Memulai Kuliah


Semester baru bukan saja menjadi sarana bagi mahasiswa untuk berjuang dalam menuntut ilmu,  akan tetapi juga sarana bagi dosen untuk kembali memikirkan metode pengajaran yang tepat untuk menyampaikan ilmu atau menyertai dan menfasilitasi mahasiswa dalam menuntut ilmu.
Sebuah tujuan yang baik tentu tidak akan dicapai dengan baik tanpa permulaan baik dan dengan proses yang baik pula.
Salah satu agenda tahunan yang dilakukan untuk memulai perkuliahan dengan baik adalah Studium General atau Kuliah Umum. Ini adalah salah satu cara untuk menyamakan persepsi para mahasiswa baru tentang arah dan tujuan perkuliahan mereka,  memberikan motivasi mereka akan pilihan mereka di fakultas itu dsb.
Bagi sebagian dosen,  pemateri di kuliah umum bisa menjadi salah satu kaca,  sejauh manakah posisi ilmiah kita, seberapa banyak kuantitas dan kualitas karya kita dan kiprah kita.
Saya sering merasa malu jika ada dosen tamu atau pemateri yang seusia saya tapi bisa menghasilkan karya dan kiprah yang jauh lebih baik dari saya. Seolah ada terlalu banyak halangan, kendala,  dan alasan yang membuat saya tidak berkarya. Setidaknya,  mereka telah mengingatkan saya akan hal ini.

Kriteria Imkan Ar-ru’yah Badan Hisab Rukyat (BHR) dan Persatuan Islam (Persis)



oleh: Maulina Nuril Izzati

maulina.nuril@yahoo.com

Pembimbing: Muh. Nashirudin

Abstrak

Penentuan awal bulan Kamariah menjadi permasalahan yang dihadapi umat muslim setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan belum ditemukannya kesepakatan  Sebagai contoh, Badan Hisab Rukyat (BHR) dan Persatuan Islam (Persis. Keduanya menggunakan imkan ar-ru’yah sebagai dasar penentuan awal bulan Kamariah, namun kriteria yang dipakai Badan Hisab Rukyat (BHR) berbeda dengan yang diterapkan Persatuan Islam (Persis). BHR dengan kriteria MABIMS yaitu tinggi hilal minimal 2 °, dan jarak sudut matahari dan bulan 3°, atau umur bulan minimal 8 jam, namun kriteria MABIMS ini berdasar pada data sederhana yang belum memenuhi ketentuan astronomi.

Kemudian Persis, setelah beberapa kali mengganti kriterianya, yang terbaru adalah diterapkannya kriteria T. Djamaluddin yang merupakan penyempurnaan dari kriteria LAPAN sebelumnya yaitu, beda tinggi antara bulan dan matahari 4°, jarak sudut antara bulan dan matahari 6.4°. Kriteria ini penemuan terbaru T. Djamaluddin yang didasarkan pada data-data astronomi dan penelitian ilmuan di berbagai belahan dunia.

Analisis komparatif dari data ini menunjukkan bahwa perlu adanya perbaikan kriteria MABIMS yang dipakai BHR, karena belum memenuhi ketentuan astronomi. Jika dibandingkan dengan kriteria terbaru T. Djamaluddin yang dipakai Persis, maka kriteria ini lebih baik dengan adanya dukungan data-data yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

  1. PENDAHULUAN

Pada zamannya, Nabi saw dan para sahabat menentukan masuknya bulan baru kamariah,[1]  menggunakan rukyat seperti yang  tercantum pada hadis. Praktek dan perintah Nabi saw untuk melakukan rukyat pada masa itu disertai dengan ‘illat (kuasa hukum), dapat dipahami keadaan umat pada waktu itu yang masih ummi[2] yaitu keadaan yang belum menguasai baca tulis dan ilmu hisab (astronomis). Seiring perkembangan zaman masyarakat mengenal metode lain seperti metode hisab.[3]

Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini adalah Kementrian Agama melalui BHR, menggunakan hisab dan imkan ar-ru’yah  (perhitungan dan kemungkinan hilal itu bisa dilihat). Jadi hisab tetap dipakai, tetapi mempertimbangkan data-data kenampakan hilal yang dihimpun dan ditetapkan kriterianya. Hisab diperlukan karena untuk melaksanakan perintah rukyat, para ulama melakukan hisab terlebih dahulu, untuk mengetahui seberapa tinggi hilal pada saat ijtima’  (konjungsi).[4]

Hanya saja kriteria imkan ar-ru’yah belum ada kesepakatan. Kriteria imkan ar-ru’yah ini merupakan kriteria dalam penentuan awal bulan Kamariah, yang  posisinya menjembatani antara hisab dan rukyat. Kriteria ini dipakai oleh pemerintah dalam menentukan awal bulan Kamariah dan muncul dalam penanggalan Hijriah standar yang ditetapkan, berdasarkan Musyawarah Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).[5] Di sisi lain, Persatuan Islam (Persis) juga menggunakan imkan ar-ru’yah dalam penentuan awal bulan Kamariah, setelah sebelumnya Persis memakai kriteria wujudul hilal.

Pemerintah (BHR) lebih menganalisa data-data yang masih sederhana,[6] yang secara ilmiah masih dianggap sebagai analisis yang  relatif benar. Namun berdasarkan data rukyat Kementrian Agama RI selama 30 tahun lebih banyak terdapat laporan kenampakan hilal yang masih tidak memenuhi syarat visibilitas serta kajian ilmiah.

Jika dikaji lebih lanjut teks Al Quran maupun Hadis Rasulullah yang dijadikan dasar penentuan awal bulan Kamariah, terlihat bahwa antara rukyat dan hisab tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan sinergi yang positif untuk keberhasilan dalam menentukan  awal bulan.  Seperti yang terjadi pada tahun 2006, karena perbedaan metode yang dipakai ini menyebabkan adanya perbedaan hasil dalam penentuan kapan awal dan berakhirnya Ramadan. Pemerintah dan NU yang mempunyai pengikut terbesar di Indonesia pada waktu itu belum menentukan kapan jatuhnya tanggal 1 Syawal 1427 H. Sementara Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) menetapkan Idul Fitri 1427 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober. Hal itu didasarkan pada pehitungan Dewan Hisab dan Rukyat yang menyatakan kondisi hilal (tanda pergantian bulan) bisa dilihat bila tinggi hilal mencapai 2 derajat.

Berdasar pada perhitungan Dewan Hisab dan Rukyat, Persis menetapkan Idul Fitri jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober 2006. Alasannya, ijtima’ akhir Ramadan terjadi pada hari Ahad pukul 12.14 WIB, tinggi hilal waktu magrib di Pelabuhan Ratu 0 derajat 45 menit 25 detik. Kondisi ini termasuk “adamu imkan al-ru’yah”. Hilal sudah wujud di sebagian wilayah Indonesia dengan kondisi tidak mungkin di rukyat. Kondisi ini dinilai gumma (terhalang) oleh Drs. H. Dody S Truna M.A, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Persis.[7] Penyebab terhalangnya hilal, kata Dody, bisa karena awan, hujan, atau karena tinggi hilal belum mencapai 2 derajat. Atas keputusan itu Pimpinan Pusat Persis mengintruksikan kepada seluruh pimpinan wilayah, pimpinan daerah, pimpinan cabang Persis untuk melaksanakan Idul Fitri 1427 H pada hari selasa, 24 Oktober 2006.

