PERBEDAAN DALAM FURU’ FIQHIYYAH SEBAGAI AKIBAT PERBEDAAN DALAM USUL AL-FIQH


Oleh: Muh. Nashirudin

Abstract: This article analyzes the differences of Schollar (Ulama) on Usūl al-Fiqih and their implications in the differences of Furu’ Fiqhiyyah. Based on the theory that differences on Usul make the differences on Furu’, it is found that the differences on mazhab (school of Islamic Jurisprudence) have four causes, i.e. the common causes of differences, the qawa’id of al-Qur’an and al-Hadis understanding, the qawa’id that related to Ijma’ and Qiyas, and the qawa’id that related to any debatable dalil (sources or methods) of Islamic Law. The common causes of differences on Fiqih consist of five factors, i.e. the difference of qira’at (reading) of al-Qur’an, knowledge of hadis, the difference of text understanding, the existence of lafz musytarak and ta’arud al-adillah. Keywords: Usūl, furu’, al-Fiqh, mazhab, qawa’id, dalil, perbedaan.

Pendahuluan

Sejarah menunjukkan bahwa Islam pernah mencapai sebuah kejayaan dalam peradaban dan keilmuan. Ini dibuktikan dengan perkembangan keilmuan yang sangat dahsyat pada masa-masa tersebut. Salah satu keilmuan yang mencapai puncaknya adalah hukum Islam (fiqh). Munculnya berbagai mazhab dalam bidang fiqih menjadi sebuah fenomena yang menunjukkan begitu terbukanya keilmuan Islam pada saat itu sehingga setiap pakar hukum Islam (fuqaha’) memiliki kemampuan dan hak untuk berbeda dengan pakar yang lain, sekalipun guru mereka sendiri. Imam asy-Syafi’i yang merupakan salah satu murid terbaik Imam Malik pun berbeda pendapat dengan gurunya sendiri, dan pada akhirnya pendapat keduanya mewakili dua mazhab yang berbeda. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu murid terbaik dari Imam Syafi’i dan ia berbeda pendapat dengan gurunya. Pendapat-pendapat Ahmad bin Hanbal pun akhirnya menjadi sebuah mazhab yang mandiri. Yang perlu dicermati dari fakta di atas adalah bahwa tidak ada yang merasa bahwa pendapatnya adalah yang paling benar, sedangkan pendapat orang lain adalah salah. Bahkan salah satu ungkapan asy-Syafi’i yang sangat masyhur adalah; ”Pendapatku benar dan memungkinkan salah, sedangkan pendapat orang lain salah dan memungkinkan benar”. Hanya saja perbedaan ini pada masa-masa selanjutnya memunculkan perpecahan di antara umat Islam yang sebagian di antaranya masih berlanjut sampai saat ini. Perpecahan yang pada mulanya berawal dari perbedaan dalam bidang fiqih bahkan berkembang menjadi perpecahan sosial.

Salah satu penyebab terjadinya perpecahan yang berawal dari perbedaan pendapat tadi karena masing-masing pengikut mazhab merasa bahwa pendapat mazhabnya adalah yang paling benar. Dan ini terjadi karena para pengikut mazhab tidak lagi mengikuti metode para imamnya yang mengambil pendapat hukum dari sumber aslinya, yakni al-Qur’an dan as-Sunnah, akan tetapi memilih untuk mengambil pendapat hukum dari kitab-kitab fiqih dalam mazhabnya sendiri dan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran yang tidak dapat berubah lagi. Masa inilah yang dikenal dengan masa taklid dan jumud (stagnan). Dan ini berlanjut sampai awal abad dua puluh dengan munculnya para pembaharu pemikiran Islam yang menyerukan ummat Islam untuk kembali pada al-Qur’an dan as-Sunnah dan meninggalkan sikap bermazhab. Akan tetapi, di samping ajakan untuk kembali pada al-Qur’an dan as-Sunnah dan tidak bermazhab ini mendapat sambutan dari ummat Islam, sikap bermazhab yang sudah terbentuk selama berabad-abad pun masih tetap ada dan berkembang. Pada akhirnya, baik sikap untuk kembali pada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan tidak bermazhab maupun sikap untuk tetap bermazhab membentuk dua kutub yang saling berlawanan.

