INTENSITAS BELAJAR DAN JENIS KELAMIN SEBAGAI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR SISWA


Oleh: Muh. Nashirudin

Abstraksi: Penelitian ini akan mengukur intensitas belajar siswa laki-laki dan perempuan dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Ketiga variabel tersebut akan diuji melalui dua tahap: yakni analisis deskriptif (mean dan simpang baku) dan uji hipotesis (analisis varian dua-jalur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan intensitas belajar tinggi memiliki prestasi belajar yang berbeda dari mereka yang memiliki intensitas belajar rendah. Tidak ada pengaruh interaksi antara jenis kelamin dengan intensitas belajar terhadap prestasi belajar siswa. A.

PENDAHULUAN

Prestasi belajar yang baik merupakan salah satu indikator keberhasilan proses belajar mengajar di suatu sekolah. Peningkatan kuantitas siswa yang memiliki prestasi belajar yang baik juga akan meningkatkan mutu sekolah yang bersangkutan. Oleh karena itu, instansi sekolah akan berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan prestasi belajar para siswanya untuk meningkatkan mutu sekolah dan menjadikan sekolah mereka sebagai salah satu sekolah yang memiliki prestasi lebih dibandingkan sekolah yang lain. Akan tetapi, yang perlu dilihat adalah apa saja faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu siswa dalam pembelajarannya atau apa saja yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa. Memang tidak ada suatu keberhasilan yang hanya didukung atau dipengaruhi oleh satu faktor saja. Ada banyak hal yang mungkin berpengaruh pada keberhasilan prestasi belajar seorang siswa. Akan tetapi, bisa dilacak beberapa atau bahkan salah satu saja faktor yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. Penelitian ini akan mengangkat masalah intensitas belajar siswa laki-laki dan siswa perempuan dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Populasi yang akan diukur adalah sejumlah siswa di Madrasah Aliyah (MA) Al-Azhar Andong Boyolali.

B. KONSTELASI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

1. Konstelasi Penelitian Hipotesis yang dibangun dalam penelitian ini adalah bahwa prestasi belajar seorang siswa selain dipengaruhi oleh intensitas belajarnya juga dipengaruhi oleh jenis kelaminnya. Siswa laki-laki dengan intensitas belajar tinggi memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi dari siswa laki-laki dengan intensitas belajar rendah. Siswa perempuan dengan intensitas belajar tinggi memiliki prestasi lebih tinggi dari siswa perempuan dengan intensitas belajar rendah. Dan siswa laki-laki dengan intensitas belajar tinggi memiliki prestasi belajar lebih tinggi dari siswa perempuan dengan intensitas belajar tinggi. Kerangka berpikir tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1.

Konstelasi Penelitian INTENSITAS BELAJAR JENIS KELAMIN TOTAL B LAKI-LAKI (A1) PEREMPUAN(A2) TINGGI (B1) A1B1 A2B1 B1 RENDAH (B2) A1B2 A2B2 B2 TOTAL A A1 A2 Tabel di atas menjelaskan bahwa siswa dengan intensitas belajar yang tinggi memiliki tingkat prestasi belajar yang lebih tinggi dari mereka yang intensitas belajarnya rendah. Selain itu, siswa perempuan memiliki prestasi lebih tinggi dari siswa laki-laki. 2. Hipotesis Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah: a. Siswa dengan intensitas belajar tinggi memiliki prestasi belajar yang berbeda dari mereka yang intensitas belajarnya rendah. b. Siswa berjenis kelamin laki-laki memiliki prestasi belajar yang berbeda dari mereka yang berjenis kelamin perempuan. c. Terdapat pengaruh interaksi antara intensitas belajar dan jenis kelamin terhadap prestasi belajar siswa.

C. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Winkel (1991: 161), prestasi adalah bukti usaha yang dapat dicapai. Dengan kata lain, prestasi adalah hasil usaha yang diwujudkan dengan aktivitas-aktivitas yang sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Sedangkan prestasi belajar menurut Poerwodarminto (1988: 700) diartikan sebagai “penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai test atau angka nilai yang diberikan guru”. Definisi ini nampak lebih mengedepankan prestasi sebagai sebuah hasil akhir, tanpa melihat secara dalam pada proses perjalanannya. Lebih konkret lagi, prestasi belajar seorang siswa adalah nilai test atau angka nilai yang diterima oleh siswa tersebut. Walaupun definisi ini konkret, akan tetapi ada permasalahan yang belum terselesaikan dari definisi tersebut, yakni terabaikannya proses pembelajaran, karena ia mengedepankan pada hasil akhir. Selain itu, definisi ini juga tidak mencakup hasil lanjut yang dapat dicapai oleh seorang siswa dari prestasi yang ia peroleh. Sudjana (2005: 45) mengartikan prestasi belajar sebagai “kemampuan, ketrampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal. Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan proses untuk mendapatkan perubahan tingkah laku kognitif, afektif dan psikomotorik.” Jadi, prestasi belajar seorang siswa adalah proses dan juga hasil dari ketrampilan dan penguasaan mata pelajarannya, dimana penguasaan mata pelajaran tersebut dinilai dengan angka sebagai perwujudan yang telah dicapai siswa dalam belajarnya. Definisi ini mungkin lebih baik dan mencakup hal-hal lain yang tidak ada pada definisi pertama, karena selain melihat hasil, prestasi juga bisa dilihat melalui proses yang dijalani dalam mencapai hasil yang diinginkan. Akan tetapi, untuk menjadikannya lebih terukur, maka prestasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar dalam ranah kognitif yang diketahui dari nilai akhir semester siswa yang merupakan gabungan antara nilai tes harian, nilai tes tengah semester dan tes akhir semester. Menurut Suryabrata (1997: 249) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ada dua, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor Eksternal sendiri terdiri terbagi menjadi dua macam, yaitu; 1. Yang bersifat non sosial seperti keadaan alam yang bisa meliputi cuaca, kebersihan tempat, situasi dan kondisi kegiatan belajar dan sebagainya. Tempat yang tidak nyaman dan bersih dengan suasana terlalu panas atau terlalu dingin akan sangat berpengaruh pada konsentrasi siswa dalam belajar. Kurangnya konsentrasi ini akan menjadikan siswa tidak dapat menyerap sebagian besar materi yang diterimanya. Dan hal ini, tentunya akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa. 2. Yang bersifat sosial seperti kegaduhan, kebisingan dan sebagainya. Kalau pada poin pertama, faktor yang ada bersifat alamiah dan natural, maka faktor kedua ini lebih bersifat sosial. Artinya, kondisi yang muncul tidak disebabkan karena pengaruh alam, akan tetapi pada bagaimana pendidik dapat mengkondisikan suasana belajar yang nyaman dan dapat membantu konsentrasi belajar siswa. Ketidakmampuan pendidik atau guru dalam mengendalikan kegaduhan yang disebabkan ulah sebagian siswa, akan menjadikan siswa yang lain terganggu konsentrasi belajarnya. Dan ini juga dapat berpengaruh pada prestasi siswa secara keseluruhan. Sedangkan faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang bersifat internal bisa meliputi dua hal; 1. Yang bersifat psikologis seperti motif, minat, sikap, perhatian, bakat, pengamatan, intelegensi dan sebagainya. Faktor yang bersifat psikologis ini dapat berubah, dibentuk dan digali dari siswa melalui metode tertentu. Tugas pendidik atau guru adalah semaksimal mungkin menggali minat, motif, perhatian dan bakat yang dimiliki setiap siswa sehingga siswa bisa lebih berkembang dan berprestasi. Minat siswa yang besar untuk berprestasi akan sangat mungkin menjadikannya mau memakai sebagian besar waktunya untuk belajar. Semakin besar minat berpretasi yang ia miliki, intensitas belajarnyapun akan semakin tinggi, dan demikain sebaliknya. Semakin rendah minat seorang siswa untuk berpretasi, semakin rendah pula intensitas belajarnya. Oelh karena itu di antara tugas utama seorang pendidik adalah sebisa mungkin menggali dan menumbuhkan minat minat berprestasi