengelolaan yang profesional seolah menjadikan Islamic Center sebagai bagian tak terpisahkan dari eksistensi umat Islam di Thailand.
Salah satu informasi yang saya dapatkan dari sana adalah adanya gelar Syaikhul Islam di Thailand. Ia menjadi simbol bagi pemimpin Islam tertinggi di Thailand. Selain tugasnya adalah memberikan fatwa dan penyelesai masalah problem-problem keagamaan umat Islam di Thailand, ia juga manajer administratif yang mengelola aspirasi umat Islam pada pemerintah di sana.
Yang menarik,  ia dipilih secara demokratis oleh umat Islam di sana dengan model piramida. Masyarakat islam di berbagai masjid di Thailand akan memilih salah seorang imam masjid atau ketua takmir untuk masjid yang ada di wilayah mereka. Artinya,  jama’ah sebuah masjidlah yang memilih siapa yang menjadi imam mereka. Dan imam-imam inilah yang nantinya memilih satu perwakilan di tingkat propinsi, dan pemimpin tiap-tiap propinsi kemudian memilih salah dari mereka untuk menjadi Syaikhul Islam.
Gelar ini mungkin tidak sama dengan gelar Syaikhul Islam di Mesir atau di dunia Islam klasik, tetapi prinsip bahwa umat Islam yang minoritas di Thailand nampak bersatu, satu visi, satu suara menjadikan aspirasi mereka nampak lebih nyata. Mereka nampak tidak terbelah-belah dan berbeda-beda tujuan dan arah. Pelajaran yang sangat berharga untuk umat Islam di Indonesia dan negara lainnya.

image

image

Masjid di Bangkok


Walaupun muslim minoritas,  tetapi keberadaan mereka tetap diakui di Thailand. Bahkan beberapa masjid ada di Bangkok yang ukurannya lumayan besar. Kemarin (8 Juni 2015) saya sempat mampir di dua masjid yang berada di Bangkok. Nama daerah yang terasa asing di telinga dan susah diucapkan memang menjadikan saya tidak bisa menyebutkan kembali nama itu. Tetapi,  keberadaan masjid di Bangkok menjadi sebuah pertanda eksistensi muslim di Thailand. Mereka mendapat perlakuan jauh lebih baik dibandingkan perlakuan Myanmar atau Kamboja terhadap minoritas muslim.
Salah satu masjid yang saya kunjungi kemarin adalah Masjid Darul Aman,  yang menurut Ta’mir Masjidnya memiliki sejarah panjang dan berliku. Masjid tersebut adalah salah satu bentuk tindakan raja Siam untuk melunakkan hati para pekerja dan budak muslim yang dibawa dari daerah Pattani pada masa lampau. Mereka yang diminta membangun saluran air di Bangkok  disediakan tempat untuk ibadah agar tetap nyaman dalam bekerja. Oleh karena itu,  rata-rata masjid di Bangkok berada di dekat sungai atau saluran air,  selain karena memang umat Islam membutuhkan air setiap akan solat,  sehingga keberadaan sumber air menjadi sangat penting. Ini mengingatkan saya pada letak masjid-masjid di kampung-kampung di Indonesia yang juga hampir selalu dekat dengan sungai. Sungai menjadi sarana untuk bersuci dan sekaligus MCK praktis pada masa itu.
Masjid di Bangkok selain dipakai untuk solat,  juga dipakai untuk kegiatan pendidikan. Masjid menjadi pusat kegiatan muslim Thailand yang sangat efektif, baik kegiatan pendidikan dan pengajaran maupun sosial. Nampak sore kemarin anak-anak muslim sedang pulang dari kegiatan mengaji di sana.
Sayangnya,  sangat sedikit yang bisa diajak komunikasi dengan baik karena mereka hanya menguasai bahasa Thai. Proyek Thai-sasi (membuat bahasa Thai sebagai bagian yang wajib ada dan wajib digunakan) memang seolah ingin menghilangkan keterkaitan antara Islam dan Melayu atau Arab di Thailand. Jika beruntung,  ada ta’mir masjid yang bisa bahasa Melayu,  maka informasi akan lebih banyak tergali. Seorang jama’ah yang saya temui dan bercerita kalau dia bisa bahasa Arab karena bertahun-tahun kerja di Saudi pun ternyata hanya menguasai bahasa-bahasa praktis keseharian.  Jika Islamic Center di Thailand menggarap hal ini dengan lebih baik, saya yakin Islam di Bangkok akan jauh lebih pesat berkembang. Kebebasan beragama dinThailand menjadi daya dukung yang besar akan hal ini.

