Imajinasi


Penulisan cerita fiksi jelas berbeda dengan penulisan karya ilmiah apalagi akademis. Akan tetapi,  pada kondisi tertentu penulisan ilmiah dan akademis pun melibatkan hal-hal yang “fiktif” imajinatif. Pada persoalan astronomis,  sering sekali imajinasi memerankan peranan yang sangat besar. Bahkan, banyak rumus-rumus astronomis itu didasarkan pada hal-hal yang imajiner. Titik zenit dan  nadir pada bola langit, bahkan bola langit itu sendiri adalah wilayah yang memang imajiner.
Ketika orang ribut mengenai matla’, garis batas permulaan hari baik dalam kalender qamariyah maupun syamsiyah,  garis batas tanggai ternasional,  semuanya juga hanya imajinasi.
Hanya saja, imajinasi tersebut bila didukung oleh perhitungan matematis, didukung penalaran yang rasional,  ditambahkan dengan dalil-dalil ilmiah dan ternyata bisa diaplikasikan untuk persoalan-persoala  yang kongkrit dan riil,  semuanya akan menjadi sangat ilmiah dan akademis.
Jadi, jangan takut berimajinasi (nyambung ga ya…?)
Andong,  10 oktober 2014

Puasa Arafah


Hari ini,  Jum’at, 3 Oktober 2014 adalah hari berkumpulnya jama’ah haji di Padang Arafah yang dinamakan dengan wukuf. Wukuf dikatakan sebagai inti dari ibadah haji karena Rasulullah mengatakan bahwa Haji adalah Wukuf di Arafah. Wukuf Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah,  bulan ke 12 dalam kalender hijriah.
Salah satu persoalan yang hampir selalu terjadi dan selalu berulang adalah persoalan pelaksanaan kesunnahan puasa Arafah, apakah harus dilakukan bersamaan dengan wukufnya jama’ah haji di Arafah ataukah tidak.
Pendapat pertama menyatakan bahwa puasa Arafah harus dilakukan pada hari dilaksanakannya Wukuf,  sehingga penetapan awal Dzulhijjah dimanapun seharusnya mengikuti penetapan awal Dzulhijjah di Arab Saudi supaya pelaksanaan puasa Arafahnya sesuai dengan dilaksanakannya wukuf oleh para jama’ah haji.
Pendapat kedua menyatakan bahwa puasa Arafah tidak harus dikaitkan dengan pelaksanaan wukuf di Arafah. Puasa Arafah dilakukan di tangga9 Dzulhijjah. Karena tanggal 1 Dzulhijjah bisa ditetapkan secara berbeda di setiap negara atau wilayah sesuai penetapan awal bulan hijriah di bulan lain, maka puasa Arafah bisa saja tidak bersamaan dengan pelaksanaan wukuf atau di hari dilaksanakannya wukuf. Apalagi,  Arab Saudi sering menetapkan awal bulan hijriah berdasarkan laporan kenampakan hilal yang sulit diterima dan dipertanggungjawabkan secara astronomis.
Persoalan seperti ini akan terus terjadi selama belum ada kalender hijriah yang disepakati secara Internasional. Pertanyaan yang terkadang muncul adalah apakah memang kita dituntut dan diharuskan menyamakan kalender atau menyamakan hari raya? Jika memang diharuskan atau dituntut,  kalender seperti apa yang harus kita sepakati? itulah yang menjadi kerja berat para ulama dan pakar astronomi Islam sampak saat ini. Sudah banyak tawaran solusi atas hal ini,  akan tetapi belum juga ada kesepakatan atas satu solusi sehingga hampir dapat dipastikan beberapa tahun ke depan persoalan ini akan tetap ada.