Yang terbaru dalam Almanak Islam Persatuan Islam, melalui hisab telah ditetapkan ijtima’ akhir Syaban 1434 H pada hari senin 8 Juli 2013, pukul 14.14. Di pelabuhan Ratu tinggi hilal waktu maghrib 0°45’58’’ dan jarak sudut bulan 4°34’24’’.  Senin, saat maghrib di wilayah Indonesia hilal belum imkan ar-ru’yah maka bulan Syaban digenapkan 30 hari, maka 1 Ramadan ditetapkan 10 Juli 2013. Namun Pemerintah belum mengumumkan jatuhnya Ramadan, dan menunggu sidang isbat.

Berdasarkan persoalan diatas, disamping implikasi perbedaan penentuan terhadap masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya, maka penulis merasa tertarik untuk mengkaji kriteria imkan ar-ru’yah  menurut Badan Hisab Rukyat (BHR) dan  Persatuan Islam (Persis) dalam penentuan awal bulan Kamariah, serta alasan pemilihan kriteria keduanya. Baca lebih lanjut

Hati dan Kemarahan


Beberapa waktu lalu saya membaca status yang menarik mengenai mengapa dua orang yang sedang marah mengeraskan suaranya. Kedua orang yang sedang marah,  hatinya akan saling menjauh,  jadi ia perlu mengeraskan suaranya supaya apa yang diinginkannya dapat sampai ke orang yang diajak berkomunikasi. Semakin marah,  semakin jauh kedua hati itu,  dan butuh suara yang lebih keras untuk menyampaikan pesan satu ke yang lain.
Sebaliknya,  orang yang saling mencintai hatinya saling mendekat, sehingga bisikan lembut pun sudah bisa menyampaikan pesan. Bahkan terkadang orang yang saling mencintai tidak perlu kata-kata karena hati mereka sudah saling berbicara tanpa perlu suara.
Jadi,  jika seseorang sedang marah ke orang lain jangan sampai terlalu mengeraskan suara, karena hal itu akan semakin menjauhkan hatinya. Jika itu tetap terjadi,  bisa saja kedua hati itu akan semakin jauh dan tidak tahu lagi jalan untuk kembali.
Saat ini, suara keras mungkin terwakili oleh kalimat atau tulisan kasar.
Benarlah pesan Rasulullah: Jangan marah… jangan marah… jangan marah.
2 agustus 2014

Bezuk


Saat saya bezuk orang sakit,  saya gunakan kesempatan itu untuk mendo’akan yang sakit,  menyambung silaturrahmi dan sekaligus sarana koreksi diri.
Orang yang selalu kenyang,  tidak akan pernah merasakan betapa nikmatnya kenyang sampai ia pernah merasakan lapar. Saya jadi teringat kisah Nasrudin Khouja (jangan salah sebut nama,  hati-hati ejaannya ya…hehe) yang diminta mengobati Sang Sultan yang tidak pernah merasakan nikmat saat makan. Sang Sultan sangat heran dan sangat ingin biasa merasakan nikmatnya makan sebagaimana yang dilihatnya saat Nasrudin makan dengan sangat nikmat dan lahap. Singkatnya,  Nasrudin menjadikan sang Sultan kelelahan dan kelaparan,  saat itulah Nasrudin mengajak Sang Sultan makan,  dan saat itu pulalah Sang Sultan merasakan betapa nikmatnya ia makan. Ia bisa merasakan nikmatnya kenyang setelah ia lapar.
Begitu pula orang yang sehat, ia mungkin kurang bisa merasakan begitu nikmatnya sehat, jika ia belum merasakan sakit. Saking tidak perdulinya dengan sehat,  beberapa orang mengkonsumsi barang yang jelas bertentangan dengan kesehatannya,semisal minuman keras,  atau r*k**. Beberapa diantaranya ada yang menerapkan pola hidup yang tidak sehat yang jelas membahayakan kesehatannya. Biasanya,  pola hidup tidak sehat ini baru terasa akibatnya setelah benar-benar merasakan sakit.
Menjenguk orang sakit, sering mengingatkan kita akan hal itu,  tapi jarang yang segera menyadarinya, hampir mirip dengan itu adalah menziarahi makam,  mensholatkan, menguburkan jenazah,  seharusnya mengingatkan kita akan kematian,  tapi banyak yang saat takziyah, menguburkan mayit atau mengiringi jenazah malah tertawa-tawa dan lupa akan kematian,  lupa akan bekal untuk menyambutnya.

