Hamil


Beberapa saat yang lalu ada kejadian yang membuat kita mengelus dada. Seorang remaja wanita yang enggan memberikan tempat duduknya di kereta pada wanita hamil yang berdiri, dan bahkan “memaki-makinya” lewat medsos. Itulah yang ada dalam ingatan saya saat kemarin ada seorang mahasiswi yang mengikuti pembekalan KKN dan kemudian menghadap untuk konsultasi tentang kondisinya. Usia kehamilannya yang sudah tua, HPL di minggu akhir bulan Mei (minggu akhir masa KKN), membuatnya ketar-ketir. Dan itu membuat saya terkejut karena dia baru menyampaikan informasi itu ke Panitia saat pembekalan periode pertama sudah berakhir. Jika saja dia menyampaikan informasinya lebih awal tentu akan ada kebijakan khusus untuknya. Ya…, memang harus ada kebijakan khusus untuk orang dengan kebutuhan dan kondisi khusus.
Dalam aturan fikih pun ada aturan-aturan khusus untuk orang-orang dengan kondisi tidak ideal yang disebut dengan rukhshah. Rukhshah harus ada supaya taklif atau beban dapat tetap terlaksana walaupun tidak seperti seharusnya. Banyak alasan yang dapat mendatangkan rukhshah atau keringanan; sakit, musafir, hamil dan menyusui, terpaksa, dsb. Wanita hamil, misalnya, dapat keringanan untuk tidak berpuasa saat bulan Ramadhan dengan konsekuensi membayar fidyah dalam satu pendapat (diqiyaskan dengan orang yang mampu melaksanakan puasa dengan berat), atau menqadha’ di waktu yang lain dalam pendapat kedua (diqiyaskan dengan orang yang sakit), atau menqadha’ dan fidyah dalam pendapat ketiga (disesuaikan dengan alasan tidak berpuasanya apa).
Jika syari’at saja memberikan keringanan pada wanita hamil, maka aturan manusia pun seharusnya bisa membuat keringanan untuk wanita hamil. Itulah yang ada dalam pikiran saya. Hanya saja, karena mahasiswi tadi datang pada saat yang terlambat, solusinya menjadi kurang ideal. Akhirnya, diputuskan bahwa anggota sekelompoknya lah yang harus bertoleransi untuk dia, sambil mencari inbformasi keberadaan bidan desa yang ada di wilayah yang akan ditempatinya jika saat-saat genting itu datang.
Surakarta, 24 April 2014

Lagi….Tentang Menulis


Kemarin, dan juga beberapa saat yang lalu ada beberapa mahasiswa semester akhir yang konsultasi tentang judul skripsi yang akan ditulis. Setelah ngobrol tentang tema-tema yang mungkin layak diangkat dalam penelitian di skripsi saya meminta ke beberapa mahasiswa tersebut untuk menuliskan idenya. Tidak terlalu muluk, hanya saya minta menuliskan latar belakang masalah dan pokok masalah saja, sama persis dengan yang diminta dosen saya dulu saat saya konsultasi tentang judul skripsi. Sebagus apapun ide itu, jika tidak ditulis, tidak dituangkan dalam tulisan secara sistematis, maka ide itu akan menguap. Yang dibutuhkan, saya sampaikan ke mereka, hanya mencari referensi yang sesuai, dibaca dan dijadikan rujukan untuk tulisan yang sistematis. Jika itu sudah dilakukan, silahkan kita diskusikan lagi judul itu, jika benar-benar layak, bisa dilanjutkan, jika kurang layak, setidaknya sudah tahu cara menuangkan ide dalam tulisan, bisa menuliskan latar belakang masalah dan mengidentifikasi pokok masalah. Permintaan saya tersebut ternyata agak sulit dalam pandangan mereka, padahal mau tidak mau mereka harus melewati tahap tersebut.
Ketidakbiasaan menulis sering kali menghambat mahasiswa dalam menyelesaikan studi dengan cepat dan menghasilkan skripsi yang berkualitas.
Boyolali, 23 April 2014

