Ingin Anak Menulis


Sofia memang punya hobby membaca yang luar biasa. Setiap ada pameran buku,  dia pasti minta untuk bisa datang dan membeli buku. Dia akan melahap buku yang dibelinya dalam waktu yang tidak lama. Kisah para sahabat Nabi,  kisah para ulama,  bahkan novel pun dibacanya sampai habis. Terkadang saya memancingnya untuk menceritakan kembali apa yang dibacanya. Diapun ceriwis menceritakannya kembali.
Jum’at kemarin,  dia merengek untuk diajak ke Gramedia karena sudah tidak ada lagi buku yang dibacanya. Ia ingin membeli buku. Karena keterbatasan waktu,  saya mengajaknya ke toko buku Tisera. Walaupun tidak begitu lengkap,  tapi saya rasa tidak ada salahnya mencoba mencari apa yang diinginkannya.
Setelah beberapa saat mencari,  dia menunjukkan ke saya sebuah novel karya seorang anak SMP,  berumur 12 tahun. Saya pun mengangguk tanda setuju dengan pilihannya. Dari ringkasan di sampul belakangnya,  dapat diketahui kalau novel itu menceritakan tentang kisah si anak kembar yang ingin mendapatkan seorang adik.
Timbul lah keinginan dalam diri saya untuk menguji kemauan dan kemampuannya. Saya tanyakan; Sofia mau menulis seperti dia? Dia mengangguk sambil tersenyum. Oke, Sofia nulis saja, apapun yang dipikirkan,  dalam secarik kertas,  biar Abah yang nanti ngetik di laptop. Tidak usah banyak-banyak. dua minggu atau sebulan disetor juga ga papa. Sanggup Sofia?. Dia menjawab: insyaAllah.
Semoga ini menjadi salah satu sarana dia bisa mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya. Saya ingin dia tidak hanya hobby membaca,  tapi juga hobby menulis.

Menulis Artikel


Saat mendapat materi tentang strategi menulis di jurnal internasional,  saya ingat pemateri mengatakan bahwa kecerdasan dan kepandaian bukan kunci utama dalam menulis. Menulis adalah merangkai, mengorganisasikan pemikiran dan ide dalam kalimat dan kemudian menjadi paragraf.
Pada awalnya saya memang kurang setuju dengan hal itu,  akan tetapi ternyata memang benar adanya, walaupun tidak seratus persen. Buktinya memang banyak yang memiliki kecerdasan,  akan tetapi tidak mampu menyampaikan ide dengan baik, tidak dapat merangkai dan mengorganisir ide dan kecerdasannya dalam sebuah tulisan yang dapat dinikmati oleh orang lain dengan baik. Dan sebaliknya, banyak orang dengan kecerdasan yang biasa-biasa saja,  akan tetapi mampu menulis dengan baik, menghasilkan karya yang menginspirasi orang lain. Tapi, bagi saya menulis tetap membutuhkan kecerdasan dan kepandaian,  yakni kecerdasan dan kepandaian merangkai ide dalam kalimat.
Menulis artikel, setidaknya termasuk diantara yang dalam pandangan saya membutuhkan kepandaian dan juga ketrampilan yang agak berbeda dengan menulis dalam bentuk yang lain.