30 Agustus 2014

Beda Perspektif


Persoalan atau barang yang sama,  bisa beda cara orang dalam mensikapinya,  tergantung pada perspektif masing-masing. Bahkan persoalan yang sama bisa jadi disikapi berbeda oleh orang yang sama di saat yang berbeda karena dia mengalami perubahan cara pandang atau perspektifnya.
Hamil adalah sebuah peristiwa yang orang bisa mensikapinya secara berbeda. Bagi yang sudah lama menikah dan belum dikaruniai keturunan, maka hamil adalah peristiwa yang sangat ditunggu-tunggu, sangat membahagiakan dan anugerah yang luar biasa. Tapi,  bagi sebagian yang lain hamil bisa jadi disikapi sebagai aib atau beban karena merupakan kehamilan akibat perzinahan,  sebagian yang lain menganggapnya sebagai kehamilan yang disesali karena sudah tidak ingin hamil lagi atau alasan lain. Bahkan orang yang awalnya sangat bersyukur atas sebuah kehamilan bisa sangat tidak menginginkannya di saat yang lain. Ini karena perspektif yang dibangunnya memang telah berubah.
Ini juga yang terjadi dengan sikap sebuah atau beberapa partai atas isu kenaikan harga BBM. Kenaikan harga BBM bisa saja ditentang habis-habisan oleh sebuah partai di suatu waktu, akan tetapi bisa menjadi sangat didukung,  meminta rakyat memakluminya di saat yang lain, bahkan mengecam para penentang kenaikan harga BBM. Sebaliknya,  suatu partai bisa saja menjadi pengusul kenaikan harga BBM di satu waktu,  tapi menjadi penentangnya di saat yang lain. Itu karena perspektif yang dibawa partai-partai tersebut berubah dan berbeda,  atau mungkin berubah dan berbeda kepentingannya.
Rakyat yang harus melihat persekongkolan dan pemaksaan kepentingan politisi partai atas nama rakyat. Sungguh menyedihkan.
Boyolali,  28 Agustus 2014