Fenomena tersebut mengharuskan adanya sikap yang lebih arif untuk melihat adanya berbagai perbedaan, baik antar para penganut mazhab yang berbeda maupun antara penganut mazhab dengan penganut sikap tidak bermazhab. Dan salah satu upaya untuk bisa mengetahui sebab adanya perbedaan dalam bidang fiqih yang kemudian diharapkan bisa menimbulkan sikap yang arif dalam menghadapi perbedaan tersebut adalah dengan mengetahui metode istinbat hukum dari masing-masing. Karena salah satu penyebab perbedaan dalam bidang furu’ fiqih adalah adanya perbedaan dalam usulnya. Penyebab Perbedaan Pendapat Perbedaan dalam bidang furu’ pada hakekatnya sudah ada sejak masa sahabat. Akan tetapi perbedaan ini sifatnya sangat terbatas. Oleh karena itu perbedaan tersebut tidak sampai menimbulkan konflik.

Setelah daerah kekuasaan Islam meluas dan para sahabat tidak lagi berada pada satu tempat dan menyebar ke beberapa daerah kekuasaan Islam yang baru, maka masing-masing sahabat dengan perbedaan kemampuan dan pengetahuan masing-masing menghasilkan produk ijtihad yang berbeda-beda pula. Inilah yang menambah kawasan perbedaan dalam bidang furu’ semaki meluas. Puncaknya adalah dengan terbentuknya berbagai mazhab dalam bidang fiqih yang sebagian di antaranya masih bertahan sampai saat ini. Karena beragamnya penyebab perbedaan dalam bidang furu’, diperlukan klasifikasi yang jelas untuk mengetahui secara detail penyebab terjadinya perbedaan tadi.

Mustafa Sa’id al-Khin dalam bukunya Asar al-Ikhtilaf fi al-Qawa’id al-Usuliyah fi Ikhtilaf al-Fuqaha’ berusaha meneliti sebab-sebab terjadinya perbedaan ulama dalam bidang fiqih. Ia mengklasifikasikan penyebab-penyebab tadi dalam beberapa hal:

a. Penyebab perbedaan yang bersifat umum

b. Penyebab perbedaan karena kaidah-kaidah yang berkaitan dengan al-Qur’an dan Sunnah

c. Penyebab perbedaan karena kaidah-kaidah yang berkaitan dengan Ijma’ dan Qiyas

d. Penyebab perbedaan karena kaidah-kaidah yang berkaitan dengan dalil-dalil yang diperselisihkan.

Dalam hal ini akan dipaparkan secara singkat dua bagian pertama penyebab perbedaan tersebut sebagai sebuah gambaran tentang adanya pengaruh perbedaan dalam usul al-fiqh dan kaidah usuliyah terhadap perbedaan furu’.

a. Penyebab Perbedaan yang Bersifat Umum Menurut al-Khin penyebab terjadinya perbedaan pendapat dalam bidang fiqih secara umum banyak sekali, akan tetapi yang dianggapnya penting ada beberapa macam. Di antaranya adalah:

1) Perbedaan dalam qira’at.

Perbedaan qira’at dalam pembacaan al-Qur’an merupakan salah satu penyebab terjadinya perbedaan dalam bidang fiqih. Salah satu contohnya adalah perbedaan ulama’ tentang kewajiban pada kaki ketika berwudhu, apakah dibasuh ataukah diusap. Penyebab perbedaan adalah adanya ayat al-Qur’an yaitu surat al-Ma’idah ayat 6 yang berisi tentang tata cara berwudu yang oleh sebagian ulama’ (dalam hal ini diwakili Jumhur ulama’) kata-kata arjul (kaki) pada ayat itu dibaca nasab sehingga terbaca wa arjulakum, dan oleh sebagian yang lain (diwakili oleh ulama Syi’ah Imamiyah) dibaca dengan jar, wa arjulikum. Pengaruhnya dalam fiqih adalah apabila ayat tadi dibaca dengan nasab, maka dalam berwudu kaki harus dibasuh, sedangkan apabila dibaca dengan jar, maka dalam berwudu kaki harus diusap bukan dibasuh.

