Koalisi


Ini bukan soal koalisi partai untuk mengusung calon presiden di Pilpres 2014. Kita biarkan saja mereka sibuk kasak-kusuk mencari pendamping. Koalisi ini saya dapatkan dari tamu yang datang ke IAIN Surakarta dari Turki untuk menyebarkan gagasan Sa’id an-Nursi di beberapa daerah di Indonesia. Saat itu, salah seorang tamu dari Turki tersebut membacakan beberapa lembar karya Nursi sambil menjelaskan maksudnya. Diantara yang saya tangkap adalah tentang bagaimana pentingnya menggabungkan antara tiga hal; dzikr, fikr, dan syukr. Sebagai contoh mudah, ia mengambil sebuah jeruk. Ketika kita akan memakan jeruk ini, salah satu kalimat yang kita katakan adalah Bismillah. Kalimat yang sebenarnya sangat besar maknanya. Itulah yang disebut dengan dzikr. Setelah kita selesai memakannya, kita kemudian mengucapkan kalimat Alhamdulillah, dan itulah yang dinamakan syukr. Diantara keduanya, aktifitas yang penting dilakukan adalah fikr, menggunakan daya nalar dan pikir kita untuk berpikir tentang apa yang ”dikatakan” oleh sesuatu di depan kita. Jeruk berbicara dengan lisanul hal. Ia, misalnya, berbicara siapa yang menciptakannya. Ia berbicara bahwa bukan pohonnya yang menciptakannya, bukan pula tanah dan air yang membuatnya, tapi yang menciptakan pohon, air, dan tanah lah yang menciptakannya, yang memberi warna kuning ke kulitnya. Masih banyak bahasa yang diucapkannya jika kita mau memikirkan dan memahaminya; tentang darimana asalnya, bagaimana ia bisa sampai datang ke meja makan, bagaimana rasa manis itu didapatkannya, dan sebagainya.
Jika setiap langkah kita diawali dengan dzikr, diakhiri dengan syukr, diselai oleh fikr, maka kita tlah melakukan “koalisi” terhebat dalam kehidupan kita.
Surakarta, 17 April 2014

Tak Lazim


Tak Lazim
Persoalan di dunia ini memang bukan sekedar boleh dan tidak boleh saja. Ada kalanya juga berkaitan pada lazim dan tak lazim. Ini untuk menggiring kita pada situasi yang lebih luas dari sekedar boleh dan tidak boleh, diperintah dan dilarang.
Hari ini misalnya, saya menguji seorang mahasiswi yang sangat bagus suaranya saat membaca ayat suci al-Qur’an dengan hafalan. Nampak dia berusaha menampilkan performance terbaiknya saat diuji. Saya sangat senang dan mengapresiasinya karena sangat jarang ditemukan mahasiswa yang seperti ini; hafalan bagus, membaca bagus, suara bagus.
Saat saya memintanya untuk menyampaikan hafalan hadis dan kaidah fikih, saya agak terkejut dan geli. Dia membaca hadis dan bahkan kaidah fikih dengan dilagukan sebagaimana saat dia membaca al-Qur’an. Mungkin ada yang berkata; bukankah malah lebih baik ?! atau apakah itu salah ?! Ini yang saya katakan bahwa persoalannya bukan sekedar boleh dan tidak boleh, atau salah dan benar, atau baik dan buruk, akan tetapi pada masalah kelaziman. Tidak lazim melagukan hadis atau kaidah fikih. Serasa aneh.
Saya juga pernah mengalami peristiwa seperti ini saat masih MAN dulu. Ada teman yang ahli dalam masalah qira’ah (melagukan al-Qur’an), dan saat dia diminta untuk membaca teks bahasa Arab yang bukan al-Qur’an, dia pun melagukannya. Bagi beberapa orang, mungkin ini biasa, tapi bagi saya ini terasa aneh hehehe…
Cerita yang sama pernah disampaikan teman yang pernah ke Mesir. Di bandara, salah satu temannya yang sangat ahli nahwu sharaf meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke tempat yang diinginkan. Bahasa yang digunakan sangat fasih, lengkap dengan idgham, iqlab, idzhar dan sebagainya. Saking fasihnya, sopir taksi justru menjawab permintaannya dengan kata; “shadaqallahul ‘adzim”, tentunya disertai senyum agak mengejek dan geli.
Ini memang bukan masalah benar dan salah, boleh dan tidak, tapi hanya masalah lazim dan tidak lazim saja. Sesuatu yang benar dan boleh, bila tidak pada tempatnya, akan menjadi tidak lazim, terasa janggal dan aneh.
Surakarta, 16-04-2014