Universitas Teknologi Malaysia


Universitas Teknologi Malaysia merupakan salah satu universitas terbesar di Malaysia yang berada di Johor Bahru. Luas tanahnya sekitar1300 hektar. Saat salah seorang Guru Besar UTM mengajak saya melihat-lihat berbagai fasilitas yang ada di sana dengan mobilnya,  mulai tempat perkuliahan,  laboratorium,  pusat studi, sampai asrama mahasiswa, waktu 30 menitpun serasa tidak mencukupi walaupun baru sebagiannya.
Banyak hal yang tersimpan di pikiran ini untuk sekedar menuangkannya dalam beberapa goresan di blogg ini,  dan itupun baru secuil informasi yang tentu masih sangat minim.
Tentu tidak akan dijumpai adanya kekurangan kelas atau sarana di UTM karena daya tampung mahasiswa yang melebihi kapasitas lokal yang tersedia di universitas. Setiap mahasiswa di Malaysia akan disebar secara “merata” ke berbagai universitas yang ada,  sehingga tidak ada universitas yang “mati” karena tanpa peminat, ataupun “kelebihan” mahasiswa sehingga mereka tidak mendapatkan pelayanan yang layak di perkuliahan.
Ada bus yang lewat setiap 20 menit untuk mengangkut mahasiswa dari asrama ke fakultas manapun yang mereka tuju. Jika pandai mengatur waktu,  tidak dibutuhkam motor ataupun mobil agar sampai di fakultas dengan tepat waktu. Tidak terlihat adanya lalu lalang sepeda motor, atau penuh sesaknya halaman kampus dengan mobil dan motor yang terparkir sembarangan.
Dorongan pemerintah Malaysia terhadap masyarakatnya untuk dapat mengenyam pendidikan di perkuliahan juga sangat besar,  diantaranya adalah dengan memberikan pinjaman kepada setiap mahasiswa untuk pembiayaan kuliah yang akan mereka kembalikan saat mereka lulus dan mendapatkan pekerjaan.
Karena universitas ini memang bukan ditujukan sebagai fakultas keagamaan,  maka tidak ada jurusan keagamaan di sini,  terutama di tingkat sarjana (S1). Di Pascasarjana,  baru ada fakultas Tamaddun Islam (Kebudayaan Islam) yang ditujukan untuk mensintesakan antara Islam dengan Sains dalam pengajarannya. Oleh karena itu,  kajian di tesis atau disertasi mengupas persoalan ekonomi,  politik,  atau persoalan sains dan humaniora dan persentuhannya dengan ajaran Islam, misalnya,  yang saya sempat membacanya adalah tesis tentang prinsip-prinsip ekonomi dalam ajaran tasawuf al-Ghazali.
Dosen apalagi profesor di sini mendapatkan gaji yang sangat memadai,  tiga kali lipat gaji dosen atau profesor di Indonesia.

Memulai Kuliah


Semester baru bukan saja menjadi sarana bagi mahasiswa untuk berjuang dalam menuntut ilmu,  akan tetapi juga sarana bagi dosen untuk kembali memikirkan metode pengajaran yang tepat untuk menyampaikan ilmu atau menyertai dan menfasilitasi mahasiswa dalam menuntut ilmu.
Sebuah tujuan yang baik tentu tidak akan dicapai dengan baik tanpa permulaan baik dan dengan proses yang baik pula.
Salah satu agenda tahunan yang dilakukan untuk memulai perkuliahan dengan baik adalah Studium General atau Kuliah Umum. Ini adalah salah satu cara untuk menyamakan persepsi para mahasiswa baru tentang arah dan tujuan perkuliahan mereka,  memberikan motivasi mereka akan pilihan mereka di fakultas itu dsb.
Bagi sebagian dosen,  pemateri di kuliah umum bisa menjadi salah satu kaca,  sejauh manakah posisi ilmiah kita, seberapa banyak kuantitas dan kualitas karya kita dan kiprah kita.
Saya sering merasa malu jika ada dosen tamu atau pemateri yang seusia saya tapi bisa menghasilkan karya dan kiprah yang jauh lebih baik dari saya. Seolah ada terlalu banyak halangan, kendala,  dan alasan yang membuat saya tidak berkarya. Setidaknya,  mereka telah mengingatkan saya akan hal ini.

Kriteria Imkan Ar-ru’yah Badan Hisab Rukyat (BHR) dan Persatuan Islam (Persis)



oleh: Maulina Nuril Izzati

maulina.nuril@yahoo.com

Pembimbing: Muh. Nashirudin

Abstrak

Penentuan awal bulan Kamariah menjadi permasalahan yang dihadapi umat muslim setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan belum ditemukannya kesepakatan  Sebagai contoh, Badan Hisab Rukyat (BHR) dan Persatuan Islam (Persis. Keduanya menggunakan imkan ar-ru’yah sebagai dasar penentuan awal bulan Kamariah, namun kriteria yang dipakai Badan Hisab Rukyat (BHR) berbeda dengan yang diterapkan Persatuan Islam (Persis). BHR dengan kriteria MABIMS yaitu tinggi hilal minimal 2 °, dan jarak sudut matahari dan bulan 3°, atau umur bulan minimal 8 jam, namun kriteria MABIMS ini berdasar pada data sederhana yang belum memenuhi ketentuan astronomi.

Kemudian Persis, setelah beberapa kali mengganti kriterianya, yang terbaru adalah diterapkannya kriteria T. Djamaluddin yang merupakan penyempurnaan dari kriteria LAPAN sebelumnya yaitu, beda tinggi antara bulan dan matahari 4°, jarak sudut antara bulan dan matahari 6.4°. Kriteria ini penemuan terbaru T. Djamaluddin yang didasarkan pada data-data astronomi dan penelitian ilmuan di berbagai belahan dunia.