image

image

Masjid di Bangkok


Walaupun muslim minoritas,  tetapi keberadaan mereka tetap diakui di Thailand. Bahkan beberapa masjid ada di Bangkok yang ukurannya lumayan besar. Kemarin (8 Juni 2015) saya sempat mampir di dua masjid yang berada di Bangkok. Nama daerah yang terasa asing di telinga dan susah diucapkan memang menjadikan saya tidak bisa menyebutkan kembali nama itu. Tetapi,  keberadaan masjid di Bangkok menjadi sebuah pertanda eksistensi muslim di Thailand. Mereka mendapat perlakuan jauh lebih baik dibandingkan perlakuan Myanmar atau Kamboja terhadap minoritas muslim.
Salah satu masjid yang saya kunjungi kemarin adalah Masjid Darul Aman,  yang menurut Ta’mir Masjidnya memiliki sejarah panjang dan berliku. Masjid tersebut adalah salah satu bentuk tindakan raja Siam untuk melunakkan hati para pekerja dan budak muslim yang dibawa dari daerah Pattani pada masa lampau. Mereka yang diminta membangun saluran air di Bangkok  disediakan tempat untuk ibadah agar tetap nyaman dalam bekerja. Oleh karena itu,  rata-rata masjid di Bangkok berada di dekat sungai atau saluran air,  selain karena memang umat Islam membutuhkan air setiap akan solat,  sehingga keberadaan sumber air menjadi sangat penting. Ini mengingatkan saya pada letak masjid-masjid di kampung-kampung di Indonesia yang juga hampir selalu dekat dengan sungai. Sungai menjadi sarana untuk bersuci dan sekaligus MCK praktis pada masa itu.
Masjid di Bangkok selain dipakai untuk solat,  juga dipakai untuk kegiatan pendidikan. Masjid menjadi pusat kegiatan muslim Thailand yang sangat efektif, baik kegiatan pendidikan dan pengajaran maupun sosial. Nampak sore kemarin anak-anak muslim sedang pulang dari kegiatan mengaji di sana.
Sayangnya,  sangat sedikit yang bisa diajak komunikasi dengan baik karena mereka hanya menguasai bahasa Thai. Proyek Thai-sasi (membuat bahasa Thai sebagai bagian yang wajib ada dan wajib digunakan) memang seolah ingin menghilangkan keterkaitan antara Islam dan Melayu atau Arab di Thailand. Jika beruntung,  ada ta’mir masjid yang bisa bahasa Melayu,  maka informasi akan lebih banyak tergali. Seorang jama’ah yang saya temui dan bercerita kalau dia bisa bahasa Arab karena bertahun-tahun kerja di Saudi pun ternyata hanya menguasai bahasa-bahasa praktis keseharian.  Jika Islamic Center di Thailand menggarap hal ini dengan lebih baik, saya yakin Islam di Bangkok akan jauh lebih pesat berkembang. Kebebasan beragama dinThailand menjadi daya dukung yang besar akan hal ini.

image

image

Halal Tourism


Di antara pengalaman menarik di hari pertama di Bangkok adalah adanya dua persoalan yang ada di sana dan belum dilakukan dengan serius di Indonesia adalah Halal Science dan Halal Tourism. Dengan Islam sebagai agama minoritas,  hanya sekitar 10 persen,  Thailand mampu membidik peluang besar pelancong dari negara-negara dengan penduduk muslim seperti Indonesia,  Malaysia, bahkan negara-negara di Timur Tengah. Sesuatu yang seharusnya dipikirkan dulu oleh Indonesia sebagai negara mayoritas muslim.
Thailand dengan serius menggarap sertifikasi makanan halal yang menjadikan produk makanan mereka bisa dikonsumsi oleh pelancong muslim dan bahkan diekspor ke negara-negara muslim. Jadi,  walaupun Thailand merupakan negara dengan mayoritas beragama Budha,  persoalan halal dan haram tetap digarap dengan sangat serius. Dan lebih hebat lagi,  yang menjadi leader dalam hal ini adalah keturunan Indonesia yang bernama Winai Dahlan,  cucu pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.
Halal Tourism yang juga digarap serius oleh Thailand merupakan bidang yang seharusnya Indonesia memikirkannya lebih dahulu, tapi ternyata hal itu tidak terjadi. Mungkin Indonesia juga sudah melakukannya,  tapi “bungkus” dan pemasaran yang bagus menjadikan apa yang dilakukan Thailand lebih jelas arah dan programnya.
Halal Tourism sebenarnya sangat sederhana,  yakni menyediakan layanan-layanan yang halal yang biasanya diinginkan orang muslim, yang di Indonesia mungkin dikenal dengan layanan syari’ah, semisal kolam renang yang terpisah antara laki-laki dan perempuan,  makanan halal, ruangan atau kamar hotel dengan penunjuk arah kiblat,  tersedianya tempat sholat dan wudhu’ atau fasilitas solat lain dan sebagainya.
Dengan model seperti ini, jumlah turis yang ke Thailand yang berasal dari negara-negara Islam bisa lebih banyak dari Malaysia,  dan jauh lebih banyak dari Indonesia, tiga atau bahkan empat kali lipat.
Bangkok,  9 Juni 2015