TEST IBADAH


Salah satu “momok” sebagian mahasiswa Fakultas Ekonomi di IAIN surakarta mungkin adalah tes hafalan ayat, hadis, dan kaidah fiqh tentang Ekonomi Islam, serta praktek ibadah. Sebagian mereka ada yang membaca al-Qur’an saja kesulitan, apalagi menghafalkan. Akan tetapi, ada juga yang berhasil menghafalkan walaupun belum mampu membaca ayat dengan baik. Selidik punya selidik, mereka menghafalkan ayat lewat tulisan latin. Di satu sisi, saya mengelus dada dengan fenomena ini, tapi di sisi lain saya salut dengan usaha mereka yang bisa hafal ayat lewat tulisan latin.
Ketika tes dilanjutkan pada menghubungkan antara ayat dan hadis dengan tema, semakin sulit mereka menjawabnya..
Tes praktek ibadah semakin dinamis…ada yang lancar, dan tidak sedikit yang tersendat. Ada yang shalat janazah dengan do’a iftitah, tayammum dengan enam tepukan, bingung menghitung takbir dalam shalat Id, belum pernah praktek salat gerhana dll.
Tes ini di satu sisi sangat bagus untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam persoalan-persoalan praktis, di sisi lain mahasiswa seharusnya dibekali lebih banyak akan materi-materi tersebut.
Semoga sukses buat semua…!
Surakarta, 15-4-2014

توجيه الانظار لتوحيد المسلمين في الصوم والافطار


Buku ini karya Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari yang diedit oleh Muhammad Hamzah bin Ali al-Kattani, diterbitkan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah tahun 2006.
Ahmad Shiddiq al-Ghumari lahir tahun 1320 H di kabilah Bani Sa’id,  dekat qabilah Ghummarah,  dan kemudian dia dibawa oleh Orang Tuanya ke Wilayah Tanger (طنجة), Maroko. Sejak kecil ayahnya telah mengarahkannya pada ilmu dengan mengirimnya ke Al Azhar,  Mesir, pada umur 9 tahun. Ia memiliki banyak guru dari berbagai bidang keilmuan; tafsir,  hadis,  fiqh,  dsb, oleh karena itulah ia menjadi ahli dalam berbagai bidang. Ia banyak melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai negara,  menulis berbagai karya dalam banyak bidang. Tercatat ia memiliki 120 karya,  baik buku yang terdiri dari beberapa jilid maupun risalah-risalah kecil dalam bidang hadis,  fiqh,  biografi dsb. Ia meninggal tahun 1380 H. Ia pernah bermadzhab Maliki,  Syafi’i dan kemudian tidak terikat secara qauli pada madzhab tertentu.
Kitab Taujih al-Andzar sendiri ditulis untuk membantah pendapat tentang adanya Ikhtilaf al-Mathali’ dalam penetapan awal bulan hijriah,  terutama Ramadhan dan Syawal.
Dengan mengemukakan berbagai argumentasi naqli dan aqli, melakukan bantahan atas dalil tentang perbedaan mathla’, mengemukakan pendapat berbagai madzhab dan dalil yang dipakai, ia kemudian menyimpulkan bahwa umat Islam wajib bersatu dalam memulai awal bulan hijriah. Apabila ada satu wilayah yang sudah berhasil melihat hilal,  maka wilayah lain harus megikutinya tanpa memperhatikan perbedaan mathla’. Ia memberikan bantahan atas penggunaan hadis Kuraib tentang ikhtilaf al-Mathali’.
boyolali, 13-4-2014