MANAJEMEN REKRUTMEN GURU Di SMA ISLAM TERPADU NUR HIDAYAH SURAKARTA KECAMATAN KARTASURA KABUPATEN SUKOHARJO


SUPRIADI
NIM. 12. 403.1.043

Abstrak
Rekrutmen guru merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan suatu lembaga pendidikan.Rekrutmen yang dilakukan tidak hanya sekedar mengisi kekosongan pegawai atau sekedar mendapatkan guru, tetapi rekrutmen diharapkan bisa mendapatkan guru berdedikasi dibidangnya, sehingga dapat meningkatkan mutu.pendidikan sekolah tersebut. Guru yang berkualitas bisa diperolch melalui proses rekrutmen yang baik. Dalam kondisi tersebut tim rekrutmen di SMAIT Nur Hidayah Surakarta. Kecarnatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo berusaha untuk menghasilkan guru yang berkualitas bagus.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan manajemen rekrutmen guru di SMAIT Nur Hidayah Surakarta Kecarnatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo yang menghasilkan guru berkualitas bagus.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.Pelaksanaan penelitian selama 4 bulan dimulai dari bulan Januari sampai April tahun 2014.Tempat penelitian di sekolah SMAIT Nur Hidayah Surakarta. Subjek penelitian adalah tim rekrutmen, diantaranya ketua rekrutmen, wakil ketua rekrutmen, dan penguji calon guru baru Sedangkan informan penelitian ini adalah ketua yayasan, kepala sekolah, guru, dan pegawai administrasi. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.Sedangkan teknik keabsahan data menggunakan triangulasi metode dan sumber. Teknik analisa data menggunakan model interaktif terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi.
Hasil penelitian ini diketahui bahwa manajemen rekrutmen guru baru di SMA Islam Terpadu Nur Hidayah Surakarta Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo dapat menghasilkan guru yang berkualitas bagus. Tujuan rekrutmen dapat tercapai karena manajemen rekrutmen guru berjalan dengan baik yang terdiri dari: a) perencanaan rekrutmen guru baru dengan cara menganalisis kebutuhan guru; b) pengorganisasian yang dilakukan dengan cara pembentukan tim khusus dalam rekrutmen guru baru; c) pelaksanaan rekrutmen yang meliputi kegiatan sosialisasi pengumuman penerimaan guru baru, seleksi administrasi, tes tertulis, tes wawancara, tes membaca serta hafalan Ai-Qur’an, dan tes microteaching. d) pengawasan terhadap tim rekrutmen dilakukan oleh pihak yayasan dan kepala sekolah SMAIT Nur Hidayah dalam pelaksanaan rekrutmen guru baru. Manajemen rekrutmen guru yang dilaksanakan oleh pihak sekolah sudah efektif. Dalam hal ini dapat dilihat dari kegiatan proses rekrutmen guru baru yang dilakukan tim rekrutmen secara selektif dan sistematis sehingga menghasilkan guru yang berkualitas.
Kata kunci: Manajemen, pelaksanaan rekrutmen, guru.