2) Ketidaktahuan adanya hadis dalam masalah

Pengetahuan para sahabat Nabi SAW dalam masalah hadis tidaklah berada pada satu tingkatan, akan tetapi berbeda-beda. Sebagian mengetahui banyak hadis, sedangkan sebagian yang lain bahkan hanya mengetahui satu atau dua buah hadis saja. Hal ini karena ketika seorang sahabat tidak selamanya mendengar seluruh ucapan Nabi SAW atau menyaksikan seluruh aktifitasnya. Adakalanya dia mendengar sebuah hadis yang tidak didengar oleh sahabat lain. Dan sebaliknya dia juga mungkin tidak mendengar hadis yang diketahui oleh sahabat lain. Hal inilah yang menjadikan salah satu sebab terjadinya perbedaan pendapat, yakni tidak sampainya informasi tentang adanya hadis dalam sebuah masalah. Salah satu contoh yang bisa menjelaskan hal ini adalah bahwa Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas pernah berfatwa bahwa wanita hamil yang ditinggal mati suaminya, masa ‘iddah (tunggu) nya adalah masa yang paling lama antara masa melahirkan dan empat bulan sepuluh hari. Mereka belum menerima informasi tentang fatwa Nabi SAW bahwa masa tunggu wanita hamil yang ditinggal mati suaminya adalah sampai dia melahirkan.

3) Perbedaan dalam Memahami dan Menafsirkan Teks

Salah satu sebab perbedaan yang lain adalah adanya perbedaan dalam memahami dan menafsirkan sebuah teks, baik itu berupa al-Qur’an maupun as-Sunnah. Salah satu contohnya adalah kasus pembagian tanah hasil rampasan perang. Umar ibn al-Khattab berpendapat bahwa tanah hasil rampasan perang itu tetap berada di tangan pemiliknya dan dalam pemeliharaannya. Hanya saja, tanah tadi dikenai pajak yang dapat dipakai untuk kepentingan ummat Islam di setiap masa dan generasi. Pandangan Umar yang seperti ini didasarkan pada ayat 41 surat al-Anfal dan ayat 6-10 surat al-Hasyr. Umar memahami kandungan ayat-ayat tadi bahwa harta rampasan perang yang tidak bergerak tidak dibagikan pada tentara perang, akan tetapi dikuasai oleh negara dan dipakai untuk kemaslahatan ummat Islam. Sedangkan para sahabat yang lain berpendapat bahwa tanah rampasan perang sebagai mana barang bergerak, juga harus dibagikan layaknya harta rampasan perang yang lain. Pendapat kedua ini juga didasarkan pada ayat 41 surat al-Anfal serta tindakan Rasulullah yang juga pernah membagi tanah hasil rampasan perang. Ayat yang dipakai oleh Umar untuk mendukung pendapatnya, menurut para sahabat yang lain, adalah berbicara tentang dua hal yang berbeda, yaitu harta ghanimah dan fai’. Dan kedua macam harta ini tetap dibagikan pada para tentara perang tidak seperti keputusan yang dibuat Umar.