Kitab Al-Jabr wa al-Muqabalah


Kitab ini adalah karya Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Tahun kelahiran dan wafatnya tidak diketahui dengan pasti,  hanya dapat dipastika bahwa ia hidup di masa Khalifah al-Makmun, 813-833 M.
Hampir dapat dipastikan bahwa ilmu matemetika modern yang dikenal dengan Aljabar,  diambil dari nama buku karya Al-Khawarizmi ini. Bahkan kata Algorithm yang merupakan cara memecahkan persoalan matematis, diambil dari nama Al-Khawarizmi dalam pelafalan latin. Angka 1,2,3,4,5…dst pun saat itu disebut sebagai Algorismus sebagai tanda bahwa angka itu dibawa ke Barat atas jasa Al-Khawarizmi. Ya…karyanya lah yang mengenalkan angka 0 ke peradaban Barat saat itu.
Al-Khawarizmi memang dikenal sebagai ahli matematika,  geografi dan astronomi. Atas keahliannya itum al-Makmun memintanya mengarang buku dalam ilmu matematika yang ringkas dan mudah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat itu. Dan Kitab Al-Jabr wal Muqabalah adalah salah satu jawabannya.
Matematika dan Geografi memang sangat dibutuhka untuk persoalan-persoalan praktis saat itu; pembagian warisan,  baik berupa harta bergerak maupun harta tetap,  pembagian wasiat, jual beli,  dsb.
Saat menemukan buku ini,  saya langsung membelinya walaupun belum mampu memahaminya. Ada beberapa poin kecil yang bisa dipahami karena modal matematika saya memang kurang begitu bagus hehehe…
Boyolali,  20 April 2014

image

KKN


Dulu, KKN merupakan salah satu kegiatan yang sangat membebani mahasiswa. Selain waktu yang lama(2-3 bulan), program kegiatan KKN pada saat itu lebih berorientasi pada kegiatan fisik; bangun jembatan,gapura dsb, dan itupun sebagian besar dananya berasal dari mahasiswa. Sering dulu ada cerita kalau orang tua mahasiswa harus jual sawah untuk biaya KKN. Salah satu peninggalan mahasiswa KKN saat itu adalah tulisan KKN….Tahun…. di Gapura, Masjid, Plang Penunjuk jalan dsb.
Masyarakat memang terasa terbantu,tapi yang jelas masalah mereka belum bisa dikatakan selesai. Selain membebani mahasiwa, model KKN dulu minim dalam pelibatan masyarakat.
Sekarang,KKN tidak lagi membebani mahasiswa yang diluar batas,lebih pada memfasilitasi masyarakat dalam mensukseskan program mereka.
Selamat melaksanakan KKN para mahasiswa IAIN Surakarta yang hari ini mulai dengan pembekalan.
21 April 2014

Koalisi


Ini bukan soal koalisi partai untuk mengusung calon presiden di Pilpres 2014. Kita biarkan saja mereka sibuk kasak-kusuk mencari pendamping. Koalisi ini saya dapatkan dari tamu yang datang ke IAIN Surakarta dari Turki untuk menyebarkan gagasan Sa’id an-Nursi di beberapa daerah di Indonesia. Saat itu, salah seorang tamu dari Turki tersebut membacakan beberapa lembar karya Nursi sambil menjelaskan maksudnya. Diantara yang saya tangkap adalah tentang bagaimana pentingnya menggabungkan antara tiga hal; dzikr, fikr, dan syukr. Sebagai contoh mudah, ia mengambil sebuah jeruk. Ketika kita akan memakan jeruk ini, salah satu kalimat yang kita katakan adalah Bismillah. Kalimat yang sebenarnya sangat besar maknanya. Itulah yang disebut dengan dzikr. Setelah kita selesai memakannya, kita kemudian mengucapkan kalimat Alhamdulillah, dan itulah yang dinamakan syukr. Diantara keduanya, aktifitas yang penting dilakukan adalah fikr, menggunakan daya nalar dan pikir kita untuk berpikir tentang apa yang ”dikatakan” oleh sesuatu di depan kita. Jeruk berbicara dengan lisanul hal. Ia, misalnya, berbicara siapa yang menciptakannya. Ia berbicara bahwa bukan pohonnya yang menciptakannya, bukan pula tanah dan air yang membuatnya, tapi yang menciptakan pohon, air, dan tanah lah yang menciptakannya, yang memberi warna kuning ke kulitnya. Masih banyak bahasa yang diucapkannya jika kita mau memikirkan dan memahaminya; tentang darimana asalnya, bagaimana ia bisa sampai datang ke meja makan, bagaimana rasa manis itu didapatkannya, dan sebagainya.
Jika setiap langkah kita diawali dengan dzikr, diakhiri dengan syukr, diselai oleh fikr, maka kita tlah melakukan “koalisi” terhebat dalam kehidupan kita.
Surakarta, 17 April 2014