siswa-siswa atau peserta didiknya. Dengan semakin besar dan kuat minat siswa-siswanya dalam berprestasi, maka akan semakin tinggi pula kemauan dan intensitas mereka dalam belajar dan menggali pengetahuan baru. 2. Yang bersifat fisiologis; Mulyasa (2004; 193-194) mengatakan bahwa faktor yang bersifat fisiologis ini berupa faktor jasamani atau fisik individu. Faktor ini memang bersifat tetap. Selain itu juga dipengaruhi oleh waktu dan kesempatan. Pada penelitian ini, penulis akan meneliti apakah jenis kelamin memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar atau tidak. Siswa dengan jenis kelamin laki-laki secara fisiologis dikaruniai kemampuan fisik yang lebih kuat dari siswa berjenis kelamin perempuan. Sebaliknya, siswa dengan jenis kelamin perempuan dikaruniai hal-hal yang mungkin saja dapat mengganggu intensitas belajarnya, misalnya adalah siklus haid. Dalam kondisi haid, siswa perempuan memiliki kondisi psikologis yang tidak stabil dan mudah terganggu. Apabila dalam kondisi ini dia tidak dapat menghadapi dengan baik, maka intensitas belajarnyapun akan terganggu, dan dengan terganggunya intensitas belajarnya, maka prestasi belajarnyapun akan terpengaruh. Akan tetapi hal ini masih perlu untuk diteliti lebih lanjut. Mengenai cara mengukur prestasi belajar, Wayne dan Youngs (2003: 90) mengatakan bahwa pengetahuan yang terdapat merencanakan pembelajaran perlu dimasukkan cara mengukur prestasi belajar, agar guru mengetahui tingkat kemampuan siswa, maka guru harus menguji hasil belajar siswa tersebut dengan menggunakan tes hasil belajar. Seorang siswa dapat dikatakan tuntas bahan belajar apabila nilai siswa mencapai taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap unit bahan yang dipelajarinya. Istilah belajar sendiri adalah istilah yang sangat sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Ada belajar membaca, belajar menyanyi, belajar mengaji dan sebagainya. Belajar merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal batas usia, dan berlangsung seumur hidup. Belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk mengubah perilakunya. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Tentu saja, perubahan yang diharapkan adalah perubahan ke arah yang positif atau yang lebih baik. Jadi, sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah terjadinya perubahan menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi terampil, dari pembohong menjadi jujur dan lain sebagainya. Sedangkan intensitas belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah rata-rata belajar yang dilakukan oleh seorang siswa dalam satu hari. Semakin sering dan lama dia belajar, maka intensitas belajarnya adalah tinggi, dan begitu sebaliknya. Jenis kelamin (bahasa Inggris: sex) adalah kelas atau kelompok yang terbentuk dalam suatu spesies sebagai sarana atau sebagai akibat digunakannya proses reproduksi seksual untuk mempertahankan keberlangsungan spesies itu. (http://id.wikipedia.org/wiki/Jenis_kelamin) Jenis kelamin merupakan suatu akibat dari dimorfisme seksual, yang pada manusia dikenal menjadi laki-laki dan perempuan. Pada kebanyakan hewan non-hermafrodit, tumbuhan berumah dua (dioecious), dan berbagai organisme rendah orang menyebutnya jantan dan betina. Jantan adalah kelompok yang menyediakan spermatozoid (sel gamet yang aktif bergerak), sedangkan betina adalah kelompok yang menyediakan sel gamet yang statik dan menunggu untuk dibuahi. Adanya alat kelamin yang khas untuk masing-masing seringkali dijadikan penciri bagi masing-masing jenis kelamin. Sebagai tambahan, sering kali tampak ciri-ciri sekunder yang terjadi seperti pada manusia (misalnya payudara dan sebaran rambut), banyak unggas (seperti pada ayam dan merak, serta sejumlah mamalia (contoh yang mudah terlihat adalah singa). Jenis kelamin dikaitkan pula dengan aspek gender, karena terjadi diferensiasi peran sosial yang dilekatkan pada masing-masing jenis kelamin. Pada masyarakat yang mengenal “machoisme”, umpamanya, seorang laki-laki diharuskan berperan secara maskulin (“jantan” dalam bahasa sehari-hari) dan perempuan berperan secara feminin. Sebagai contoh, tidak ada tempat bagi seorang laki-laki yang sehari-harinya mencuci piring/pakaian karena peran ini dianggap dalam masyarakat itu sebagai peran yang harus dilakukan perempuan (peran feminin). Perdebatan hebat