Analisis komparatif dari data ini menunjukkan bahwa perlu adanya perbaikan kriteria MABIMS yang dipakai BHR, karena belum memenuhi ketentuan astronomi. Jika dibandingkan dengan kriteria terbaru T. Djamaluddin yang dipakai Persis, maka kriteria ini lebih baik dengan adanya dukungan data-data yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

  1. PENDAHULUAN

Pada zamannya, Nabi saw dan para sahabat menentukan masuknya bulan baru kamariah,[1]  menggunakan rukyat seperti yang  tercantum pada hadis. Praktek dan perintah Nabi saw untuk melakukan rukyat pada masa itu disertai dengan ‘illat (kuasa hukum), dapat dipahami keadaan umat pada waktu itu yang masih ummi[2] yaitu keadaan yang belum menguasai baca tulis dan ilmu hisab (astronomis). Seiring perkembangan zaman masyarakat mengenal metode lain seperti metode hisab.[3]

Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini adalah Kementrian Agama melalui BHR, menggunakan hisab dan imkan ar-ru’yah  (perhitungan dan kemungkinan hilal itu bisa dilihat). Jadi hisab tetap dipakai, tetapi mempertimbangkan data-data kenampakan hilal yang dihimpun dan ditetapkan kriterianya. Hisab diperlukan karena untuk melaksanakan perintah rukyat, para ulama melakukan hisab terlebih dahulu, untuk mengetahui seberapa tinggi hilal pada saat ijtima’  (konjungsi).[4]

Hanya saja kriteria imkan ar-ru’yah belum ada kesepakatan. Kriteria imkan ar-ru’yah ini merupakan kriteria dalam penentuan awal bulan Kamariah, yang  posisinya menjembatani antara hisab dan rukyat. Kriteria ini dipakai oleh pemerintah dalam menentukan awal bulan Kamariah dan muncul dalam penanggalan Hijriah standar yang ditetapkan, berdasarkan Musyawarah Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).[5] Di sisi lain, Persatuan Islam (Persis) juga menggunakan imkan ar-ru’yah dalam penentuan awal bulan Kamariah, setelah sebelumnya Persis memakai kriteria wujudul hilal.

Pemerintah (BHR) lebih menganalisa data-data yang masih sederhana,[6] yang secara ilmiah masih dianggap sebagai analisis yang  relatif benar. Namun berdasarkan data rukyat Kementrian Agama RI selama 30 tahun lebih banyak terdapat laporan kenampakan hilal yang masih tidak memenuhi syarat visibilitas serta kajian ilmiah.

Jika dikaji lebih lanjut teks Al Quran maupun Hadis Rasulullah yang dijadikan dasar penentuan awal bulan Kamariah, terlihat bahwa antara rukyat dan hisab tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan sinergi yang positif untuk keberhasilan dalam menentukan  awal bulan.  Seperti yang terjadi pada tahun 2006, karena perbedaan metode yang dipakai ini menyebabkan adanya perbedaan hasil dalam penentuan kapan awal dan berakhirnya Ramadan. Pemerintah dan NU yang mempunyai pengikut terbesar di Indonesia pada waktu itu belum menentukan kapan jatuhnya tanggal 1 Syawal 1427 H. Sementara Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) menetapkan Idul Fitri 1427 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober. Hal itu didasarkan pada pehitungan Dewan Hisab dan Rukyat yang menyatakan kondisi hilal (tanda pergantian bulan) bisa dilihat bila tinggi hilal mencapai 2 derajat.

Berdasar pada perhitungan Dewan Hisab dan Rukyat, Persis menetapkan Idul Fitri jatuh pada hari Selasa, 24 Oktober 2006. Alasannya, ijtima’ akhir Ramadan terjadi pada hari Ahad pukul 12.14 WIB, tinggi hilal waktu magrib di Pelabuhan Ratu 0 derajat 45 menit 25 detik. Kondisi ini termasuk “adamu imkan al-ru’yah”. Hilal sudah wujud di sebagian wilayah Indonesia dengan kondisi tidak mungkin di rukyat. Kondisi ini dinilai gumma (terhalang) oleh Drs. H. Dody S Truna M.A, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Persis.[7] Penyebab terhalangnya hilal, kata Dody, bisa karena awan, hujan, atau karena tinggi hilal belum mencapai 2 derajat. Atas keputusan itu Pimpinan Pusat Persis mengintruksikan kepada seluruh pimpinan wilayah, pimpinan daerah, pimpinan cabang Persis untuk melaksanakan Idul Fitri 1427 H pada hari selasa, 24 Oktober 2006.