4) Adanya lafaz yang musytarak

Dalam bahasa Arab terdapat berbagai bentuk kata yang menunjukkan pada makna tertentu. Salah satunya adalah kata atau lafaz musytarak. Musytarak berarti sebuah kata yang memiliki dua makna atau lebih, dan terkadang saling berlawanan, misalnya kata al-jun yang bisa berarti putih dan juga hitam. Dan dalam al-Qur’an dan al-Hadis juga terdapat beberapa lafaz yang musytarak. Hal ini menjadi salah satu sebab munculnya perbedaan pendapat di antara para ulama. Misalnya adalah kata al-qur’u yang ada dalam surat al-Baqarah ayat 228. Kata tersebut memiliki makna ¬haid dan juga bermakna suci. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa wanita-wanita yang dicerai suaminya, maka ‘iddah (masa tunggu)-nya adalah tiga kali quru’. Semua ulama sepakat akan hal ini. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang makna quru’ yang ada dalam ayat tersebut. ‘Aisyah, Ibn Umar, Zaid bin S|abit, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan beberapa ulama lain mengartikan qur’u dalam ayat tersebut bermakna suci. Artinya, mereka berpendapat bahwa wanita yang dicerai suaminya memiliki masa tunggu (‘iddah) tiga kali suci. Sedangkan Abu Bakr, Umar, Usman dan sebagian Abu Hanifah berpendapat bahwa qur’u dalam ayat tersebut berarti haid. Artinya, mereka berpendapat bahwa masa tunggu wanita yang ditalak adalah tiga kali haid.

5) Adanya pertentangan dalil (ta’arud al-adillah)

Salah satu sebab lain yang menjadikan terjadinya perbedaan pendapat antar ulama adalah adanya pertentangan antar dalil (ta’arud al-adillah) yang menjadikan satu ulama mengunggulkan satu dalil yang menurut ulama’ lain justru merupakan dalil yang lemah. Pertentangan antar dalil yang sebenarnya hanya ada pada pikiran para ulama’ memang berusaha untuk diselesaikan dan dicarikan jalan keluarnya. Hanya saja, masing-masing ulama memiliki cara yang berbeda dalam mencari jalan keluarnya. Ini pula yang menjadi salah satu sebab perbedaan pendapat.

Contohnya adalah perbedaan di antara ulama tentang tata cara tayamum. Mazhab Hanbali berpendapat bahwa tayamum cukup dilakukan dengan sekali tepukan untuk wajah dan kedua telapak tangan. Dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Ammar binYasir yang menyatakan bahwa Rasulullah memberikan contoh kepadanya dalam melakukan tayamum. Nabi mengusapkan tangannya ke tanah dan memakainya untuk mengusap wajah dan dua telapak tangan. Sedangkan Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i mengatakan bahwa tayamum dilakukan dengan dua kali tepukan. Satu tepukan untuk wajah dan satu tepukan untuk kedua tangan. Dasar yang dipakai adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Umar bahwa Nabi SAW bersabda:”Tayamum itu dengan dua kali tepukan, satu tepukan untuk wajah dan satu tepukan untuk kedua tangan sampai ke siku.” Perbedaan tersebut terjadi karena adanya dua dalil yang berbeda dan nampak bertentangan dan masing-masing ulama menguatkan satu hadis yang menurut ulama lain justru lemah.

b. Penyebab Perbedaan karena Kaidah-kaidah yang Berkaitan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kaidah usuliyah merupakan salah satu faktor penyebab perbedaan di antara para ulama. Sebagian dari kaidah-kaidah tersebut berkaitan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, sebagian lagi berkaitan dengan al-Qur’an saja, dan sebagian lain berkaitan dengan as-Sunnah saja.

Di antara kaidah usuliyah yang berkaitan dengan al-Qur’an saja yang menjadi salah satu faktor penyebab perbedaan adalah perbedaan ulama tentang nama al-Qur’an. Apakah al-Qur’an merupakan nama untuk kandungan isinya saja ataukah merupakan nama untuk isi dan susunan katanya. Sebagian ulama –dalam satu riwayat disebutkan bahwa ini adalah pendapat Abu Hanifah– berpendapat bahwa kata al-Qur’an hanya dipakai untuk menyebut isi kandungan maknanya saja. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa al-Qur’an adalah nama untuk susunan kata dan maknanya sekaligus. Implikasi perbedaan dalam hal ini pada bidang fiqih adalah adanya perbedaan pendapat tentang kebolehan salat dengan bahasa selain Arab. Abu Hanifah –ulama yang diriwayatkan menganut pendapat pertama– membolehkan salat dengan membaca al-Fatihah dengan selain bahasa Arab, karena yang terpenting bukanlah bahasa yang dipakai al-Qur’an akan tetapi makna yang akan dicapainya. Sedangkan jumhur ulama –sebagai penganut pendapat yang kedua– berpendapat bahwa bacaan al-Fatihah harus dengan bahasa Arab karena yang dinamakan al-Qur’an bukan hanya maknanya saja, akan tetapi juga susunan katanya yang berupa bahasa Arab.