Tak Lazim


Tak Lazim
Persoalan di dunia ini memang bukan sekedar boleh dan tidak boleh saja. Ada kalanya juga berkaitan pada lazim dan tak lazim. Ini untuk menggiring kita pada situasi yang lebih luas dari sekedar boleh dan tidak boleh, diperintah dan dilarang.
Hari ini misalnya, saya menguji seorang mahasiswi yang sangat bagus suaranya saat membaca ayat suci al-Qur’an dengan hafalan. Nampak dia berusaha menampilkan performance terbaiknya saat diuji. Saya sangat senang dan mengapresiasinya karena sangat jarang ditemukan mahasiswa yang seperti ini; hafalan bagus, membaca bagus, suara bagus.
Saat saya memintanya untuk menyampaikan hafalan hadis dan kaidah fikih, saya agak terkejut dan geli. Dia membaca hadis dan bahkan kaidah fikih dengan dilagukan sebagaimana saat dia membaca al-Qur’an. Mungkin ada yang berkata; bukankah malah lebih baik ?! atau apakah itu salah ?! Ini yang saya katakan bahwa persoalannya bukan sekedar boleh dan tidak boleh, atau salah dan benar, atau baik dan buruk, akan tetapi pada masalah kelaziman. Tidak lazim melagukan hadis atau kaidah fikih. Serasa aneh.
Saya juga pernah mengalami peristiwa seperti ini saat masih MAN dulu. Ada teman yang ahli dalam masalah qira’ah (melagukan al-Qur’an), dan saat dia diminta untuk membaca teks bahasa Arab yang bukan al-Qur’an, dia pun melagukannya. Bagi beberapa orang, mungkin ini biasa, tapi bagi saya ini terasa aneh hehehe…
Cerita yang sama pernah disampaikan teman yang pernah ke Mesir. Di bandara, salah satu temannya yang sangat ahli nahwu sharaf meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke tempat yang diinginkan. Bahasa yang digunakan sangat fasih, lengkap dengan idgham, iqlab, idzhar dan sebagainya. Saking fasihnya, sopir taksi justru menjawab permintaannya dengan kata; “shadaqallahul ‘adzim”, tentunya disertai senyum agak mengejek dan geli.
Ini memang bukan masalah benar dan salah, boleh dan tidak, tapi hanya masalah lazim dan tidak lazim saja. Sesuatu yang benar dan boleh, bila tidak pada tempatnya, akan menjadi tidak lazim, terasa janggal dan aneh.
Surakarta, 16-04-2014

TEST IBADAH


Salah satu “momok” sebagian mahasiswa Fakultas Ekonomi di IAIN surakarta mungkin adalah tes hafalan ayat, hadis, dan kaidah fiqh tentang Ekonomi Islam, serta praktek ibadah. Sebagian mereka ada yang membaca al-Qur’an saja kesulitan, apalagi menghafalkan. Akan tetapi, ada juga yang berhasil menghafalkan walaupun belum mampu membaca ayat dengan baik. Selidik punya selidik, mereka menghafalkan ayat lewat tulisan latin. Di satu sisi, saya mengelus dada dengan fenomena ini, tapi di sisi lain saya salut dengan usaha mereka yang bisa hafal ayat lewat tulisan latin.
Ketika tes dilanjutkan pada menghubungkan antara ayat dan hadis dengan tema, semakin sulit mereka menjawabnya..
Tes praktek ibadah semakin dinamis…ada yang lancar, dan tidak sedikit yang tersendat. Ada yang shalat janazah dengan do’a iftitah, tayammum dengan enam tepukan, bingung menghitung takbir dalam shalat Id, belum pernah praktek salat gerhana dll.
Tes ini di satu sisi sangat bagus untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam persoalan-persoalan praktis, di sisi lain mahasiswa seharusnya dibekali lebih banyak akan materi-materi tersebut.
Semoga sukses buat semua…!
Surakarta, 15-4-2014