Yang terbaru dalam Almanak Islam Persatuan Islam, melalui hisab telah ditetapkan ijtima’ akhir Syaban 1434 H pada hari senin 8 Juli 2013, pukul 14.14. Di pelabuhan Ratu tinggi hilal waktu maghrib 0°45’58’’ dan jarak sudut bulan 4°34’24’’.  Senin, saat maghrib di wilayah Indonesia hilal belum imkan ar-ru’yah maka bulan Syaban digenapkan 30 hari, maka 1 Ramadan ditetapkan 10 Juli 2013. Namun Pemerintah belum mengumumkan jatuhnya Ramadan, dan menunggu sidang isbat.

Berdasarkan persoalan diatas, disamping implikasi perbedaan penentuan terhadap masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya, maka penulis merasa tertarik untuk mengkaji kriteria imkan ar-ru’yah  menurut Badan Hisab Rukyat (BHR) dan  Persatuan Islam (Persis) dalam penentuan awal bulan Kamariah, serta alasan pemilihan kriteria keduanya. Baca lebih lanjut

Hati dan Kemarahan


Beberapa waktu lalu saya membaca status yang menarik mengenai mengapa dua orang yang sedang marah mengeraskan suaranya. Kedua orang yang sedang marah,  hatinya akan saling menjauh,  jadi ia perlu mengeraskan suaranya supaya apa yang diinginkannya dapat sampai ke orang yang diajak berkomunikasi. Semakin marah,  semakin jauh kedua hati itu,  dan butuh suara yang lebih keras untuk menyampaikan pesan satu ke yang lain.
Sebaliknya,  orang yang saling mencintai hatinya saling mendekat, sehingga bisikan lembut pun sudah bisa menyampaikan pesan. Bahkan terkadang orang yang saling mencintai tidak perlu kata-kata karena hati mereka sudah saling berbicara tanpa perlu suara.
Jadi,  jika seseorang sedang marah ke orang lain jangan sampai terlalu mengeraskan suara, karena hal itu akan semakin menjauhkan hatinya. Jika itu tetap terjadi,  bisa saja kedua hati itu akan semakin jauh dan tidak tahu lagi jalan untuk kembali.
Saat ini, suara keras mungkin terwakili oleh kalimat atau tulisan kasar.
Benarlah pesan Rasulullah: Jangan marah… jangan marah… jangan marah.
2 agustus 2014

Bezuk


Saat saya bezuk orang sakit,  saya gunakan kesempatan itu untuk mendo’akan yang sakit,  menyambung silaturrahmi dan sekaligus sarana koreksi diri.
Orang yang selalu kenyang,  tidak akan pernah merasakan betapa nikmatnya kenyang sampai ia pernah merasakan lapar. Saya jadi teringat kisah Nasrudin Khouja (jangan salah sebut nama,  hati-hati ejaannya ya…hehe) yang diminta mengobati Sang Sultan yang tidak pernah merasakan nikmat saat makan. Sang Sultan sangat heran dan sangat ingin biasa merasakan nikmatnya makan sebagaimana yang dilihatnya saat Nasrudin makan dengan sangat nikmat dan lahap. Singkatnya,  Nasrudin menjadikan sang Sultan kelelahan dan kelaparan,  saat itulah Nasrudin mengajak Sang Sultan makan,  dan saat itu pulalah Sang Sultan merasakan betapa nikmatnya ia makan. Ia bisa merasakan nikmatnya kenyang setelah ia lapar.
Begitu pula orang yang sehat, ia mungkin kurang bisa merasakan begitu nikmatnya sehat, jika ia belum merasakan sakit. Saking tidak perdulinya dengan sehat,  beberapa orang mengkonsumsi barang yang jelas bertentangan dengan kesehatannya,semisal minuman keras,  atau r*k**. Beberapa diantaranya ada yang menerapkan pola hidup yang tidak sehat yang jelas membahayakan kesehatannya. Biasanya,  pola hidup tidak sehat ini baru terasa akibatnya setelah benar-benar merasakan sakit.
Menjenguk orang sakit, sering mengingatkan kita akan hal itu,  tapi jarang yang segera menyadarinya, hampir mirip dengan itu adalah menziarahi makam,  mensholatkan, menguburkan jenazah,  seharusnya mengingatkan kita akan kematian,  tapi banyak yang saat takziyah, menguburkan mayit atau mengiringi jenazah malah tertawa-tawa dan lupa akan kematian,  lupa akan bekal untuk menyambutnya.

30 Agustus 2014