di kalangan masyarakat bertumpu pada perbedaan persepsi dari segi sosial, intelektual, atau emosi antara lelaki dan perempuan. Perbedaan-perbedaan ini amat susah dihitung disebabkan alasan-alasan sains dan politik. Beberapa tuntutan stereotipe lelaki yang terkadang dikemukakan untuk perbandingan dengan perempuan adalah seperti berikut: • Lebih bersikap agresif dibandingkan perempuan. Bagaimanapun, dalam hubungan antarpribadi, sebagian besar penyelidikan mendapati bahwa keagresifan antara lelaki dan perempuan sama saja. Bagaimanapun, lelaki cenderung lebih agresif di luar rumah dan sebaliknya. • Lebih bersikap kompetitif, tetapi juga lebih keras kepala dibandingkan perempuan. • Mempunyai keyakinan diri lebih besar (malah terkadang sombong juga) dan mempertunjukkan kemahiran kepemimpinan yang lebih baik dibandingkan perempuan. • Lebih dapat mengedepankan akal dan emosi. • Mempunyai kemahiran teknis lebih besar dan pengurusan dibandingkan perempuan. • Lebih cenderung pada pemikiran abstrak dibandingkan perempuan. • Lebih kasar dibandingkan perempuan. • Lebih gemar bercakap dan lebih cenderung mencela saat orang sedang bercakap dibandingkan perempuan. • Lebih cenderung membuat perbedaan antara homoseksual dan lesbian. • Lebih cenderung menyindir dan menggunakan metafora dalam pembicaraan. Sebagian dari perbedaan-perbedaan ini telah didukung oleh penyelidikan ilmiah, tetapi ada juga yang tidak. Semua ini harus diterima dengan hati-hati karena terdapat kelainan yang amat besar di kalangan lelaki dan perempuan. Beberapa stereotipe di atas tidak dilihat dari segi yang sama dengan masa kini (yaitu, penggunaannya dalam aspek dan lingkungan penghidupan yang tertentu, seperti kerja luar rumah) hingga abad ke-19, bermula dengan industri. Dari segi rupa dan perawakan, tidak banyak lelaki menggunakan kosmetik atau pakaian yang secara umum terkait kepada perempuan. (Berbuat demikian dikenal sebagai bencong alias waria dan, secara umum dipandang hina.) Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang berbeda dalam banyak hal. Karena itu, kita tidak bisa begitu saja menyamakan keduanya, meskipun – tentu saja – mereka sama-sama manusia. Perbedaan itu, mulai dari yang bersifat fisik sampai yang bersifat psikis, dari bentuk maupun fungsinya, dalam menghadapi masalah, maupun cara menyelesaikannya, dan dalam berbagai kebiasaan mereka sehari-hari, termasuk aktivitas mereka di dalam rumah tangga. Para ahli otak, bahkan menyebut otak perempuan dan otak lelaki memiliki perbedaan struktur dan fungsi, yang terbentuk sejak mereka di dalam kandungan. Di antaranya, otak lelaki memiliki bagian otak reptil yang lebih besar dibandingkan wanita. Padahal, ini adalah bagian yang bertanggungjawab terhadap perilaku kasar seseorang. Karena bagian ini lebih besar dan lebih aktif pada seorang lelaki, maka tidak heran lelaki berperilaku lebih kasar dibandingkan dengan wanitadan kalau sedang emosi, cenderung untuk mengandalkan fisik seperti memukul, membanting, berkata kasar dan sebagainya. Sedangkan pada wanita, bakal menyikapi dengan lebih hati-hati dan terkontrol. Pada perempuan, fungsi otaknya lebih tajam dalam menangkap situasi yang terjadi di sekitarnya. Terutama yang terkait dengan perasaan emosional, seperti sedih dan gembira. Termasuk perubahan ekspresi lawan bicaranya, atau bahasa tubuh mereka, dibandingkan lelaki. Ternyata semua itu juga berpangkal pada struktur dan fungsi otak yang berbeda antara keduanya. Pada wanita sistem limbiknya bekerja 8 kali lebih kuat dibandingkan dengan lelaki. Inilah yang memungkinkan wanita menjadi lebih perasa. Cuma, sayangnya, kepekaan ini juga membuat wanita lebih emosional dalam bersikap: gampang merasa sedih dan gembira. Pada umumnya wanita juga memiliki kemampuan bahasa dan mendiskripsikan persoalan secara lebih mendetil. Ternyata ini disebabkan sel-sel otak yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bahasa pada perempuan tersebar dalam wilayah yang luas di otak kanan maupun otak kiri. Sehingga, pada wanita yang mengalami stroke, kebanyakan mereka tidak kehilangan kemampuan bicaranya. Sel-sel yang berkait dengan fungsi bicara masih berjalan dengan baik. Suatu hal yang jarang terjadi pada pria. Kebanyakan pria jika kena stroke, kemampuan bicaranya bakal menurun drastis. Kemampuan berbahasa dan perasaan yang halus itu memberikan