Wisuda


Bagi kebanyakan orang,  apalagi tingkat S1, wisuda menjadi salah satu ritual yang sangat ditungu-tunggu. Saat wisuda menjadi saat yang sangat monumental karena harus dicapai dengan perjuangan yang luar biasa berat.
Hari ini, IAIN Surakarta mewisuda sarjana untuk tingkat S1 dan S2. Saat melihat beberapa mahasiwa yang pernah bertemu di kelas, mereka sudah memakai toga dengan senyum mengembang, ada kebanggaan juga rasanya. Hari ini memang layak mereka senang dan bahagia. Untuk sementara mereka lepas dari beban berat yang menggantung bertahun-tahun. Tapi,  sebenarnya wisuda hanyalah akhir dari sebuah titik,  dan awal dari titik yang lain. Tanggung jawab akademik dan sosial menjadi lebih besar bagi mereka. Kebanggaan dan kebahagiaan ini akan lengkap jika bukan saja mengantar mereka meyeleasaikan studi,  tapi menjadi bagian kesuksesan mereka dalam memikul tanggung jawab tadi.
Semoga sukses buat mereka semua. Amin
12 April 2014

Cinta Bahasa Arab


Hari ini saya berkesempatan menjadi salah saru Juri atau Hakim untuk MQK (Musabaqah Qira’atul Kutub) untuk pesantren di wilayah Sukoharjo. Saya diminta menjadi Hakim untuk bidang kitab Tafsir, dengan peserta tingkat menengah (Wustho) dan tingkat atas (Ulya).
Ingatan saya kembali ke masa lalu,  setidaknya saya pernah jadi peserta (walau untuk sekedar antar santri pondok), dan juga pernah jadi pembimbing (yang dibimbing berhasil sampai tingkat nasional) untuk acara seperti ini.
Ada kebanggaan tersendiri,  baik saat jadi peserta, pembimbing dan juga Juri di acara seperti ini.
Al-Qur’an dan Hadis itu berbahasa Arab,  memahaminya tentu butuh kemampuan berbahasa Arab. Dan lomba Qira’atul Kutub seperti itu merupakan salah satu saja dari berbagai cara agar santri,  pelajar atau mahasiwa mau belajar, memahami dan mencintai bahasa Arab melalui pembacaan atas teks-teks Arab.
Beberapa peserta tadi menampakkan kemampuan yang sangat baik; intonasi, kaidah kebahasaan, mufradat dan pemahaman kalimat. Jika saja semakin banyak yang seperti ini, dan ditambah beberapa polesan sana sini, ada harapan besar bagi umat Islam Indinesia di masa yang akan datang. Semoga…!!!
Boyolali,  10 April 2014

Ingin


Ku ingin punya pemimpin yang tidak harus seperti Rasulullah, atau Khulafaur Rasyidun, atau Umar bin Abdul Aziz. Karena aku yakin, tak ada satupun di sini yang bisa seperti itu. Mereka adalah mereka, tak ada yang sama
Aku hanya ingin punya pemimpin yang amanah dan dapat dipercaya. Mau mendengar keluhan rakyatnya, tidak menipu rakyatnya. Pemimpin yang tidak mengambil yang bukan haknya, memberikan kebaikan buat semua.
Jika aku memilihmu dengan harapan kau memenuhi harapanku, dan ternyata kau tak memenuhi harapan itu, aku hanya akan berucap: “Hasbunallah, wa Ni’mal Wakil.”
Walau pengalaman mengatakan banyak yang kau wakili dan kau khianati, tapi memang tidak banyak pilihan yang ada di depanku. Saat aku memilihmu, mungkin semata-mata karena aku tak mau pilihanku jatuh ke orang yang tidak lebih baik dari dirimu.
Aku tahu, tak ada manusia sempurna. tapi tak bolehkah aku berharap banyak pada mu?
Dan memang aku tidak boleh berharap banyak padamu. Aku hanya akan berharap banyak pada-Nya saja.
Aku putuskan, aku akan memilihmu karena aku merasa tak ada lagi pilihan lain lagi selain dirimu. Sungguh aku terpaksa untuk ini, tapi itulah jalan yang harus ku tempuh.
Selamat ya….aku memilihmu!!!
9 April 2014