Khilafah


Beberapa saat lalu saya membaca salah satu tulisan tokoh dalam Maqashid asy-Syari’ah asal Maroko,  Ahmad ar-Raisuni tentang tema Khilafah. Ia memberikan kritik yang sangat bagus terhadap konsep khilafah yang didengungkan oleh Da’isy atau ISIS atau IS yang dikatakannya sebagai konsep khilafah yang bertentangan dengan konsep Khilafah Rasulullah.
Jatuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani sebagai sistem kekhalifahan yang terakhir dalam Islam memang menjadi salah satu awal dari munculnya berbagai gerakan Islam di dunia ini. Ada yang menginginkan kembalinya sistem khilafah, ada yang menolak keruntuhannya, dan ada pula yang ingin memberikan koreksi dan pembenahan untuk kembalinya khilafah.
Dari sinilah muncul berbagai harakah islamiyah di berbagai penjuru dunia Islam seperti Hizbut Tahrir,  Ikhwanul Muslimin,  Jama’atut Tabligh,  Jama’ah Islamiyyah,  Jama’ah an-Nur dsb. Ada yang menjadikan khilafah sebagai awal dan titik tolak perjuangan semisal HT,  ada yang menjadikannya sebagai bagian dari berbagai tahapan untuk kebangkitan Islam semisal IM,  dan ada yang menjadikan persoalan khilafah, hukum atau politik bukan masalah utamanya. Masalah utamanya adalah pada internal umat Islam yang jauh dari ajaran agamanya sehingga pembenahannya adalah pada perbaikan keimanan dan moral umat. Inilah pandangan JT ataupun JN.
Akan tetapi,  saat ini sudah mulai bermunculan generasi baru dalam gerakan islam yang tidak lagi menjadikan “khilafah” sebagai agenda utama,  akan tetapi pada nilai-nilai universal seperti keadilan,  persamaan hak,  musyawarah,  dsb.
(berlanjut insyaAllah)…

Imajinasi


Penulisan cerita fiksi jelas berbeda dengan penulisan karya ilmiah apalagi akademis. Akan tetapi,  pada kondisi tertentu penulisan ilmiah dan akademis pun melibatkan hal-hal yang “fiktif” imajinatif. Pada persoalan astronomis,  sering sekali imajinasi memerankan peranan yang sangat besar. Bahkan, banyak rumus-rumus astronomis itu didasarkan pada hal-hal yang imajiner. Titik zenit dan  nadir pada bola langit, bahkan bola langit itu sendiri adalah wilayah yang memang imajiner.
Ketika orang ribut mengenai matla’, garis batas permulaan hari baik dalam kalender qamariyah maupun syamsiyah,  garis batas tanggai ternasional,  semuanya juga hanya imajinasi.
Hanya saja, imajinasi tersebut bila didukung oleh perhitungan matematis, didukung penalaran yang rasional,  ditambahkan dengan dalil-dalil ilmiah dan ternyata bisa diaplikasikan untuk persoalan-persoala  yang kongkrit dan riil,  semuanya akan menjadi sangat ilmiah dan akademis.
Jadi, jangan takut berimajinasi (nyambung ga ya…?)
Andong,  10 oktober 2014

Puasa Arafah


Hari ini,  Jum’at, 3 Oktober 2014 adalah hari berkumpulnya jama’ah haji di Padang Arafah yang dinamakan dengan wukuf. Wukuf dikatakan sebagai inti dari ibadah haji karena Rasulullah mengatakan bahwa Haji adalah Wukuf di Arafah. Wukuf Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah,  bulan ke 12 dalam kalender hijriah.
Salah satu persoalan yang hampir selalu terjadi dan selalu berulang adalah persoalan pelaksanaan kesunnahan puasa Arafah, apakah harus dilakukan bersamaan dengan wukufnya jama’ah haji di Arafah ataukah tidak.
Pendapat pertama menyatakan bahwa puasa Arafah harus dilakukan pada hari dilaksanakannya Wukuf,  sehingga penetapan awal Dzulhijjah dimanapun seharusnya mengikuti penetapan awal Dzulhijjah di Arab Saudi supaya pelaksanaan puasa Arafahnya sesuai dengan dilaksanakannya wukuf oleh para jama’ah haji.
Pendapat kedua menyatakan bahwa puasa Arafah tidak harus dikaitkan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah. Puasa Arafah dilakukan di tangga9 Dzulhijjah. Karena tanggal 1 Dzulhijjah bisa ditetapkan secara berbeda di setiap negara atau wilayah sesuai penetapan awal bulan hijriah di bulan lain, maka puasa Arafah bisa saja tidak bersamaan dengan pelaksanaan wukuf atau di hari dilaksanakannya wukuf. Apalagi,  Arab Saudi sering menetapkan awal bulan hijriah berdasarkan laporan kenampakan hilal yang sulit diterima dan dipertanggungjawabkan secara astronomis.
Persoalan seperti ini akan terus terjadi selama belum ada kalender hijriah yang disepakati secara Internasional. Pertanyaan yang terkadang muncul adalah apakah memang kita dituntut dan diharuskan menyamakan kalender atau menyamakan hari raya? Jika memang diharuskan atau dituntut,  kalender seperti apa yang harus kita sepakati? itulah yang menjadi kerja berat para ulama dan pakar astronomi Islam sampak saat ini. Sudah banyak tawaran solusi atas hal ini,  akan tetapi belum juga ada kesepakatan atas satu solusi sehingga hampir dapat dipastikan beberapa tahun ke depan persoalan ini akan tetap ada.