kemampuan kepada seorang wanita untuk bisa menjelaskan perasaannya dengan lebih mengesankan dibandingkan kebanyakan lelaki. Secara struktural, otak wanita memiliki saraf penghubung antara otak kanan dan kirinya lebih tebal dibandingkan pria. Dalam hal seksualitas, keduanya juga memiliki kemampuan dan kencenderungan berbeda. Meskipun masing-masing memiliki libido atau nafsu yang relatif sama. Perbedaan itu lebih pada cara memperoleh dan melakukannya. Wanita memiliki saraf-saraf seksualitas yang lebih tersebar dibandingkan lelaki. Hampir di seluruh tubuhnya. Sedangkan lelaki lebih terkonsentrasi pada daerah genitalnya. Selain itu, wanita cenderung bersikap pasrah dalam beraktifitas seksual. Sedangkan lelaki lebih bersifat agresif. Kenikmatan dan kepuasan mereka berbeda. Ini disebabkan oleh bagian otak yang disebut preoptic medial yang terdapat di hypothalamus. Bagian ini kaya dengan saraf-saraf penerima rangsangan seksual yang fungsi dan jumlahnya berbeda pada lelaki dan perempuan. Perbedaan lainnya adalah pada kemampuan mengelola rasa sakit dan stres. Ternyata perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan pria. Ini pun disebabkan oleh perbedaan otak mereka. Sejak usia baligh, perempuan sudah terbiasa didera nyeri dan stres disebabkan oleh perubahan kondisi menjelang haid alias menstruasi. Nyeri karena datang bulan itu, seringkali datang bersamaan dengan gejolak emosi dan stres. Ketika mereka melahirkan, rasa sakit dan stres semakin meningkat, tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik. Dan berulangkali terjadi, seiring dengan jumlah anak yang mereka lahirkan. Mereka bisa mengelola nyeri dan stres itu lebih baik daripada pria. Belum lagi, masa menyusui, masa membesarkan dan mendidik anak, serta berbagai masalah rumah tangga yang datang silih berganti. Wanita memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan pria. Meskipun, kelihatannya wanita kalah berotot dan lebih lemah. Pada dasarnya, dapat dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. Berbagai penelitian bidang kedokteran dan biologi telah membuktikan hal itu. Mereka memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Karena itu harus diperlakukan secara berbeda pula. Karena, sesungguhnyalah mereka adalah sosok yang berbeda, dalam fisik, tingkah laku, maupun ukuran kebahagiaannya. D. METODE PENELITIAN 1. Populasi dan Sampel Penelitian ini dilakukan di sebuah Madrasah Aliyah (MA) yang berada di lingkungan pesantren, tepatnya MA Al-Azhar yang berada di lingkungan PP. Zumrotut Tholibin Kacangan Andong Boyolali. Lokasi ini dipilih karena MA Al-Azhar jumlah siswa dengan prosentase seimbang antara siswa dengan jenis kelamin laki-laki dengan siswa berjenis kelamin perempuan. Dari tiap kelas yang terdiri dari 30 (tiga puluh) siswa, terdapat 15 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan, baik kelas X, XI, maupun XII. Sampel yang diambil sebagai subyek dalam penelitian ini sebanyak 60 (enampuluh) siswa yang terdiri dari 30 siswa laki-laki dan 30 siswa perempuan. 2. Variabel Penelitian ini menggunakan tiga variabel yang terdiri dari dua variabel bebas (independen) dan satu variabel tergantung (dependen). Dua variabel bebas tersebut adalah intensitas belajar dan jenis kelamin, sedangkan satu variabel tergantung adalah prestasi belajar. Karena penelitian ini menggunakan annava vaktorial, maka penelitian ini menggunakan dua faktor, yaitu faktor A yang menggambarkan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) dan faktor B yang menggambarkan intensitas belajar (tinggi dan rendah). Sedangkan faktor tergantung dilambangkan dengan Y menggambarkan prestasi belajar. 3. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan angket sebagai instrumen angket sebagai pengumpul datanya. Angket berupa pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban tertutup yang terbentang dalam lima kategori (skala likert). Jumlah pertanyaan untuk jenis kelamin sebanyak 10 (sepuluh) butir, untuk intensitas belajar 10 (sepuluh) butir, dan untuk prestasi belajar 5 (lima) butir. 4. Teknik Analisa Data Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, yakni rata-rata (mean) dan simpang baku, dan uji hipotesis melalui analisis varial dua jalur (anava faktorial). Teknik ini akan berusaha menggambarkan hubungan ketiga variabel yang ada secara lebih tepat.

E. HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa prestasi belajar siswa yang tinggi merupakan salah satu tujuan yang diinginkan setiap instansi sekolah. Ada banyak faktor yang mempengaruhi siswa untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik. Dan penelitian akan melihat sejauh mana pengaruh jenis kelamin dan intensitas belajar pada prestasi belajar. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Intensitas Belajar Untuk intensitas belajar, penelitian ini mendapatkan data dari responden dalam bentuk beragam. Sebagian di antara siswa laki-laki memiliki intensitas belajar yang tinggi dan sebagian lain memiliki intensitas belajar yang rendah. Begitu pula dengan siswa perempuan. Sebagian dari mereka memiliki intensitas belajar yang tinggi dan sebagian yang lain memiliki intensitas belajar yang rendah. 2. Jenis Kelamin Untuk jenis kelamin, penelitian ini juga mendapatkan data dari responden dalam bentuk beragam. Siswa berjenis kelamin laki-laki memiliki prestasi belajar yang beragama, diantara mereka ada yang memiliki prestasi belajar yang tinggi dan ada yang memiliki prestasi belajar yang rendah. Begitu pula dengan siswa dengan jenis kelamin perempuan. Diantara mereka ada yang memiliki prestasi belajar yang tinggi dan ada yang memiliki prestasi belajar yang rendah. 3. Prestasi Belajar Prestasi belajar yang diukur dari nilai akhir semester siswa yang merupakan gabungan antara nilai tes harian, nilai tes tengah semester dan tes akhir semester menunujukkan hasil yang beragam. Hasil tersebut membentang antara 3 sampai 9. Artinya nilai akhir semester siswa terendah adalah 3, sedangkan nilai akhir semester siswa tertinggi adalah 9.