MENAHAN DIRI SAAT RAMADHAN TIBA


Ramadhan sebentar lagi tiba. Dan umat islam akan memasuki bulan yang dipenuhi dengan keberkahan untuk berlomba dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya agar menjadi manusia-manusia yang bertaqwa. Puasa secara bahasa adalah menahan diri. Selama ini, banyak yang sekedar menjalankan puasa dalam pengertian fikihnya, yakni menahan diri dari segala yang membatalkannya (makan, minum, seks) dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Bukan berarti bahwa hal tersebut salah, hanya saja, menjalankan puasa dengan berhenti pada pengertian fikihnya saja, menjadikan muatan dan makna puasa tidak maksimal atau tidak sempurna. Bahkan Rasulullah mengatakan bahwa orang yang seperti itu hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga dalam puasanya. Puasa seharusnya memiliki muatan spiritual yang lebih dalam lagi, diantaranya adalah menahan nafsu dan diri dari segala yang membatalkan pahala puasa dan mengurangi kesempurnaannya. Di tahun ini ada dua persoalan yang mungkin perlu disikapi dengan lebih baik dengan menjadikan bulan Ramadhan sebagai titik tolaknya. Pertama adalah adanya kemungkinan perbedaan dalam mengawali puasa. Umat Islam di Indonesia memang telah beberapa kali mengalami perbedaan dalam mengawali bulan hijriah, terutama Ramadhan, Syawal maupun Dzulhijjah. Untuk tahun ini, perbedaan kemungkinan akan terjadi dalam mengawali puasa. Ormas Islam yang menggunakan wujudul hilal sebagai kriteria masuknya bulan baru hijriah, seperti Muhammadiyah telah menetapkan awal bulan Ramadhan pada hari sabtu, 28 Juni 2014 karena konjungsi terjadi pada jam 15.09 WIB tanggal 27 Juni 2014, dan posisi hilal saat terbenam matahari berada pada kisaran 0.30 derajat di atas ufuk. Artinya, secara teoritis, hilal sudah wujud sehingga hari setelahnya sudah memasuki bulan baru hijriah. Sedangkan ormas Islam yang menggunakan rukyah (termatinya hilal) atau imkanurrukyah (kemungkinan teramatinya hilal) sebagai kriteria masuknya awal bulan hijriah, termasuk pemerintah, memulai Ramadhan pada hari Ahad tanggal 29 Juni 2014 karena hilal tidak mungkin teramati atau dibawah kriteria minimum kemungkinan teramatinya hilal di tanggal 27 Juni 2014. Para pakar astronomi dan ilmu falak Indonesia sudah beberapa kali bahkan sering melakukan kajian, penelitian, dan pertemuan tentang upaya menghilangkan atau meminimalisir kemungkinan perbedaan umat Islam dalam memulai bulan baru hijriah terutama bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Hanya saja, sampai saat ini, penyatuan tersebut memang masih berupa wacana dan usulan. Dan inilah saatnya, Ramadhan dalam arti menahan diri dijadikan momentum oleh ormas dan masyarakat untuk menahan diri dari “menjelekkan”, “merendahkan” ormas dan masyarakat lain karena berbeda dalam memulai Ramadhan. Klaim kebenaran pada diri sendiri dan menghakimi pihak lain dengan kesalahan tidak lain adalah “kesombongan” yang tidak saja mengurangi kesempurnaan puasa, akan tetapi dapat menghilangkan dan menghanguskan pahala puasa. Sudah saatnya kita mengembangkan sikap toleran dengan menahan lidah kita dari mengucapkan dan menahan tangan kita dari menuliskan sesuatu yang dapat menyakiti pihak lain berkaitan dengan persoalan perbedaan awal bulan hijriah yang memang masih merupakan lahan ijtihad. Dalam hal ini,paling tidak ada du hal yang penulis ajukan sebagai solusinya; Pertama, penyatuan kriteria. Selama ini, paling tidak ada tiga kriteria yang seolah selalu mengalami benturan dalam menentukan pergantian bulan baru hijriah, yaitu wujudul hilal, rukyah dan imkanurrukyah (2 derajat). Imkanurrukyah yang dipakai oleh Kemenag selama ini pada dasarnya dianggap sebagi jalan tengah untuk mempersatukan antara hisab wujudul hilal dan rukyah, akan tetapi ketinggian (irtifa’/altitude) hilal 2 derajat dianggap masih jauh dari batas minimal dapat dilihatnya hilal dalam dunia astronomi. Oleh karena itu, beberapa kajian terbaru berusaha untuk memperbaiki kriteria tersebut seperti kriteria visibilitas hilal tawaran dari LAPAN atau kriteria visibilitas hilal tawaran Rukyatul Hilal Indonesia (RHI). Opsi kedua yang bisa ditawarkan adalah penyatuan kalender hijriah. Penyatuan kalender yang bersifat nasional menjadi salah satu proyek yang sangat penting agar perbedaan dalam mengawali bulan hijriah tidak terus terjadi. Hal kedua yang perlu disikapi di bulan Ramadhann ini adalah akan adanya gawe besar bangsa Indonesia, yakni pilihan presiden dan wakil presiden. Jatuhnya pilihan presiden dan wakil presiden di bulan Ramadhan, semoga saja menjadi salah satu pertanda baik, bahwa siapapun yang terpilih nantinya akan membawa kebaikan dan keberkahan sebagaimana kebaikan dan keberkahan yang dibawa oleh bulan Ramadhan. Ramadhan juga seharusnya menjadi momentus bagi capres dan cawapres, dan terutama para pendukung dan simpatisannya untuk menahan diri. Masing-masing harus menahan diri dari kampanye hitam, mengumbar fitnah, dan juga janji palsu yang tentunya bertentangan dengan hakikat puasa. Puasa di tahun ini harus memiliki makna yang lebih dalam dan memiliki dampak yang nyata ke perilaku. Jika masing-masing pihak tidak dapat menahan dirinya dari merendahkan pihak lain, menjelekkan pihak lain, memfitnah pihak lain, maka tentu benar apa yang disabdakan Rasulullah bahwa Allah sama sekali tidak butuh darinya untuk meninggalkan makan dan minum.

Surakarta, 28 Juni 2014