Implikasi yang lain adalah perbedaan tentang tarjamah al-Qur’an. Bagi penganut pendapat pertama tarjamah al-Qur’an memiliki status sama dengan al-Qur’an seperti tidak boleh disentuh dan dibaca oleh orang yang dalam keadaan junub, dsb. Sedangkan penganut pendapat kedua menganggap bahwa tarjamah al-Qur’an bukanlah al-Qur’an, akan tetapi tarjamah makna al-Qur’an.

Kaidah lain yang berkaitan dengan al-Qur’an adalah tentang qira’ah syazzah, yaitu bacaan al-Qur’an yang tidak diriwayatkan melalui jalur mutawatir. Ulama berbeda pendapat tentang kebolehan berhujjah dengan qira’ah syazzah. Ulama mazhab Hanbali dan Hanafi berpendapat bahwa qira’ah syazzah dapat dipakai sebagai dalil untuk menetapkan hukum. Sedangkan mazhab Syafi’i berpendapat tentang ketidakabsahan qira’ah syazzah sebagai salah satu dalil penetapan hukum. Implikasinya pada furu’ fiqhiyyah ada beberapa hal, di antaranya adalah apabila seseorang tidak berpuasa pada bulan ramadan secara berturut-turut dikarenakan suatu alasan, maka apakah dia harus menqada puasa tadi secara berurutun juga ataukah boleh secara terpisah-pisah. Ulama mazhab Hanbali dan Hanafi mengatakan bahwa dia harus menqadanya secara berurutan pula. Dasarnya adalah adanya qira’ah syazzah yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’b yang menambahkan kata-kata mutatabi’at dalam ayat 184 surat al-Baqarah yang berbunyi: “fa ‘iddatun min ayyam ukhar”. Sedangkan mazhab Syafi’i membolehkan menqada puasa tersebut dengan terpisah-pisah karena menganggap bahwa qira’ah Ubay bin Ka’b tersebut tidak dapat dijadikan sebagai dalil.

Sedangkan kaidah yang berkaitan dengan as-Sunnah terdapat banyak sekali. Di antaranya adalah tentang kehujjahan hadis mursal, yaitu hadis yang terputus salah satu mata rantai perawinya di kalangan sahabat. Asy-Syafi’i tidak dapat menerima hadis mursal sebagai sebuah dalil karena dianggap sudah cacat, sedangkan Abu Hanifah menerima hadis mursal sebagai dalil penetapan hukum karena menganggap bahwa tidak mungkin seorang tabi’in berbohong dalam meriwayatkan sebuah hadis. Jadi, terputusnya rantai periwayatan pada kalangan sahabat tidak menjadikan cacat pada status hadis tersebut.

Implikasinya pada bidang furu’ fiqih banyak sekali, di antaranya adalah tentang batalnya wudu karena bersentuhan dengan yang berlainan jenis. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa persentuhan kulit laki-laki dengan perempuan tidak membatalkan wudu. Dasar yang dipakai adalah hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa Nabi SAW pernah mencium salah satu isterinya dan kemudian melakukan salat tanpa berwudu lebih dahulu. Sedangkan Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa persentuhan kulit laki-laki dengan perempuan itu membatalkan wudu. Dasar yang dipakai adalah al-Qur’an ayat 6 surat al-Ma’idah. Sedangkan hadis yang dipakai oleh Mazhab Hanafi sebagai dalil tidak dapat diterima oleh asy-Syafi’i karena hadis tersebut adalah mursal.