4. Mean dan simpang baku skor prestasi belajar.

Setelah dilakukan sejumlah tahap penelitian, maka tahap berikutnya adalah anailisis hasil penelitian. Analisis pertama dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yang menggunakan ukuran rata-rata (mean) dan simpang baku. Hasil analisis deskriptif adalah bahwa rata-rata prestasi belajar responden secara keseluruhan adalah 6,08. Adapun simpang baku seluruh responden adalah 0,79. Rata rata bagi kelompok siswa dengan jenis kelamin laki-laki dan intensitas belajar tinggi adalah 7,53 dengan simpang baku 0,83. Rata-rata bagi kelompok siswa dengan jenis kelamin laki-laki dan intensitas belajar rendah adalah 5,00 dengan simpang baku 1,20. Rata-rata bagi kelompok siswa dengan jenis kelamin perempuan dan intensitas belajar tinggi adalah 7,47 sedangkan simpang bakunya 0,83. Rata-rata bagi kelompok siswa dengan jenis kelamin perempuan dan intensitas belajar tinggi adalah 4,33 sedangkan simpang bakunya 0,90. Adapun rata-rata bagi kelompok siswa dengan jenis kelamin laki-laki adalah 6,27 dengan simpang baku 1,64. Sedangkan rata-rata bagi kelompok siswa dengan jenis kelamin perempuan adalah 5,90 dengan simpang baku 1,81. Rata-rata bagi kelompok siswa dengan intensitas belajar tinggi adalah 7,50 sedangkan simpang bakunya 0,82. Rata-rata bagi kelompok siswa dengan intensitas belajar rendah adalah 4,67 sedangkan simpang bakunya 1,09. Dari data tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan; pertama, bahwa siswa dengan jenis kelamin laki-laki (6,27) memiliki prestasi belajar yang lebih baik dari mereka yang berjenis kelamin perempuan (5,90), akan tetapi perbedaannya ternyata tidak begitu signifikan, yaitu hanya 0,37. Dan ini belum bisa menjadi ukuran bahwa siswa dengan jenis kelamin laki-laki pasti memiliki prestasi yang lebih baik dari mereka yang berjenis kelamin perempuan. Kedua, siswa dengan intensitas belajar tinggi (7,50) memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi dari mereka yang intensitas belajarnya rendah (4,67), dan perbedaan di antara keduanya adalah 2,83. Dari data tersebut, dapat dikatakan bahwa intensitas belajar mempunyai pengaruh yang cukup signifikan pada prestasi belajar siswa. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah Tabel Mean dan Simpang Baku serta Analisis Variannya:

Tabel 3. Mean dan Simpang Baku

 

Dari ringkasan hasil penelitian di atas, dapat dilihat bahwa: 1. Jenis kelamin laki-laki tidak dengan sendirinya menghasilkan prestasi belajar yang tinggi dan jenis kelamin perempuan tidak dengan sendirinya menghasilkan prestasi belajar yang rendah. Tidak ada pengaruh yang signifikan antara prestasi belajar dengan jenis kelamin, sehingga ada faktor lain yang lebih dominan yang menentukan prestasi belajar siswa. 2. Intensitas belajar memiliki pengaruh yang signifikas pada prestasi belajar. Siswa dengan intensitas belajar yang tinggi memiliki prestasi yang lebih baik dari siswa yang intensitas belajarnya rendah. 3. Tidak ada interaksi antara jenis kelamin dengan intensitas belajar. F. KESIMPULAN

1. Jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa 2. Intensitas belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. 3. Tidak ada pengaruh interaksi antara jenis kelamin dan intensitas belajar terhadap prestasi siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa, E. 2004, Implementasi Kurikulum 2004 (Panduan Pembelajaran KBK), Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Poerwodarminto, WJS, 1988, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

Sudjana, Nana, 2005, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Suryabrata, 1977, Proses Pengajaran, Yogyakarta, Amarta. Winkel, W. S. 1991, Psikologi Pengajaran, Jakarta, Grasindo.

 

NB: Mohon Maaf, belum bisa memasukkan tabelnya secara baik di blogg

4 Comments

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s