Universitas Teknologi Malaysia


Universitas Teknologi Malaysia merupakan salah satu universitas terbesar di Malaysia yang berada di Johor Bahru. Luas tanahnya sekitar1300 hektar. Saat salah seorang Guru Besar UTM mengajak saya melihat-lihat berbagai fasilitas yang ada di sana dengan mobilnya,  mulai tempat perkuliahan,  laboratorium,  pusat studi, sampai asrama mahasiswa, waktu 30 menitpun serasa tidak mencukupi walaupun baru sebagiannya.
Banyak hal yang tersimpan di pikiran ini untuk sekedar menuangkannya dalam beberapa goresan di blogg ini,  dan itupun baru secuil informasi yang tentu masih sangat minim.
Tentu tidak akan dijumpai adanya kekurangan kelas atau sarana di UTM karena daya tampung mahasiswa yang melebihi kapasitas lokal yang tersedia di universitas. Setiap mahasiswa di Malaysia akan disebar secara “merata” ke berbagai universitas yang ada,  sehingga tidak ada universitas yang “mati” karena tanpa peminat, ataupun “kelebihan” mahasiswa sehingga mereka tidak mendapatkan pelayanan yang layak di perkuliahan.
Ada bus yang lewat setiap 20 menit untuk mengangkut mahasiswa dari asrama ke fakultas manapun yang mereka tuju. Jika pandai mengatur waktu,  tidak dibutuhkam motor ataupun mobil agar sampai di fakultas dengan tepat waktu. Tidak terlihat adanya lalu lalang sepeda motor, atau penuh sesaknya halaman kampus dengan mobil dan motor yang terparkir sembarangan.
Dorongan pemerintah Malaysia terhadap masyarakatnya untuk dapat mengenyam pendidikan di perkuliahan juga sangat besar,  diantaranya adalah dengan memberikan pinjaman kepada setiap mahasiswa untuk pembiayaan kuliah yang akan mereka kembalikan saat mereka lulus dan mendapatkan pekerjaan.
Karena universitas ini memang bukan ditujukan sebagai fakultas keagamaan,  maka tidak ada jurusan keagamaan di sini,  terutama di tingkat sarjana (S1). Di Pascasarjana,  baru ada fakultas Tamaddun Islam (Kebudayaan Islam) yang ditujukan untuk mensintesakan antara Islam dengan Sains dalam pengajarannya. Oleh karena itu,  kajian di tesis atau disertasi mengupas persoalan ekonomi,  politik,  atau persoalan sains dan humaniora dan persentuhannya dengan ajaran Islam, misalnya,  yang saya sempat membacanya adalah tesis tentang prinsip-prinsip ekonomi dalam ajaran tasawuf al-Ghazali.
Dosen apalagi profesor di sini mendapatkan gaji yang sangat memadai,  tiga kali lipat gaji dosen atau profesor di Indonesia.