Urgensi Pengetahuan akan Sebab Perbedaan dalam Konteks Kekinian

Pengetahuan akan sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat untuk saat ini sangatlah dibutuhkan. Terjadinya banyak benturan di masyarakat di antaranya adalah karena informasi yang sampai pada mereka adalah tentang adanya perbedaaan semata, tidak tentang sebab terjadinya perbedaan. Hal ini pada akhirnya menjadikan sebagian besar dari mereka tidak bisa memahami perbedaan sebagai sebuah perbedaan metode pemahaman atas teks. Perbedaan pendapat dalam fiqih dianggap sebagai perbedaan keyakinan yang menjadikan sebagian mereka berhak untuk memberikan label “sesat” pada sebagian yang lain.

Pada kasus di Indonesia misalnya, sudah menjadi bukan rahasia lagi bahwa ada sebagian masyarakatnya yang melaksanakan tarawih di bulan ramadan dengan 8 raka’at, dan ada sebagian yang melakukannya dengan 20 raka’at. Dalam melaksanakan salat, ada yang mengeraskan bacaan basmalah dan ada yang tidak mengeraskannya atau bahkan tidak membacanya sama sekali. Perbedaan seperti ini, di masyarakat akar rumput sering menimbulkan permasalahan, menjadikan salah satu kelompok tidak bersedia salat berjama’ah atau bekerja sama dengan kelompok lain yang tidak sependapat. Perbedaan tersebut tidak lagi menjadi perbedaan furu’ fiqhiyyah, akan tetapi dianggap sebagai perbedaan ideologi, akidah dan keyakinan yang menjadikan sebagiannya berhak “menyesatkan” sebagian yang lain.

Penutup

Sudah menjadi tugas kalangan intelektual di masing-masing organisasi keagamaan sosial di Indonesia untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang praktek-praktek keagamaan yang ada, memberikan informasi, keilmuan dan pengetahuan yang benar dengan melihat setiap masalah dari sisi yang berbeda-beda dan beragam sehingga memungkinkan adanya pemahaman dan sikap yang arif dalam menghadapi perbedaan pendapat. Masyarakat Indonesia yang homogen menuntut setiap orang mengetahui dasar pemikiran dan pemahaman orang lain dan bisa mensikapinya dengan lebih baik, tidak mengklaim bahwa kebenaran hanya ada pada dirinya dan selalu luput dari orang lain. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk bisa bergaul, berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain yang berbeda pendapat termasuk dalam pemahaman keagamaan. Pengetahuan dan pemahaman tentang sebab perbedaan merupakan sebuah keniscayaan untuk mewujudkan sebuah masyarakat masa kini yang bisa saling memahami adanya perbedaan, saling menghormati dan bekerjasama.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Albani, Muhammad Nasiruddin, Sifah Salah an-Nabi, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1996).

Al-Amidi, Al-Ihkam fi Usul al-Ahkam, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989).

Al-Asyqar, ‘Umar Sulaiman al-Asyqar, Tarikh al-Fiqh al-Islami, (Aljazair: Qasr al-Kitab, t.t.).

Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.).

Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma’ad, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.).

Ibn Qudamah, al-Mughni, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.t.).

Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.).

Al-Kasani, Badai’ as-Sanai’, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.).

Khin, Mustafa Sa’id al-Khin, Asar al-Ikhtilaf fi al-Qawa’id al-Usuliyah fi Ikhtilaf al-Fuqaha’, (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 1996).

Mubarok, Jaih, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000).

Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.).

Ar-Razi, Fakhruddin, Tafsir al-Fakhr ar-Razi, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.).

Asy-Syaukani, Irsyad al-Fuhul, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.).

______, Nail al-Autar, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.).

At-Tabari, Tafsir at-Tabari, (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 2000).

Az-Zaila’i, Nass bi ar-Rayah, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.).

Az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.).

Az-Zuhaili, Wahbah, Usul al-Fiqh al-Islami, (Beirut: Dar al-Fikr, 1986).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s